PARIWISATA

Dispar NTB Gelar Pelatihan Mitigasi Bencana di Lombok Utara

74

NUSRAMEDIA.COM — Senaru adalah Desa Wisata yanh terletak di Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini berkesempatan menjadi tempat penyelenggaraan pelatihan yang bertajuk “Mitigasi Bencana”. Kegiatan itu diinisiasi oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Nusa Tenggara Barat selama dua hari yakni terhitung dari tanggal 22 sampai dengan 23 Oktober 2021 esok.

Terpilihnya Senaru sebagai lokasi dari pelatihan mitigasi bencana ini, menurut Kabid Destinasi Pariwisata, Ahlul Wakti, dikarenakan Senaru yang merupakan salah satu pintu pendakian Rinjani yang dikunjungi banyak pendaki. Dalam sambutannya saat membuka acara tersebut, Ahlul Wakti berharap dengan adanya pelatihan mitigasi bencana ini desa-desa wisata memiliki kemampuan mitigasi dan adaptasi bencana.

Menurut dia, bahwa pelatihan ini juga dimaksudkan untuk mempersiapkan NTB demi menyambut event-event internasional dari sisi mitigasi bencana. Pada hari pertama pelatihan yaitu Jum’at (22/10) kemarin, desa wisata mendapatkan pelatihan mitigasi bencana dengan menghadirkan BMKG dan BPBD sebagai narasumbernya.

Baca Juga:  Semua Pihak Diajak Berkolaborasi Bangkitkan Pariwisata NTB

Disesi pertama, dalam materinya, Yudhit Adiyatma selaku Perwakilan BMKG menyampaikan beberapa hal seperti manajemen resiko dan bencana, adanya info khusus pariwisata, serta info sebaran titik panas. Nantinya informasi harian maupun mingguan terkait informasi cuaca, suhu, curah hujan, dan sebagainya akan diperbarui setiap senin dan kamis melalui grup WhatsApp oleh BMKG.

Kembali dikatakan Kabid Destinasi Dispar NTB yang juga selaku moderator mengharapkan BMKG bisa memberikan informasi untuk diletakkan di Tourist Information Center nantinya termasuk di pintu2 pendakian. “Sehingga nanti ketika wisatawan hendak melakukan pendakian dan travellling destinasi-destinasi wisata, bisa merasa aman dan nyaman,” harapnya.

Disesi kedua, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) yang diwakili oleh Kabid Penanggulangan Bencana BPBD NTB, Mustakim menyampaikan materi terkait Regulasi dan Tantangan dalam Melaksanakan Mitigasi Bencana dan Pengelolaan Krisis Kepariwisataan Akibat Bencana.

Baca Juga:  Semua Pihak Diajak Berkolaborasi Bangkitkan Pariwisata NTB

Menyadari akan NTB yang rawan bencana seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami, Kabid Penanggulangan Bencana BPBD NTB ini menekankan upaya antisipasi dengan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan dasar kebencanaan penting.

Berkaca pada bagaimana Jepang dalam menanggapi bencana, dalam pemaparannya, Mustakim menyampaikan bahwa kita bisa menunjukkan upaya serupa, misalnya dengan memiliki bangunan tahan gempa. Mustakim menilai bahwa pariwisata sangat membutuhkan informasi seperti ini untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan.

Karena itu, Mustakim percaya dengan narasi Desa Tangguh Bencana, desa akan memiliki nilai lebih. “Bagaimana menjadikan desa tangguh bencana, hal ini yang (kemudian) dapat dijual,” paparnya. Karena itu, Mustakim menegaskan akan pentingnya kesadaran akan ancaman bencana dan tentu cara untuk mencegahnya. Sesi kedua ini ditutup dengan diskusi bersama peserta yang hadir.

Kepala Dinas Pariwisata prov NTB, Yusron Hadi yang baru tiba di lokasi pelatihan sore kemarin bisa bertatap muka dengan seluruh peserta pelatihan sembari makan malam bersama dilanjutkan dengan silaturrahmi dan dialog. Ditegaskannya, pelatihan Ini urgent dilakukan untuk meningkatkan pemahaman, kemampuan dan keahlian pengelola desa wisata untuk mitigasi dan adaptasi bencana di tiap desa wisata.

Baca Juga:  Semua Pihak Diajak Berkolaborasi Bangkitkan Pariwisata NTB

Desa-Desa wisata hendaknya, kata Yusron, memiliki SOP penanggulangan maupun penanganan bencana maupun menetapkan jalur-jalur evakuasi serta meeting point. Dalam sesi dialog mengemukakan berbagai hal mulai dari konsep pengembangan desa wisata, upaya penguatan kelembagaan pengelola, dukungan saran prasarana dan sebagainya.

Semua kebutuhan itu harus dipenuhi bersama-sama oleh semua pihak. Kerjasama pentahelix menjadi modal utama keberhasilan sebuah desa wisata. Harus dihindari konflik antar pelaku maupun pengelola desa wisata jangan sampai terjadi karena ini hambatan kemajuan. Besok (hari ini) pelatihan akan dilanjutkan dan sesi akhir akan dilaksanakan praktik lapangan di lokasi destinasi wisata setempat. (red) 

Artikel sebelumyaPemkab Sumbawa Siap Sambut Atlet PON XX Berprestasi
Artikel berikutnyaPemkab Sumbawa Terus Geber Vaksinasi