
NUSRAMEDIA.COM — Komoditas unggulan Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memperluas jejaknya di pasar global. Ekspor vanili organik NTB ke Amerika Serikat dan kemiri NTB ke Jepang dilepas bersamaan dengan peluncuran program penguatan komoditas desa yang dirancang untuk membangun rantai nilai kemiri dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut menjadi bagian dari Joint Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Tahun 2026 bertema Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri NTB, yang diluncurkan di halaman Kantor Gubernur NTB, Kamis (24/9/2026).
Diversifikasi Ekonomi Jadi Strategi NTB
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pengembangan komoditas berorientasi ekspor merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi NTB. Menurutnya, NTB perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan sektor pertanian dan agroindustri yang memiliki keterkaitan langsung dengan ekonomi masyarakat.
“Pemilihan komoditas dari NTB untuk didorong masuk ke pasar global dan pasar ekspor sangat sejalan dengan strategi kami di NTB saat ini. Kami sedang dalam proses melakukan diversifikasi ekonomi,” ujar Gubernur Miq Iqbal.
Menurutnya, ketergantungan terhadap sektor pertambangan yang pertumbuhannya cenderung fluktuatif membuat diversifikasi menjadi kebutuhan. Pertanian, pariwisata, dan agroindustri dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan karena mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas di masyarakat.
NTB memiliki beragam komoditas yang berpotensi dikembangkan untuk pasar global, antara lain kemiri, vanili, kakao, dan kopi. Tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan komoditas tersebut mampu memenuhi standar pasar, memiliki nilai tambah, dan dapat dipasarkan secara berkelanjutan.
Hilirisasi Kemiri Didorong Beri Nilai Tambah
Untuk kemiri, Gubernur melihat peluang peningkatan nilai tambah masih terbuka lebar. Produk tidak lagi diarahkan berhenti sebagai bahan baku, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Harapan kita program ini bukan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Ini baru kick off. Setelah ini mari kita dalami bersama. Kami di NTB siap menjadi pilot project,” tegasnya.
Bangun Ekosistem dari Hulu hingga Hilir
Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara Kementerian Keuangan, Dwi Teguh Wibowo, mengatakan pengembangan komoditas daerah merupakan bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, daerah memiliki potensi besar untuk menjadi mesin pertumbuhan apabila didukung peningkatan produktivitas, investasi, industrialisasi, dan hilirisasi.
“Daerah adalah mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah pusat berperan sebagai enabler, yang memastikan mesin pertumbuhan di daerah dapat bergerak lebih cepat dan bekerja lebih efisien,” jelasnya.
Karena itu, Joint Program TJSL SMV Kementerian Keuangan tidak dirancang sekadar sebagai bantuan kepada petani. Program tersebut diarahkan membangun ekosistem kemiri secara utuh, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan produksi, modernisasi pascapanen, infrastruktur pendukung, dan pemanfaatan energi surya hingga pengembangan produk turunan serta pembukaan akses pasar global. “Jadi, yang dibangun bukan sekadar komoditasnya, tetapi rantai nilai dari hulu hingga hilir,” ujar Dwi.
Ekspor Menjadi Tujuan Akhir
Bagi NTB, keberhasilan pengembangan komoditas pada akhirnya bukan diukur dari seberapa sering produk diperkenalkan melalui pameran, melainkan dari kemampuannya menembus pasar secara berkelanjutan.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan, pameran internasional hanyalah sarana untuk memperkenalkan produk. Sasaran akhirnya adalah ekspor dan kemampuan pelaku usaha daerah membangun pasar sendiri. “Target kita bukan pameran. Pameran adalah target antara. Tujuan akhirnya adalah ekspor,” tegasnya.
Dengan demikian, ekspor vanili ke Amerika Serikat dan kemiri ke Jepang menjadi lebih dari sekadar transaksi perdagangan. Keduanya menunjukkan bahwa komoditas yang tumbuh dari NTB memiliki peluang untuk masuk ke rantai pasar global, sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat hilirisasi komoditas lainnya.
Dari desa ke pasar dunia, arah yang dibangun NTB bukan sekadar menjual lebih banyak komoditas, tetapi menciptakan lebih banyak nilai di daerah. Kemiri dan vanili menjadi contoh bahwa ketika produksi, hilirisasi, standar mutu, dan akses pasar dibangun dalam satu ekosistem, komoditas lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekspor yang memberi nilai tambah bagi petani, pelaku usaha, dan ekonomi NTB. (*)













