KESEHATAN

Kadikes NTB Tegaskan Tak Ada Rumah Sakit atau Dokter Sengaja COVID19kan Pasien

97

MATARAM — Secara tegas, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri menepis hembusan kabar bahwa dokter atau rumah sakit sengaja mengcovidkan pasiennya. “Saya tegaskan tidak ada rumah sakit (RS) atau dokter dan tenaga kesehatan mengcovidkan pasien. Tidak ada itu,” tegasnya kepada awak media di Mataram.

Penegasan yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan NTB ini, menyikapi isu yang berkembang ditengah masyarakat. Dimana dokter maupun rumah sakit sengaja memvonis pasien positif COVID19 demi meraup keuntungan anggaran corona dari pemerintah.

Meski demikian, mantan Direktur RSUD NTB itu tak menampik bahwa berkaitan dengan angka pasien COVID19 di NTB terus meningkat. Terlebih, pihak rumah sakit maupun dokter tidak ingin pasien COVID19 terus bertambah. Bahkan, para nakespun sangat berharap jumlah pasien tidak bertambah terus.

“Justru kami tidak ingin rumah sakit itu penuh, bahkan kita para nakes berdoa agar jumlah pasien ini tidak terus bertambah,” kata Hamzi Fikri. “Keinginan kita 2 tahun terakhir sama, bagaimana keluar dari pandemi COVID19,” tambahnya lagi.

Baca Juga:  Ditargetkan 41 Ribu Vaksin Perhari untuk Lombok Tengah

Terpenting saat ini, menurutnya, bagaimana masyarakat mengikuti anjuran untuk disiplin menerapkan prokes. Sehingga bisa menekan laju penyebaran COVID19. “Kerjasama semua pihak dibutuhkan, terutama dari hulu bagaimana kita sama-sama menerapkan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran COVID19,” katanya.

Sebelumnya viral di sosial media, seorang warga memarahi perawat Puskesmas Janapria, Lombok Tengah, Sabtu (24/7) lalu. Karena menolak dilakukan rujukan medis dari orang tuanya yang diagnosis terpapar COVID19 menuju RSUD Praya untuk mendapatkan penanganan secara khusus.

Kapolsek Janapria, Iptu H Muhdar bersama beberapa anggota yang hadir di Puskemas Janapria menenangkan warga yang menolak hasil swab dan rujukan ke RSUD Praya tersebut.

Baca Juga:  Pemprov NTB dan Pemkot Mataram Terima Bantuan Oksigen Concentrator

“Warga yang terpapar tersebut inisial K (69) asal desa Prako Janapria. Pasien masuk Puskemas untuk berobat pada Sabtu kemarin karena mengalami keluhan demam selama 4 hari, mencret mual, muntah dan batuk,” jelas H Muhdar, Minggu malam (25/7) lalu.

Setelah dilakukan penanganan Medis dan Swab antigen, pasien tersebut terkonfirmasi positif COVID19. Beberapa saat kemudian datang anak kandung dari pasien, inisial Khairul Fikri. Ia datang dengan marah-marah kepada dokter atau perawat di Puskesmas.

“Khairul Fikri menunjukkan sikap penolakan serta menyimpulkan bahwa hasil periksa kedokteran di Puskesmas Janapria tidak bisa dipercaya dan terkesan di buat-buat atau terlalu cepat memvonis pasien menjadi terpapar COVID-19,” terangnya.

Diceritakan, saat itu penanggung jawab medis di Puskemas Janapria yakni dr. Putu telah menjelaskan bahwa tindakan kedokteran sudah akurat. Hal itu berdasarkan petunjuk medis dan alat yang digunakan oleh pemerintah dan pekerjaaan ini bertaruh dengan jabatan maupun profesi kedokteran.

Baca Juga:  Suka Duka Petugas Vaksinator Menembus Medan Sulit di Lombok Tengah

“dr. Putu menjelaskan kepada warga tersebut bahwa pasien yang terindikasi terpapar COVID-19 yang memiliki penyakit bawaan diharapkan untuk ditangani di ruang khusus dan penanganan secara khusus, sedangkan OTG dapat menjalani Isolasi Mandiri di rumah,” ungkapnya.

Melihat arogansi warga tersebut, pihaknya mencoba menetralisir situasi serta menenangkan warga yang menolak orangtuanya untuk dirujuk ke RSUD Praya. “Lantaran keluarga pasien menolak rujukan, akhirnya Puskesmas Janapria memberikan surat penolakan tindakan medis yang ditanda tangani oleh yang bersangkutan dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap resiko yang akan dialami pasien ataupun lingkungan,” tutup Kapolsek. (red) 

Artikel sebelumyaWagub : “Tugas Bersama Kita Memutus Matarantai COVID19”
Artikel berikutnyaBang Zul : “Gili Trawangan Untuk Kesejahteraan Masyarakat”