
NUSRAMEDIA.COM — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal), menegaskan bahwa NTB adalah rumah bersama bagi seluruh umat beragama. Baginya, keberagaman bukan sekadar realitas sosial yang harus diterima, melainkan kekuatan utama yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bumi Gora.
Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Kongres XIII Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) di Kabupaten Lombok Utara, Kamis (30/7/2026). Kongres yang dibuka secara resmi oleh Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas, itu dihadiri ratusan kader HIKMAHBUDHI dari berbagai provinsi di Indonesia.
Mengawali sambutannya, Miq Iqbal menyambut hangat seluruh peserta dengan menggambarkan keindahan Pulau Lombok melalui narasi yang memikat.
“Selamat datang di NTB. Dulu ketika Tuhan menciptakan bumi melalui Big Bang, ledakan itu begitu dahsyat hingga surga bergetar. Pecahannya jatuh ke bumi dan itulah Pulau Lombok,” ujarnya yang disambut tepuk tangan para peserta.
Namun menurutnya, pesona alam hanyalah salah satu kekayaan NTB. Nilai yang jauh lebih berharga adalah budaya hidup berdampingan yang telah tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagai kepala daerah, Miq Iqbal menegaskan bahwa kepemimpinannya diperuntukkan bagi seluruh masyarakat NTB tanpa memandang agama, suku, maupun latar belakang.
“Kami tidak pernah menganggap saudara-saudara kami yang Hindu, Buddha, Katolik ataupun agama lainnya sebagai orang lain. Ketika saya mengatakan ‘kita’, maka mereka semua adalah bagian dari kita,” tegasnya.
Ia menilai, toleransi di NTB tidak lahir dari slogan atau seremonial semata, melainkan tumbuh dari budaya masyarakat yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap perbedaan. Pengalaman menghadiri berbagai kegiatan lintas agama, mulai dari pertemuan para pedanda Hindu hingga syukuran pelantikan pastor asli NTB, semakin menguatkan keyakinannya bahwa harmoni di daerah ini dibangun atas dasar saling menghormati.
Miq Iqbal juga mengingatkan bahwa keberagaman di Pulau Lombok memiliki akar sejarah yang panjang. Di NTB hidup masyarakat Sasak yang memeluk Islam, Hindu, maupun Buddha, dan semuanya merupakan bagian dari masyarakat asli Pulau Lombok.
“Di sini ada Sasak Hindu, ada Sasak Buddha. Mereka bukan pendatang, tetapi masyarakat asli yang sejak lama hidup bersama. Bahkan banyak di antara kami masih memiliki hubungan darah meskipun berbeda keyakinan. Itulah kekayaan yang kami rawat bersama,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, Kabupaten Lombok Utara merupakan lokasi yang tepat menjadi tuan rumah Kongres XIII HIKMAHBUDHI. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu wajah keberagaman NTB yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis, dan saling menghargai.
Di hadapan para peserta kongres, Miq Iqbal mengajak generasi muda untuk terus menjaga semangat persatuan sebagaimana diwariskan para pendiri bangsa. Ia menegaskan bahwa keberagaman harus menjadi modal sosial dalam memperkuat pembangunan nasional.
“Kita semua memiliki hak yang sama, tetapi juga memikul tanggung jawab yang sama untuk membangun Indonesia,” katanya.
Ia berharap Kongres XIII HIKMAHBUDHI tidak hanya melahirkan kepengurusan baru, tetapi juga menghasilkan arah pengabdian organisasi yang konkret bagi bangsa.
“Saya berharap kongres ini melahirkan roadmap pengabdian HIKMAHBUDHI bagi Republik Indonesia. Mahasiswa Buddhis memiliki tanggung jawab yang sama untuk ikut membangun bangsa ini,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas, mengapresiasi semangat kebangsaan yang ditunjukkan kader HIKMAHBUDHI. Ia mendorong mahasiswa tetap menjaga idealisme sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai tantangan bangsa melalui penguatan kewirausahaan dan ekonomi produktif.
Ketua Umum HIKMAHBUDHI Indonesia, Candra Aditya Nugraha, mengatakan penyelenggaraan kongres di Kabupaten Lombok Utara menjadi momentum strategis bagi organisasi sekaligus kesempatan memperkenalkan wajah NTB kepada kader HIKMAHBUDHI dari seluruh Indonesia.
Mengusung tema “Bakti HIKMAHBUDHI untuk Negeri”, kongres diharapkan mampu melahirkan arah gerakan organisasi yang semakin memperkuat nilai intelektualitas, nasionalitas, religiusitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Kongres XIII HIKMAHBUDHI, Pemerintah Provinsi NTB kembali menegaskan komitmennya menjaga kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman. Bagi Miq Iqbal, kepemimpinan adalah menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh warga tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang. Dengan semangat itu, NTB terus dirawat sebagai rumah bersama, tempat setiap warga hidup berdampingan, saling menghormati, saling menguatkan, dan bersama-sama membangun Indonesia. (*)













