
NUSRAMEDIA.COM — Anggota DPR RI Johan Rosihan mengajak masyarakat Sumbawa menjaga nilai ila’, saling pendi, saling satotang, dan saling satingi sebagai pegangan menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, kemajuan akan semakin bermakna ketika Tau Samawa tetap memiliki akar nilai yang menjaga hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan sesama.
Pesan tersebut disampaikan Johan Rosihan tepatnya dalam Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa 2026 yang digagas Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa.
Dalam Sesi 5, Johan berada dalam satu forum bersama Dr. Zulkieflimansyah dan DG Syukri Rahmat, dengan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa H. M. Berlian Rayes sebagai moderator.
Forum Silatulfikri sendiri diinisiasi oleh Pengasuh PMI Dea Malela Prof. M. Din Syamsuddin sebagai ruang para tokoh untuk merefleksikan dan mengkristalkan kembali nilai-nilai kehidupan Tau Samawa.
Mengangkat tema “Dari Ila’ ke Saling Pendi, Saling Satotang dan Saling Satingi”, Johan mengatakan tantangan masyarakat Sumbawa hari ini bukan memilih antara adat dan kemajuan.
Tantangan yang lebih penting adalah memastikan kemajuan tidak membuat masyarakat kehilangan cara memperlakukan sesama manusia.
“Kita sedang hidup di zaman yang semakin menonjolkan kata ‘aku’. Gawai semakin personal, algoritma semakin personal, bahkan ruang sosial kita mudah terpecah berdasarkan kepentingan masing-masing,” ujarnya.
“Pertanyaannya, di tengah zaman yang semakin ‘aku’, apakah Tau Samawa masih mempunyai ‘kita’?,” tanya pria Legislator PKS Senayan dari Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa yang duduk di Komisi IV DPR tersebut.
Menurut Johan, salah satu kekuatan kebudayaan Samawa justru terdapat pada kata “saling”. Saling pendi mengajarkan kasih dan kepedulian, saling satotang menumbuhkan keberanian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Sementara saling satingi, lanjutnya, yakni mengajarkan penghormatan terhadap martabat sesama. “Tau Samawa seharusnya tidak menjadi besar dengan mengecilkan orang lain,” katanya.
“Kita menjadi besar ketika mampu saling membesarkan. Karena itu, saya memaknainya sederhana: ila’ menjaga diri, pendi menjaga hati, satotang menjaga arah, dan satingi menjaga martabat,” imbuh Johan Rosihan.
Tak hanya itu, Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI itu juga memberikan perhatian khusus pada ila’, yang menurutnya memiliki kedalaman makna lebih dari sekadar rasa malu.
Ila’ merupakan pagar etik yang tumbuh dari dalam diri manusia—kesadaran mengenai kepatutan, batas, tanggung jawab, dan harga diri. Dalam perspektif Islam, ia mengaitkannya dengan al-hayā’, rasa malu yang merupakan bagian dari iman dan menjadi benteng seseorang dari perbuatan buruk.
“Kalau hukum menjaga manusia dari luar, maka ila’ menjaga manusia dari dalam. Kita mengenal pesan ketaket ko Nene’, kangila boat lenge: takut kepada Allah dan malu melakukan perbuatan buruk. Orang yang memiliki ila’ tetap menjaga dirinya sekalipun tidak ada orang yang melihat,” jelasnya.
Suasana forum menjadi semakin khas ketika Johan Rosihan menyampaikan gagasannya melalui lawas Samawa :
Kiak jujil basabeta
Lamin nonda singin ila
Dadi sala luk panyepan
Baraning paragas kawa
Boto latai luntai pintar
Nan ka lebe tu Samawa
Mana si leng beling lebe
Ila dadi goleng batas
Lema na lenge ka nadi
Lawas tersebut menjadi pengikat pesan Johan bahwa kecakapan, keberanian, kegigihan dan kepintaran perlu berjalan bersama ila’. Nilai itulah yang memberi batas etik agar kemampuan manusia digunakan untuk kebaikan dan kehidupan bersama.
Mantan Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tiga peeiode itu juga mengingatkan pentingnya membedakan kemandirian dengan individualisme ekstrem.
Generasi muda Sumbawa, menurutnya, harus didorong menjadi generasi yang mandiri, percaya diri, berani bersaing dan mampu bergerak di ruang global, sembari mempertahankan kepedulian dan tanggung jawab sosial.
“Anak-anak kita boleh belajar setinggi mungkin, bekerja dengan teknologi terbaru, pergi ke Jakarta, Tokyo, London atau ke mana pun dunia membawanya. Mereka boleh pergi jauh dari Tana Samawa, tetapi nilai Samawa jangan pergi dari dirinya,” pesannya.
Karena itu, Johan Rosihan mendorong agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan budaya. Ila’, pendi, satotang, dan satingi perlu mendapatkan ruang nyata di keluarga, sekolah, ruang digital, pemerintahan, serta kehidupan bermasyarakat.
Hal itu sejalan dengan tujuan Silatulfikri yang diarahkan untuk menghasilkan kristalisasi nilai hidup Samawa dan mengembangkannya menjadi pendidikan nilai bagi generasi muda.
Di akhir paparannya, Johan menitipkan sebuah rumusan kepada forum: “Tau Samawa adalah manusia yang memiliki ila’ dalam dirinya, pendi kepada sesamanya, satotang dalam persaudaraan, dan satingi terhadap martabat manusia.”
“Zaman anak cucu kita mungkin sangat berbeda dengan zaman kita. Tetapi kita masih bisa mewariskan kompas kepada mereka. Kompas itu bernama nilai,” tegas Johan Rosihan.
“Selama ila’, pendi, satotang, dan satingi tetap hidup, Tau Samawa akan tetap tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan bagaimana seharusnya ia memperlakukan manusia,” demikian ia menambahkan. (*)













