SOSMAS

Membaca Perilaku Pemilih Masyarakat Sumbawa

547

Oleh : Joni Firmansyah, S.I.P.,M.I.P

Dosen Ilmu Pemerintahan IISBUD SAREA Lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Dalam membaca perilaku memilih, setidaknya ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis dan pendekatan pilihan rasional (rational choice) untuk menganalisa hasil penelitian kuantitatif melalui metode survei.

Beberapa lembaga survei lokal di sepanjang September 2019 hingga Januari 2020 telah menghadirkan temuan mereka terkait perilaku memilih masyarakat Sumbawa dalam menanggapi pemilukada Kabupaten Sumbawa tahun 2020. Salah satu di antaranya yang dikemukakan oleh MY Institute pada survei yang dilaksanakan tanggal 3-13 Januari 2020.

Dalam surveinya, disebutkan bahwa masyarakat yang menginginkan calon Bupati berasal dari masyarakat asli Sumbawa sebesar 78,2% dan 69,9% untuk Wakil Bupatinya. Angka yang cukup tinggi untuk sebuah penolakan bakal calon yang bukan asli Sumbawa ini, memberikan indikasi yang kuat bahwa pemilih sosiologis di Kabupaten Sumbawa cenderung sangat besar.

Lingkaran-lingkaran sosial yang terbentuk di tengah pemilih, lebih mengarah kepada soliditas etnis yang mengedepankan asas hubungan kekeluargaan dan kebersamaan. Kecenderungan ini bukanlah bentuk rasisme ataupun primordialisme yang menolak hal baru, melainkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan tersebut akan terasa manakala istilah tau kita (golongan kita) yang memegang tampuk kekuasaan. Karena komunikasi yang nantinya akan dibangun antara rakyat dan penguasa, cenderung lebih cair dengan akses yang lebih mudah.

Kecenderungan pemilih sosiologis di dalam pemilu, bukanlah hal baru dan dapat berlaku hampir di seluruh daerah. Kita dapat berkaca kepada Pemilukada DKI Jakarta tahun 2017 dimana masyarakat ibukota nampak lebih heterogen, namun saat isu etnisitas dan relijiusitas dimainkan, peta politik DKI Jakarta langsung berubah karena menguatnya pemilih sosiologis tadi.

Baca Juga:  Mi6 Gelar Vaksinasi Masal Dosis Kedua

Di NTB sendiri, kemenangan pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalilah dalam pemilukada NTB tahun 2018 dapat di analisa melalui pendekatan ini, dimana terjadi konsentrasi soliditas etnis Sumbawa dan pecahnya suara etnis Sasak karena banyaknya jumlah kandidat dari etnis tersebut.

Selanjutnya, MY Institute juga menghadirkan temuan survei yang menyebutkan bahwa jenis kelamin memainkan peran yang cukup signifikan. Kandidat yang berpasangan antara laki-laki dan laki-laki lebih diinginkan publik sebesar 53,4% dibandingkan jika laki-laki berpasangan dengan perempuan sebesar 43%.

Sementara itu, publik yang menginginkan pasangan perempuan dan laki-laki sebagai Bupati dan Wakil Bupati hanya sebesar 2,5%. Temuan ini memberikan gambaran bahwa isu gender merupakan tema yang dapat “dijual” oleh kandidat sebagai brand politik, jika tahu cara menjualnya. Melalui tema ini, kandidat dapat menekankan hegemoni gender untuk menarik minat pemilih.

Hal ini bisa saja dikarenakan semenjak pasca reformasi, kecenderungan hadirnya kaum laki-laki yang menjadi kepala daerah di Kabupaten Sumbawa sangat dominan, sehingga ruang diskusi terhadap gender nampaknya sempit dan nyaris tidak memiliki tempat.

Kualitas kandidat di dalam pemilihan umum, akan menghadirkan gambaran atas apa yang akan ia capai kedepannya. Hanya saja, aspek-aspek jangka panjang ini yang cenderung bersifat psikologis, akan termentahkan jika dihadapkan kepada pemilih-pemilih rasional yang berkeinginan bebas, dan melihat pemilu secara reasonable sebagai praktik ekonomi dengan agenda penawaran dan permintaan.

