
NUSRAMEDIA.COM — DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat berharap agar penyelenggaraan MotoGP Mandalika tidak boleh sekadar menjadi gelaran balap tahunan atau menghadirkan euforia sesaat.
Lebih dari itu, ajang balap bergengsi “kuda besi” internasional tersebut justru harus dimaksimalkan sebagai momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Demikian hal itu diungkapkan Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, H. Sambirang Ahmadi, M.Si. Ia menegaskan bahwa reputasi internasional Mandalika perlu dihubungkan secara nyata.
Yakni, sambung Legislator Udayana asal Dapil V Sumbawa-Sumbawa Barat tersebut, dengan penguatan sektor perdagangan, industri, pertanian, perikanan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan MotoGP tidak cukup diukur dari kemeriahan balapan dan kunjungan wisatawan. “Potensi ekonomi yang tercipta harus mampu menggerakkan sektor-sektor produktif daerah, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat NTB,” ujarnya.
Dampak Ekonomi Triliunan Rupiah Jadi Modal Transformasi NTB
Haji Sem akrabnya politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disapa menjelaskan, optimisme terhadap dampak ekonomi MotoGP Mandalika memiliki landasan empiris yang terukur. Berdasarkan kajian Kementerian PPN/Bappenas, dampak ekonomi nasional MotoGP Mandalika 2025 diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Sebelumnya, kajian pemodelan ekonomi Inter-Regional Input-Output (IRIO) pada penyelenggaraan 2022 juga mencatat estimasi dampak output sebesar Rp606,92 miliar dan nilai tambah mencapai Rp315,94 miliar.
“Dampak ekonomi tersebut merupakan modal penting. Namun dalam perspektif pembangunan jangka panjang, nilai strategis MotoGP terletak pada kemampuannya menggerakkan sektor non-tambang dan mendorong perubahan struktur ekonomi NTB,” tuturnya.
Menghubungkan Pariwisata Kelas Dunia dengan Ekonomi Rakyat
Peluang tersebut sejalan dengan visi RPJMD NTB 2025–2029, yakni “Bangkit Bersama Menuju NTB Sebagai Provinsi Kepulauan yang Makmur Mendunia”. Sektor pariwisata kelas dunia dinilai mampu menciptakan permintaan besar terhadap pangan berkualitas, produk olahan, hingga produk ekonomi kreatif.
Permintaan tersebut menjadi peluang bagi petani, nelayan, dan pengrajin lokal untuk terlibat langsung dalam rantai pasok industri pariwisata. Apabila kebutuhan industri pariwisata dapat dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, keterkaitan rantai pasok (backward and forward linkages) akan terbentuk secara lebih kuat.
“Dengan demikian, aktivitas ekonomi yang muncul dari penyelenggaraan MotoGP berpeluang memberikan dorongan lebih luas bagi sektor-sektor produktif di NTB,” tegas Sambirang Ahmadi.
Lima Langkah Strategis agar Dampak MotoGP Lebih Berkelanjutan
Untuk mempercepat kontribusi MotoGP terhadap perekonomian NTB, Sambirang merumuskan lima langkah strategis yang perlu diperkuat.
Pertama, pemetaan kebutuhan belanja. Peta kebutuhan industri pariwisata dan kapasitas pemasok lokal perlu diperkuat agar kemitraan di bidang pangan, jasa, dan kerajinan dapat ditindaklanjuti secara terukur.
Kedua, penguatan UMKM dan IKM. Perluasan business matching, pendampingan standar mutu, pengemasan produk, sertifikasi, serta akses pembiayaan menjadi langkah penting agar UMKM tidak hanya menjadi peserta bazar temporer, tetapi mampu berkembang sebagai pemasok tetap industri pariwisata.
Ketiga, konektivitas paket wisata. Promosi MotoGP perlu diintegrasikan dengan paket wisata lintas Lombok–Sumbawa, seperti Sembalun, Senggigi, Gili Tramena, hingga Teluk Saleh. Langkah ini diarahkan untuk memperluas jangkauan kunjungan sekaligus memperpanjang masa tinggal wisatawan di NTB.
Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penguatan pelatihan vokasi, kemampuan bahasa asing, dan keterampilan digital bagi pekerja lokal diperlukan agar mereka dapat terserap dalam rantai nilai industri pariwisata.
Kelima, evaluasi dan pemantauan tahunan. Pengembangan indikator evaluasi yang konsisten, termasuk belanja produk lokal, penyerapan tenaga kerja, dan lama tinggal wisatawan, perlu dilakukan sebagai dasar penyusunan kebijakan pemerintah.
Deru Mesin Berakhir, Produktivitas Harus Terus Bergerak
Oleh karena itu, baginya tantangan utama penyelenggaraan MotoGP Mandalika bukan hanya menghadirkan ajang balap berkelas dunia, melainkan memastikan momentum tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah dan masyarakat.
Penguatan rantai pasok lokal, peningkatan kapasitas UMKM, konektivitas destinasi wisata, serta kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar peluang ekonomi yang tercipta tidak berhenti ketika perhelatan MotoGP berakhir.
“Deru mesin MotoGP mungkin hanya terdengar beberapa hari di akhir pekan, namun mesin produktivitas, investasi, dan kesejahteraan yang digerakkannya harus mampu bekerja sepanjang tahun demi mendukung NTB yang semakin makmur dan mendunia,” tutup Sambirang Ahmadi. (*)













