HUKRIM

Kuasa Hukum, Keluarga, Sahabat Hingga Relawan Bang Zul Desak APH Segera Bersikap

Kuasa hukum, keluarga hingga Tim Relawan Sahabat Bang Zul (Dr. H. Zulkieflimansyah-Gubernur Nusa Tenggara Barat Periode 2018-2023) ramai mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Kamis (02/05/2024). (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Kuasa hukum, keluarga hingga Tim Relawan Sahabat Bang Zul (Dr. H. Zulkieflimansyah-Gubernur Nusa Tenggara Barat Periode 2018-2023) ramai mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Kamis (02/05/2024).

Kedatangan mereka untuk mengikuti secara langsung berjalannya sidang perkara dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik (Kasus ITE) Bang Zul melalui media sosial Facebook (FB) dengan terdakwa Junaidin alias Joni.

Hanya saja, sidang harus ditunda. Pasalnya, Junaidin alias Joni yang tak lain adalah pemilik akun FB “Pimred Pusaranntb” itu tiba-tiba mangkir tanpa kabar saat agenda sidang pemeriksaan dirinya sebagai terdakwa.

Hal ini pun disesalkan oleh berbagai pihak. Tak hanya pihak pengacara Bang Zul, namun juga dari pihak keluarga bahkan para sahabat dan relawan Bang Zul. Mereka mengaku keberatan dengan postingan Junaidin alias Joni.

Karena menurut mereka, apa yang ditudingkan kepada mantan Gubernur NTB sekaligus anggota DPR RI tiga periode tersebut dinilai sangat tidak berdasar. Terlebih diduga telah melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik Bang Zul melalui postingan FB atas nama Pimred Pusaranntb itu.

“Kami dari keluarga sekaligus relawan bang zul menyampaikan kami keberatan dengan postingan yang dilakukan saudara Junaidin alias Joni,” tegas Muhammad Wahyudiansyah, SH selaku Kuasa Hukum sekaligus keluarga Bang Zul kepada wartawan, kemarin.

“Kami berharap APH (Aparat Penegak Hukum) yang ada di NTB polisi maupun kejaksaan untuk segera menahan (mengamankan) Junaidin. Karena kami khawatir nanti ada pergerakkan dari kami, keluarga dan relawan bang zul,” imbuhnya.

Salah seorang relawan sekaligus keluarga Bang Zul lainnya yakni Bulyadi Bori juga menegaskan bahwa kehadiran pihaknya bersama lainnya di PN Mataram dalam rangka memastikan proses hukum berjalan sesuai koridor.

“Kami siang ini (kemarin) hadir di Pengadilan Negeri Mataram dalam rangka untuk memastikan bahwa saudara Junaidin itu telah nyata-nyata berpotensi membuat inkondusifitas daerah, khususnya di NTB ini,” sesalnya.

“Terkait dengan (dugaan) pencemaran nama baik seorang figur, yang mana kita ketahui bersama adalah suri tauladan bagi kita semua. Kami khususu datang dari Pulau Sumbawa untuk memastikan hukum itu ditegakkan sebaik-baiknya,” katanya lagi.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya mendorong pihak APH agar segera bersikap. “Tolong segera saudara Junaidin itu ditangkap ditahan segera. Agar apa, proses penegakkan hukum ini berjalan sesuai koridor,” tegas Bori.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Tim Relawan Sahabat Bang Zul, Muhammad Rais. Pihaknya berharap agar Junaidin alias Joni segera mungkin diamankan. “Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dan kami berharap, proses hukum harus tegak lurus tidak pandang bulu,” pungkasnya.

DIHARAP SEGERA MENGAMANKAN TERDAKWA

Sebelumnya, Pengacara Dr. H. Zulkieflimansyah (Bang Zul) yakni Muhammad Wahyudiansyah, SH mengungkapkan bahwa pihaknya telah menanti sidang sejak pagi hari. Namun hingga sore hari kemarin, terdakwa tidak juga hadir.

Bahkan, diungkapkan Wahyu kerap pengacara itu disapa, bahwa jaksa penuntut sempat menghubungi terdakwa namun tidak digubris. “Dari pagi nunggu, kita pingin tahu keterangan dia di pengadilan. Jaksa WA dia, tapi tidak direspon. Hanya di read doang,” ujarnya.

Terdakwa belakangan beralasan mengantar anaknya ke Sumbawa. Karena tidak hadirnya terdakwa, sidang ditunda hingga 13 Mei 2024 mendatang. Wahyu berharap agar pihak jaksa segera mengamankan terdakwa karena terbukti tidak kooperatif.

“Kami berharap segera diamankan saudar Junaidin karena dia tidak kooperatif. Hakim sudah menetapkan jadwal sidang harusnya dia tunduk,” tegas Muhammad Wahyudiansyah didampingi keluarga dan para relawan Bang Zul.

BERAWAL DARI BISIKAN GAIB

Terdakwa Joni melalui postingan Facebook (FB) nya diduga mencaci maki Gubernur NTB Periode 2018-2023, Dr. H. Zulkieflimansyah. Dia menuding Bang Zul berselingkuh dengan istrinya. Padahal baik Bang Zul maupun istri Joni sendiri tidak saling mengenal.

Uniknya, Joni dikabarkan mendapat kabar dugaan perselingkuhan itu dari “bisikan gaib” saat berziarah ke makam ibunya. “Kalau dia membuat posting ada bukti silahkan, inikan enggak ada. Dia dengar ‘bisikan gaib’, waktu di makam ibunya,” bebernya.

KALAU MINTA MAAF, KITA MAAFKAN

Pengacara Zulkieflimansyah juga menegaskan, bahwa Bang Zul akan memaafkan terdakwa jika ia meminta maaf. Hanya saja, hingga sejauh ini, ungkap Wahyu, yang bersangkitan tidak meminta maaf.

“Bang Zul pemaaf tidak mau bikin ribut. Kalau dia (Junaidin alias Joni) minta maaf dan tidak mengulangi lagi, akan dimaafkan. Dan proses kita hentikan, tapi dia sendiri tidak mau minta maaf,” kata Wahyu.

Joni masih bersikukuh dengan tuduhannya  meskipun tidak ada satupun bukti yang membenarkan tuduhannya tersebut. Bahkan dia sebelumnya menyuruh pihak kepolisian yang membuktikan.

Pengacara juga mengingatkan kepada pihak-pihak yang memanfaatkan kasus tersebut dengan “menggoreng” kasus yang murni ITE ini dengan menonjolkan isu tuduhan perselingkuhan.

“Kita mengingatkan kepada oknum-oknum yang menggoreng kasus ini. Seakan-akan membawa isu perselingkuhan padahal murni ITE,” demikian Muhammad Wahyudiansyah.

Untuk diketahui, sebelumnya pada Rabu 24 April 2024 lalu, Pengadilan Negeri (PN) Mataram juga tengah menggelar sidang perkara dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik mantan Gubernur NTB tersebut.

Dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan yang dilanjutkan pemeriksaan saksi tersebut, hadir mantan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah sebagai saksi perdana dihadapan majelis hakim yang dipimpin Isrin Surya Kurniasih.

Dalam perkara ini, jaksa penuntut umum mendakwa Junaidin alias Joni dengan Pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Jaksa menerapkan dakwaan demikian dengan menyampaikan bahwa terdakwa Joni telah mengunggah postingan yang mengandung makna penghinaan, penyebaran hoax, fitnah, dan pencemaran nama baik secara berlanjut terhadap Bang Zul melalui akun Facebook bernama “Pimred Pusaranntb”. (red)