HEADLINE

Pelita Sarankan ITDC Ajak Warga Duduk Bersama

60
Anggota DPRD Provinsi NTB Dapil Lombok Tengah, H Lalu Pelita Putra

LOMBOK TENGAH — Puluhan kepala keluarga yang terisolir di sirkuit Mandalika terud menjadi perhatian berbagai pihak.

Terlebih sebentar lagi NTB akan menjadi tuan rumah ajang bergengsi dunia, yakni gelaran World Superbike (WSBK) dalam waktu dekat.

Ditambah lagi ajang balapan yang paling dinantikan oleh dunia, yaitu gelaran MotoGP pada tahun 2022 mendatang.

H Lalu Pelita Putra sebagai Anggota DPRD NTB asal Dapil Lombok Tengah bagian Selatan angkat bicara. Ia meminta PT ITDC memperhatikan kesejahteraan warga.

Terutama sejumlah warga yang berada di Dusun Ebunut dan Ujung Lauq, Desa Kuta, Kecamatan Pujut yang berada di area sirkuit Mandalika.

Menurut politisi PKB itu, puluhan KK ini siap menyukseskan pembangunan serta gelaran event dunia tersebut. Hanya saja, ia menilai pihak ITDC belum melakukan komunikasi intensif.

Padahal, kata pria yang dikenal ramah dan santun ini, jika diberdayakan warga itu adalah aset pendukung yang menguntungkan pihak PT ITDC.

“Saran saya ITDC harus mengajak warga duduk bareng sebagai keluarga besar. Ini karena warga siap menyukseskan gelaran MotoGP Mandalika,” kata HL Pelita Putra.

“Tapi memang ada komunikasi yang terputus yang perlu diurai lagi agar nyambung,” imbuh pria yang juga sebagai Ketua DPC PKB Lombok Tengah ini.

Penting diketahui, lanjut dia, keberadaan warga di dua dusun tersebut telah turun temurun berada di area tersebut.

Baca Juga:  Peserta SKD CPNS NTB Diminta Percaya dengan Kemampuan Diri

Bahkan, jauh sebelum proyek MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dikerjakan seperti saat ini.

Oleh karenanya, ia menyarankan agar keberadaan mereka yang dinilai juga turut menjaga kawasan tersebut patut diberikan penghargaan.

“Kalaupun kawasan tempat tinggal warga di Ebunut tidak akan dijadikan proyek MotoGP. Tapi, karena lokasi mereka berada di kawasan, alangkah indahnya untuk dilakukan penataan,” kata Pelita.

“Sehingga, ada kebanggaan warga memiliki tanah kelahirannya, Inilah sub sistem yang saling mendukung itu,” tambahnya.

Menurut dia, penataan Dusun Ebunut dan Ujung Lauq di Desa Kuta juga bisa dilakukan dengan menjadikan pemukiman warga.

Yaitu sebagai homestay yang representatif bagi wisatawan yang akan menonton event balapan dunia tersebut.

Hal itu menyusul, para wisatawan yang menonton balapan MotoGP, tidak semuanya memiliki kantong tebal untuk bisa menginap di hotel berbintang di kawasan KEK Mandalika.

“Maka dari itu, pilihan dengan memberdayakan potensi masyarakat Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq dengan mendirikan homestay pilihan yang memanusiakan warga,” katanya.

“Harapannya, penataan kawasan tanpa menggusur rakyat menjadi solusi menjadikan warga setempat sebagai sub sistem pendukung suksesnya gelaran MotoGP Mandalika tahun 2022 akan bisa terwujud kedepannya,” tambahnya lagi.

Baca Juga:  Hazmi Hamzar : Rantai Sabuk Pengamanan NTB Harus Kuat!

Sebelumya, perwakilan warga Dusun Ebunut, Desa Kuta, Kecamatan Pujut menemui Gubernur NTB membahas solusi pembebasan lahan hingga akses jalan keluar masuk warga yang terisolir di sirkuit.

Pada pertemuan yang dihadiri Polda NTB, Kapolres Lombok Tengah AKBP Hery Indra Cahyono, Sekda NTB Lalu Gita Ariadi, Kepala Bakesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid, dan tokoh masyarakat setempat.

Sayangnya, belum ada solusi konkret terkait nasib mereka. Dimana, terowongan atau tunnel 2 sirkuit menjadi satu-satunya akses jalan sampai saat ini.

Karena, terowongan tersebut kerap digenangi air. Bahkan jika mesin pompa terowongan mati, air akan naik dengan volume yang cukup tinggi.

Sibawaih seorang warga Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mengatakan, solusi akses jalan sudah disiapkan melalui tunnel atau terowongan.

Tetapi terowongan yang disiapkan belum layak dilalui sehingga warga terisolir. “Saya juga terisolir,” katanya.

“Karena saya berada di bibir pantai dan harus melalui sirkuit itu sendiri,” katanya, usai bertemu gubernur beberapa waktu lalu.

Jumlah warga yang masih terisolasi di dalam lintasan sirkuit lebih dari 50 KK. Disamping itu juga ada warga yang diluar lingkaran lintasan.

Dari Dusun Ebunut dan Dusun Ujung Lauq, Desa Kuta, sehingga ada sekitar 84 KK yang masih bertahan.

Baca Juga:  Satgas Terjunkan Tim Fokus Lakukan Perbaikan Data Tata Kelola Aset di Gili Trawangan

Kemudian, Damar seorang warga Dusun Ebunut mengatakan, mereka yang masih tinggal di dalam sirkuit dibuatkan akses jalan yakni di terowongan atau tunnel 2.

“Untuk saat ini, mau tidak mau kita harus melewati terowongan seperti biasa, tapi yang jelas pemerintah akan mendorong agar ITDC memperhatikan itu agar tidak tergenang air,” katanya.

Sebab jika mesin pompa terowongan tersebut mati, terowongan tersebut akan tergenang air. “Kalau mesinnya mati otomatis airnya naik,” ucapnya.

Kalau air naik, truk atau tronton pun tidak bisa melintasi terowongan tersebut. “Airnya cukup tinggi,” sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, warga tidak bisa melintasi terowongan. Sampai akhirnya warga menjebol pagar besi pembatas sirkuit sebagai akses masuk. “Opsi kami terakhir ya menjebol pagar besi yang dibangun pihak pengembang,” katanya.

Atas persoalan itu, warga sudah mendatangi kantor PT ITDC, mereka sanggup akan mengeringkan. “Syukur beberapa hari ini, tiga hari ini sudah bisa dilewati,” katanya.

Karena itulah warga datang ke kantor gubernur NTB, tujuan utamanya karena rasa keprihatinan sesama masyarakat.

Terutama yang terisolir di dalam sirkuit. “Karena kalau musim hujan itu otomatis banjir,” imbuhnya sembari nenegaskan, posisi lahan tersebut sudah jauh lebih rendah dari Sirkuit Mandalika. (red) 

Artikel sebelumyaIbu Garda Terdepan Bentuk Generasi Penerus Anti Korupsi
Artikel berikutnyaSiap Didukung Penuh, ABDI untuk Sumbawa