Baca Juga:  Kadis Perindustrian NTB Buka Giat Pendampingan Kerajinan Tenun di Desa Poto

Beberapa lembaga survei, termasuk MY Institute, belum menghadirkan data ini, yaitu melihat kecenderungan pemilih yang akan memilih di dalam pemilu. Namun secara umum, kandidat harus mulai memperhitungkan reasonable voters tadi. Pemilih semacam ini, melihat pemilu sebagai agenda jual beli yang tidak terpengaruh atas narasi-narasi politik, temasuk di dalamnya isu relijiusitas, etnisitas hingga gender sekalipun. Mereka hanya berorientasi kepada alasan macam apa yang membuat mereka harus memilih. Orientasi mereka adalah pemenuhan hajat hidup dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, disertai dengan penyelesaian masalah-masalah sosial lainnya.

PENDEKATAN PERILAKU MEMILIH

Berbicara mengenai aliran pemikiran politik, setidaknya ada 3 tipologi pemilih yang kerap dibahas di dalam pemilihan umum: (1) pendekatan sosiologis (the columbia study), (2) pendekatan psikologis (the michigan model) dan (3) pendekatan pilihan rasional (the rational choice).

Pendekatan sosiologis, sebagaimana yang dijelaskan oleh Emilia dan Wawan Ichwanuddin (2015) dalam Partisipasi Politik dan Perilaku Memilih Pada Pemilu 2014 menjelaskan bahwa asumsi dasar dari pendekatan sosiologis adalah setiap manusia terikat di dalam berbagai lingkaran sosial, seperti keluarga, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya.

Setiap individu didorong untuk menyesuaikan diri sehingga perilakunya dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Dieter Roth (2009) dalam Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode, menjelaskan bahwa setiap individu yang memilih di dalam pemilu dipengaruhi oleh posisi status sosial-ekonomi, agama, kesukuan, dan tempat tinggal.

Baca Juga:  Sentra Jamur HBK Layak Diperluas

Bahkan secara lebih jauh, Saiful Mujani, William Liddle dan Ambardi (2012) dalam Kuasa Rakyat: Analisis tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca-Orde Baru juga menyebutkan bahwa agama, tingkat relijiusitas, ras, etnis dan sentimen kedaerahan menjadi faktor yang dominan dalam mempengaruhi kecenderungan seseorang memilih di dalam pemilu.

Sementara itu, dalam pendekatan psikologis, Roth (2009) menjelaskan terdapat tiga pusat perhatian dari pendekatan ini, yang pertama kali dikenalkan oleh sarjana Ilmu Politik dari Universitas Michigan, yaitu: (1) persepsi dan penilaian pribadi terhadap kandidat; (2) persepsi dan penilaian pribadi terhadap tema-tema yang diangkat; dan (3) identifikasi partai atau partisanship.

Selanjutnya, dalam pendekatan pilihan rasional (rational choice) sebagaimana yang dikemukakan Anthony Downs, bahwa demokrasi “diukur” dengan menggunakan pendekatan dalam ilmu ekonomi. Demokrasi adalah arena pemilihan umum yang nampak seperti sebuah pasar, yang membutuhkan penawaran (partai) dan permintaan (pemilih).

Maka, sejalan dengan argumentasi Anthony Downs tersebut, pendekatan ini lebih mengarah kepada aspek untung dan rugi yang harus diperhitungkan. Beberapa isu yang dijadikan alasan pemilih di dalam tipologi ini misalnya masalah pengangguran, jaminan kesehatan, pengentasan kemiskinan, peningkatan infrastruktur dan lainnya. Dengan dipenuhinya hal tersebut, pemilih rasional akan mempertimbangkan untuk memilih karena tujuan jangka pendek mereka dapat terpenuhi. (opini)

Artikel sebelumyaAwardee NTB di Wuhan Dipastikan Aman
Artikel berikutnya320 Tenant Bakal Ramaikan LSGS 2020