
NUSRAMEDIA.COM — Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Johan Rosihan menilai bahwa, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri budidaya lobster.

Namun potensi itu, lanjut Legislator Senayan jebolan Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa tersebut, belum dapat dioptimalkan. Ini lantaran ekosistem budidaya lobster yang kuat dan terintegrasi belum terbentuk.
Demikian hal itu ditegaskan Johan Rosihan saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Instalasi Telong Elong Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok Timur-NTB pada Kamis (03/09/2026) lalu.
Dijelaskannya, kunjungan tersebut dilakukan untuk memverifikasi secara langsung berbagai informasi dan aspirasi yang sebelumnya diterima Komisi IV DPR RI dari asosiasi lobster dan kalangan akademisi.
“Karena sehari sebelum ini kita sudah menerima asosiasi, bercerita banyak tentang lobster dari sisi keilmuannya, dari hasil penelitiannya. Hari ini kita mencoba menguji secara fakta,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Dari hasil penyerapan aspirasi tersebut, Johan Rosihan menilai pengembangan budidaya lobster perlu terlebih dahulu memastikan keberlangsungan usaha masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan budidaya tidak semata-mata diukur dari target produksi, tetapi juga dari kemampuan pembudidaya mempertahankan usahanya.
“Minimal apa yang sudah diusahakan oleh pembudidaya lobster kita itu bisa kembali modal, bisa berusaha, bisa terus bertahan dengan itu. Karena potensi usaha yang ada di lobster ini sudah luar biasa,” tuturnya.
Diungkapkan Johan Rosihan, berdasarkan informasi yang diterima Komisi IV DPR RI dari asosiasi lobster, kemampuan teknologi budidaya Indonesia dinilai tidak kalah dengan Vietnam.
Indonesia juga memiliki potensi lobster yang besar untuk dikembangkan. “Dari sisi teknologi kita tidak kalah dari Vietnam. Dari sisi potensi kita juga cukup banyak dari sini,” jelasnya.
Meski demikian, menurut dia, potensi dan kemampuan teknologi tersebut belum cukup untuk mendorong pengembangan industri lobster apabila tidak didukung ekosistem budidaya yang terintegrasi.
Ekosistem tersebut diperlukan agar kegiatan budidaya dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Persoalannya adalah belum terciptanya satu ekosistem budidaya lobster kita,” demikian Johan Rosihan. (*)













