HEADLINE

Johan Kritisi Rencana Pemerintah Impor Daging Kerbau India

124

NUSRAMEDIA.COM, JAKARTA — Rencana pemerintah pusat mengimpor sekitar 100 ribu ton daging kerbau India untuk memenuhi kebutuhan negeri mendapat tanggapan dari H Johan Rosihan ST-Anggota DPR RI dari Fraksi PKS.

Johan secara tegas mengkritisi hal tersebut. Menurut dia, sampai hari ini India merupakan negara yang belum diakui memiliki zona base untuk bebas PMK (Penyakit Mulut dan Kuku).

Untuk itu lanjut Anggota DPR RI asal Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa tersebut, meminta pemerintah mesti menerapkan prinsip pengurangan resiko melalui penerapan teknis pemasukan daging kerbau impor yang berasal dari negara-negara yang telah dinyatakan sebagai zona bebas PMK.

Baca Juga:  Akun FB Kadisnakertrans NTB Diretas

“Rencana impor daging kerbau dari India adalah kebijakan yang keliru. Karena masih banyak negara-negara lain yang memiliki status bebas PMK oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia,” kata Johan, Sabtu (7/3).

Disarankan Anggota Komisi IV DPR RI itu, pemerintah dalam hal ini tidak boleh gegabah dan harus waspada. Karena saat ini banyak sekali berkembangnya virus penyakit yang sulit dikendalikan.

Oleh sebab itu, pihaknya mendorong pemerintah untuk membatasi pemasukan daging ke Indonesia yakni hanya dari negara dan zona yang sudah dinyatakan bebas PMK.

Baca Juga:  Surat Putus Kontrak Segera Dilayangkan Pemprov ke GTI

Hal ini bertujuan untuk mencegah masuknya penyakit ke Indonesia. Disisi lain, diharapkannya agar pemerintah lebih focus untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Karena pada tahun 2019 kata dia, realisasi produksi daging kerbau hanya mencapai 21.310 ton atau setara 130,98 ribu ekor kerbau.

Lebih lanjut dikatakan politisi PKS yang dikenal cukup vocal itu, untuk mengurangi ketergantungan impor agar pemerintah lebih memihak kepada peternak local dan mengembangkan daerah-daerah yang telah memiliki budaya beternak secara kultural.

Baca Juga:  Putus Kontrak GTI, Masyarakat Gili Trawangan : "Terimakasih Pak Presiden, Pak Menteri dan Pak Gubernur"

Dicontohkan Johan, seperti peternakan di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di NTB sambungnya, potensial stock untuk produksi daging kerbau sebanyak 25.118 ekor.

Kemudian produksi daging sapi dan kerbau sebanyak 1.972 ton, yang saat ini populasi kerbau di NTB sebanyak 124.527 ekor.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, impor daging kerbau tidak berhasil menekan harga daging di dalam negeri dan konsumen ternyata lebih menyukai daging local,” ungkapnya.

“Karena memiliki kualitas yang lebih baik, serta masih segar dari pada daging impor,” demikian Johan Rosihan menambahkan. (red) 

Artikel sebelumyaMasyarakat Diajak Budayakan Busana Berbahan Tenun Khas NTB
Artikel berikutnyaSelain Kuasai Ilmu Agama, Pemuda NTB Diharapkan Jadi Pengusaha