HEADLINE

Soal IPKM-Buta Aksara NTB, antara Alhamdulillah dan Astagfirullah

339

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM – Pencapaian baik (Alhamdulillah) dan cukup memprihatinkan (Astagfirullah) menjadi warna di NTB saat ini. Terutama soal Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dan Angka Buta Aksara NTB.

Kendati demikian, menykapi semua ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dibawah kepemimpinan Gubernur H Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalilah terus berupaya melakukan yang terbaik.

Untuk IPKM NTB kabar baiknya mengalami peningkatan dibandingkan 5 tahun 2013 lalu. Hal itu berdasarkan data resmi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada Juli 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi menyampaikan, IPKM Provinsi NTB mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal itu tentu saja kabar baik. Apalagi kabupaten/kota di NTB juga memiliki IPKM yang bisa dibanggakan. “IPKM kita naik dari urutan 19 di tahun 2013 menjadi urutan 11 sekarang,” kata Eka, Senin (29/7) lalu.

Provinsi Bali menjadi daerah dengan IPKM tertinggi. Sedangkan IPKM terendah diraih oleh Provinsi Papua. Data yang digunakan untuk menyusun IPKM yakni Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Potensi Desa (Podes) 2018, dan Susenas Maret 2018 terintegrasi Riskesdas 2018. “Untuk kabupaten/kota, posisinya ada yang naik dan turun,” ujarnya.

IPKM Provinsi NTB mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 0,5236 pada tahun 2013 menjadi 0,6190 saat ini. Dimana nilai Sub Indeks tertinggi adalah penyakit menular dengan skor 0,8890 dan yang terendah adalah pelayanan kesehatan 0,4574.

Sebagian besar sub indeks mengalami peningkatan. Namun peningkatan tertinggi pada sub indeks kesehatan lingkungan. Itu artinya terjadi kondisi membaik pada indikator penyusun sub indeks kesehatan lingkungan.

Baca Juga:  RSUD NTB Jadi RS Rujukan Tangani Pebalap World Superbike yang Alami Kecelakaan

Peningkatan yang cukup bermakna juga terlihat pada sub indeks penyakit menular, perilaku, dan kesehatan reproduksi. Satu sub indeks yang mengalami penurunan yaitu sub indeks penyakit tidak menular. Dimana, terjadi kondisi yang memburuk pada indikator penyusun sub indeks penyakit tidak menular.

Meskipun mengalami peningkatan, namun yang masih harus menjadi perhatian yakni nilai IPKM Provinsi NTB mendekati nilai minimal. Hal ini menunjukkan masih banyak kabupaten/kota yang nilainya pada kelompok minimal. “Ada beberapa pergeseran di urutan kabupaten/kota. Kota Mataram turun ke urutan kedua, diganti oleh kabupaten Sumbawa Barat sebagai peringkat satu,” jelas Eka.

Kabupaten Lombok Timur menjadi terendah di Provinsi NTB dengan skor IPKM 0,5914. Kemudian kabupaten Bima dengan skor 0,6006. “Lombok Timur turun dari peringkat 8 di NTB pada tahun 2013, menjadi peringkat 10 atau terakhir sekarang,” tutur Kadikes NTB.

IPKM tertinggi yaitu KSB memiliki skor 0,6964, meningkat dari sebelumnya pada urutan ketiga di NTB. Selanjutnya urutan kedua Kota Mataram dengan skor 0,6724, diikuti Kabupaten Lombok Utara (KLU) dengan skor 0,6436. Kemudian urutan berikutnya kita Bima, Lombok Barat, Sumbawa, Lombok Tengah, Dompu, kabupaten Bima dan barulah terakhir Lombok Timur.

Untuk skala nasional, kabupaten/kota mengalami lonjakan peringkat yang cukup baik. “Dalam urutan di tingkat nasional terjadi lonjakan prestasi kabupan/kota di NTB. Karena KSB menduduki posisi 6 nasional, sebelumnya kabupaten/kota NTB hanya menduduki peringkat 20-an,” ucap Eka.

