Ketua Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat, H. Sambirang Ahmadi, M.Si. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Sirkuit Mandalika tidak boleh hanya menjadi pusat perhatian dunia ketika MotoGP digelar. Kawasan tersebut perlu terus hidup melalui agenda olahraga reguler agar investasi besar yang telah ditanamkan mampu menghasilkan aktivitas ekonomi sepanjang tahun.

Demikian gagasan itu disampaikan oleh Ketua Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Sambirang Ahmadi, M.Si., setelah penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 yang menghadirkan lebih dari 157 ribu penonton.

Menurut Sambirang, MotoGP tetap menjadi ajang utama yang memperkuat reputasi Mandalika di tingkat internasional. Namun, ketergantungan terhadap satu kegiatan besar berisiko membuat aktivitas ekonomi kawasan tidak merata sepanjang tahun.

Karena itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mengusulkan agar kegiatan olahraga di Sirkuit Mandalika dapat diselenggarakan secara reguler, setidaknya satu kali setiap tiga bulan. “Mandalika harus tetap hidup, serta mampu memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujarnya.

Empat Event Setahun untuk Menjaga Perputaran Ekonomi

Sambirang Ahmadi membayangkan setidaknya empat agenda olahraga dalam setahun yang mampu mendatangkan peserta, kru, sponsor, dan pengunjung dari luar daerah.

Kegiatan tersebut dapat berupa kejuaraan balap motor nasional, balap motor tingkat Asia, balap mobil, kompetisi komunitas otomotif, maupun kegiatan olahraga lain yang sesuai dengan fasilitas kawasan.

Baca Juga:  Kolaborasi Dikpora NTB, Densus 88 dan Putri Anak Indonesia 2026 Jalankan Misi Selamatkan Generasi

Menurutnya, kesinambungan agenda akan membantu menciptakan permintaan berulang terhadap hotel, restoran, transportasi, konsumsi, tenaga kerja, dan berbagai jasa pendukung.

“Hotel dan restoran tidak cukup hanya ramai ketika satu ajang internasional berlangsung. Aktivitas ekonomi perlu dijaga agar pelaku usaha memiliki kesempatan memperoleh pendapatan secara lebih konsisten,” sarannya.

Kalender kegiatan yang tersusun sejak awal juga akan memberikan kepastian bagi pelaku pariwisata untuk menyiapkan paket perjalanan, promosi, tenaga kerja, dan kebutuhan operasional.

Investasi Besar Harus Menghasilkan Aktivitas Berulang

Berdasarkan data ITDC yang dikutip Sambirang, investasi kumulatif kawasan Mandalika hingga akhir 2025 mencapai sekitar Rp6,018 triliun. Pembangunan sirkuit sendiri diperkirakan menelan biaya Rp1,1–1,2 triliun.

Besarnya investasi tersebut menuntut optimalisasi pemanfaatan fasilitas. Infrastruktur yang telah dibangun perlu digunakan secara produktif, tetapi setiap kegiatan tetap harus mempertimbangkan biaya operasional, pemeliharaan, dan manfaat yang dihasilkan.

“Dalam perspektif ekonomi, keputusan pemanfaatan aset perlu berorientasi pada tambahan manfaat yang dapat diciptakan ke depan, bukan semata-mata pada besarnya biaya yang telah dikeluarkan,” katanya.

“Karena itu, penyelenggaraan event secara berkala perlu disertai perencanaan yang matang, pemilihan kegiatan yang memiliki potensi pasar, serta evaluasi biaya dan manfaat,” imbuhnya.

Baca Juga:  Satukan Langkah Jaga Stabilitas Daerah, Kominda NTB : Keamanan Daerah Harus Dirasakan Masyarakat

Perlu Kolaborasi dan Diplomasi Olahraga

Legislator Udayana jebolan asal Dapil V Sumbawa – Sumbawa Barat itu menilai upaya menghadirkan lebih banyak kegiatan di Mandalika tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.

“Diperlukan kerja sama antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTB, pemerintah kabupaten/kota, ITDC, MGPA, federasi olahraga, dan pelaku industri pariwisata,” katanya.

Menurut dia, promosi kepada penyelenggara kejuaraan, penguatan jejaring olahraga nasional dan internasional, serta diplomasi untuk menarik agenda kompetisi menjadi langkah penting yang perlu dilakukan secara konsisten.

“Mandalika juga perlu memiliki kalender kegiatan yang dapat diakses publik. Dengan informasi yang jelas, wisatawan dan pelaku usaha bisa merencanakan kunjungan maupun aktivitas bisnis jauh sebelum kegiatan berlangsung,” kata Sambirang.

Dari Sirkuit, Menggerakkan Ekonomi Seluruh NTB

Bagi Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB itu, keberhasilan Mandalika tidak hanya diukur dari ramainya kawasan sirkuit. Manfaat kegiatan diharapkan harus dapat menyebar ke berbagai sektor dan wilayah.

“Wisatawan yang datang untuk mengikuti atau menyaksikan kegiatan olahraga perlu didorong memperpanjang masa tinggal dengan mengunjungi Senggigi, Gili Tramena, Sembalun, hingga destinasi di Pulau Sumbawa,” ujarnya.

Baca Juga:  Wabup Ansori Tekankan Validitas Data, Penurunan Kantong Kemiskinan Sumbawa Harus Tepat Sasaran

Pada saat yang sama, kebutuhan hotel dan restoran harus semakin terhubung dengan hasil pertanian, perikanan, peternakan, serta produk UMKM lokal.

Dengan demikian, kegiatan olahraga tidak hanya menguntungkan pengelola kawasan dan pelaku usaha di sekitar sirkuit, tetapi juga menciptakan peluang bagi petani, nelayan, pekerja, pengusaha transportasi, dan industri kreatif.

MotoGP sebagai Puncak, Bukan Satu-Satunya Andalan

Sambirang berharap pemerintah dan pengelola kawasan terus memperjuangkan agar Mandalika masuk dalam kalender berbagai kejuaraan olahraga nasional maupun internasional.

MotoGP tetap menjadi puncak perhatian dan pengungkit reputasi global. Sementara itu, kegiatan olahraga lain menjadi pengisi kalender yang menjaga denyut ekonomi kawasan.

Ia juga mendorong evaluasi berkala untuk mengetahui dampak setiap kegiatan terhadap tingkat kunjungan, lama tinggal wisatawan, transaksi usaha lokal, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan daerah.

“Pesan utamanya jelas, Mandalika harus berkembang dari sekadar tuan rumah ajang besar menjadi kawasan yang produktif sepanjang tahun,” ujar Sambirang Ahmadi.

“Dengan agenda yang terencana, kolaborasi lintas sektor, dan keterlibatan pelaku usaha lokal, Sirkuit Mandalika berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi NTB yang manfaatnya tidak berhenti ketika bendera finis MotoGP dikibarkan,” pungkasnya. (*)