PERISTIWA

“Malala” Ramaikan Peringatan 1 Muharam di Sumbawa

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Sebanyak 48 sandro bersama asistennya dari 24 kecamatan se Kabupaten Sumbawa, adu keahlian dalam meracik obat tradisional (melala) pada Parade Prosesi Malala. Kegiatan yang digelar di Lapangan Pahlawan ini dilaksanakan bertepatan dengan Malam I Muharram 1441 H / 2019 M, Sabtu (31/8).

Dari pantauan wartawan, kegiatan ritual yang dilaksanakan setiap tahunnya ini, mendapat perhatian ratusan masyarakat karena diyakini obat racikan (melala) itu berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bukan hanya menyaksikan tapi warga rela berdesak-desakan dan berlomba untuk mendapatkan sedikit minyak yang dibagikan secara gratis oleh para ahli spritual (sandro).

Adapun nama-nama minyak sumbawa tersebut diantaranya yaitu Minyak Rompas, Pegar Galegar Kecamatan Moyo Utara, Minyak Teman Tampir Kecamatan Lunyuk, Minyak Tungka Darah Kecamatan Lenangguar, Minyak Mayung Nange Kecamatan Moyo Hilir, Minyak Pero Alam Kecamatan Orong Telu, Minyak Medo Kecamatan Utan, Minyak Sajojo Urat Kecamatan Unter Iwes, Minyak Lonto Keal Diri Kecamatan Ropang, Minyak Ampo Hajat Kecamatan Plampang, Minyak Pasak Bumi Kecamatan Lape, Minyak Noo Bosan Kecamatan Alas.

Kemudian Minyak Basa Tegeng Kecamatan Labangka, Minyak Tambah Daya Kecamatan Lantung, Minyak Sanyaman Parana Kecamatan Rhee, Minyak Silu Ngering Kecamatan Alas Barat, Minyak Ampin Kakak Kecamatan Tarano, Minyak Coba Kadu Kecamatan Sumbawa, Minyak Salopas Urat Kecamatan Batu Lanteh, Minyak Saga Loka Kecamatan Moyo Hulu, Minyak Bija-Bija Tempako Kecamatan Buer, Minyak Sanyaman Ate Kecamatan Lopok, Minyak Sarat Babas Kecamatan Empang, Minyak Susung Aris Kecamatan Labuhan Badas, Minyak Sangengat Kecamatan Maronge.

Berdasarkan informasi Bustanul Arifin, Sandro asal Kecamatan Moyo Hilir dengan minyak Mayung Nange, menjelaskan khasiat minyaknya untuk meningkatkan vitalitas pria, menjaga stamina dan melancarkan peredaran darah. Bahan-bahan yang digunakan, tanuk mayung numpu, merica, cabe rawit, madu, sarang burung wallet, telur ayam kampung, jahe, dan kayu 27 macam. Proses pembuatannya diracik sedemikian rupa memakan waktu sekitar 2 jam.

Diungkapkannya, Pembuatan minyak Mayung Nange ini turun temurun dari kakeknya yang diteruskannya. Bahannya seperti tanduk rusa merupakan peninggalan kakeknya “panising”. Sedangkan bahan lain seperti puluhan jenis kayu didapatkan dari gunung. Adapun minyak ini dibuat tidak untuk dijual, tetapi untuk membantu orang lain.

“Kami tidak pernah jual minyak ini. Niat paling utama kita membantu orang. Kebetulan juga minyak ini dari dulu, setiap orang yang belum punya keturunan, atas kehendak tuhan kita cuma melaksanakan, jarang yang tidak berhasil,” terangnya yang didampingi Asisten Sandro Zaifuddin Zuhri.

Pihaknya sangat mengapresiasi dan puas dengan pelaksanaan Parade Prosesi Malala oleh Pemkab Sumbawa. Kegiatan ini menjadi ajang promosi minyak dari berbagai kecamatan. Diharapkan kedepannya bisa dikembangkan dan lebih maju lagi.

Ditempat yang sama, Heri warga Keluarahan Brang Biji yang merupakan salah seorang pengunjung mengatakan, kesempatan ini tidak disia-disiakan untuk meminta minyak sumbawa. Meskipun dia asli Jawa namun sudah sering kali menggunakan minyak sumbawa dan merasakan khasiatnya.

“Saya sudah sering kali menggunakan minyak Sumbawa. Karena saya bekerja sebagai tukang bangunan, jadi bisa untuk mijit kalau pegal-pegal,” ujarnya yang saat itu menunggu selesainya pembuatan minyak Sumbawa. (NM3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini