PENDIDIKAN

Memperihatinkan, Angka Putus Sekolah di NTB Mencapai 2.313

48
Kepala Dinas Dikbud Provinsi NTB, Aidy Furqon

NUSRAMEDIA.COM — Angka putus sekolah siswa/i SMA/SMK dilingkup Provinsi Nusa Tenggara Barat nampaknya cukup memperihatinkan. Betapa tidak, jumlahnya bukan main yaitu mencapai ribuan orang.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB Aidy Furqon, berdasarkan data hingga November 2021 ini, angka putus sekolah di NTB mencapai 2.313 orang.

“Data kita sampai hari ini, angka putus sekolah, baik itu sekolah negeri dan swasta ada sekitar 2.313 orang,” kata Kadis Dikbud NTB, Selasa (16/11) di Mataram.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab putus sekolahnya siswa SMA/SMK di NTB. Pertama, kata dia, memilih bekerja membantu ekonomi keluarga.

Baca Juga:  Dukung Pariwisata NTB, Poltekpar Lombok Sasar Lima Lokasi

Kemudian, lanjut Aidy Furqon, lantaran menikah hingga sakit fisik. “Penyebabnya ada macam-macam, seperti bekerja, menikah dan sakit. Umumnya alasan ekonomi,” katanya.

Dari angka tersebut, jumlah putus sekolah yang paling banyak berada di Pulau Lombok. Baru kemudian di Pulau Sumbawa. “Tersebar di Kabupaten/Kota di NTB ini,” ungkap Aidy Furqon.

Untuk membantu agar bisa melanjutkan sekolah dan mendapatkan ijazah, Kadis Dikbud menegaskan, pihaknya telah membuka 17 sekolah terbuka. Sekolah ini, kata dia, lokasinya tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Baca Juga:  Bang Zul : "Investasi Dunia Pendidikan"

Hanya saja untuk mengikuti proses kegiatan belajar mengajar ini, tegas Aidy Furqon, siswa bersangkutan harus mendaftarkan dirinya. “Untuk bisa mengikuti sekolah terbuka ini mereka harus mendaftar,” ucapnya.

Hingga sejauh ini, disebutkannya ada sekitar 1.581 orang sudah mendaftar. Sedangkan sekitar 700 orang belum mendaftarkan dirinya. “Untuk yang belum ini kita upayakan untuk ikut belajar,” katanya.

“Kenapa?, supaya mereka bisa mendapatkan ijazah. Karena sekolah ini tidak masuk setiap hari, tapi dua kali dalam satu minggu dan itu bebas boleh pakai sarung terpenting rapi,” imbuhnya.

Baca Juga:  Layanan Mobil Perpustakaan Keliling Dimaksimalkan

Sementara, untuk pembelajarannya sendiri, lanjut Aidy Furqon dilaksanakan dua kali dalam satu Minggu dengan waktu belajar selama 3 tahun. Untuk itu pihaknya berharap mereka yang putus sekolah tersebut untuk bisa melanjutkan sekolah sehingga bisa mendapatkan ijazah.

“Jadi belajarnya tidak di sekolah, melainkan gurunya yang mendatangi para murid. Mereka datang ke sekolah itu pas ujian saja dan seluruh anggarannya dibiayai melalui dana BOS bukan dari dana APBD,” katanya. (red) 

Artikel sebelumyaMisbach : Ini Sejarah, Harus Didukung dan Disukseskan Bersama!
Artikel berikutnyaPKB Bidik Kursi Pimpinan DPRD NTB