Meskipun IPKM Provinsi NTB sudah membaik, bukan berarti kasus gizi buruk sudah tidak ada lagi. Namun gizi buruk bisa diminimalisir. “Kasus gizi buruk tetap ada. Ini yang kita turunkan melalui gerakan konvergensi penurunan stunting secara menyeluruh,” demikian Nurhandini Eka Dewi.

Baca Juga:  Program Zul-Rohmi Dinilai Luar Biasa

ANGKA BUTA AKSARA CUKUP MEMPRIHATINKAN

Angka Buta Aksara di NTB masih terbilang cukup memprihatinkan. Pasalnya angka buta aksara masih cukup tinggi yaitu berada diposisi tertinggi kedua di Indonesia. Jauh sebelumnya, Pemerintah Provinsi NTB diera pemerintahan periode pertama TGB M Zainul Majdi, pernah menggalakkan program Angka Buta Aksara Nol (Absanol). Namun masih saja angka buta aksara tinggi di NTB.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Suntono mengatakan, tidak mudah memberantas angka buta aksara. Bahkan jika saat ini masyarakat yang buta aksara dididik kembali, suatu saat nanti akan kembali buta aksara lagi. “Walaupun sudah dientaskan, tapi orang tua rawan kembali buta aksara,” ungkapnya.

Berdasarkan data BPS, angka buta aksara atau buta huruf di Provinsi NTB mencapai 12,58 persen untuk usia di atas 15 tahun. Usia 15 sampai 44 tahun sebanyak 2,72 persen dan usia di atas 45 tahun sebanyak 32,72 persen.

Data buta aksara usia 15 tahun ke atas, Provinsi NTB menduduki posisi kedua tertinggi setelah Papua yang mencapai 23,21 persen. Namun untuk usia 45 tahun ke atas, angka buta aksara di NTB tertinggi se-Indonesia sebanyak 32,72 persen. Sementara Papua sendiri hanya 29,02 persen. “Angka buta aksara di NTB umumnya berusia 50 tahun ke atas,” ungkap Suntono.

Baca Juga:  Apresiasi Upaya Bang Zul Tuntaskan Berbagai Persoalan

Kemudian, data BPS juga menunjukkan tidak adanya progres penurunan angka buta aksara secara signifikan sejak tahun 2011 lalu. Hal itu berbeda dengan daerah-daerah lain yang cukup mampu menurunkan angka buta aksara.

Pada tahun 2011, angka buta aksara usia 15 tahun ke atas sebesar 17,35 persen dan usia 45 tahun ke atas 42,55 persen. Untuk usia 15 tahun ke atas, pada 2012 menurun menjadi 17,08 persen.

Berikutnya tahun 2013 menjadi 15,33 persen, tahun 2014 menjadi 13,04 persen, tahun 2015 menjadi 13,03 persen, tahun 2016 menjadi 12,94 persen, 2017 menjadi 12,86 persen dan tahun 2018 lalu menjadi 12,58 persen. “Persentase 12,58 persen, tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan penduduk NTB,” kata Suntono.

Tingkat pendidikan masyarakat NTB, sebagian besar hanya sampai Sekolah Dasar (SD). Berdasarkan data BPS, sebanyak 51,01 persen penduduk Provinsi NTB berpendidikan SD ke bawah. Kemudian 18,77 persen berpendidikan SMP, dan 30,22 persen yang berpendidikan SMA ke atas.

Penduduk NTB berumur 15 tahun ke atas yang tidak dapat membaca maupun menulis huruf, terbanyak berada di Kabupaten Lombok Tengah sebesar 18,58 persen. Perempuan lebih banyak yang tidak bisa membaca dibandingkan laki-laki. Sedangkan angka buta huruf terendah ada di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebesar 4,97 persen.

Menurut Suntono, cukup sulit menurunkan angka buta aksara. Pasalnya, tidak mungkin orangtua akan dimasukkan ke sekolah lagi. “Kalau usia segitu mau diapain, masuk sekolah sudah tidak mungkin lagi kan,” demikian. (Tim)

Artikel sebelumyaMasya Allah, Indahnya Danau Biru di Lembah Syurga!
Artikel berikutnyaBupati Ingatkan Pentingnya PKRT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here