Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mewakili NTB dalam Fashion Show 38 Provinsi. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Kekayaan wastra dan kriya Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali unjuk pesona di panggung nasional. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mewakili NTB dalam Fashion Show 38 Provinsi yang menjadi bagian dari rangkaian Kriyanusa 2026.

Dalam ajang tersebut, NTB menampilkan kekayaan wastra dan kriya daerah yang dipadukan dalam satu busana, dengan mengangkat karakter, filosofi, dan keberagaman budaya dari sejumlah daerah di NTB.

Busana yang dikenakan Sinta M. Iqbal memadukan Motif Gumilang Betulung dari Desa Kebon Ayu, Lombok Barat, dengan Kain Tenun Bima bermotif Lomba Moti To’i atau Gari (Garis).

Baca Juga:  Komisi III DPRD NTB Dorong Bapeltan Menjadi BLUD, Optimalkan Aset dan Tingkatkan PAD

Memadukan Motif, Filosofi, dan Karakter

Motif Gumilang Betulung merepresentasikan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Lombok Barat. Sementara motif Gari dari Bima, melalui susunan garis yang teratur, melambangkan kejujuran, ketegasan, konsistensi, serta ketekunan.

Kombinasi warna marun, putih, dan kuning keemasan memberikan karakter kuat sekaligus elegan pada busana yang ditampilkan.

“Melalui fashion show ini, kita ingin menunjukkan bahwa NTB memiliki kekayaan wastra dan kriya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki motif, filosofi, dan karakter yang berbeda, tetapi semuanya menjadi bagian dari satu identitas budaya NTB,” ujar Sinta M. Iqbal.

Menurutnya, keberagaman tersebut tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga perlu terus dikembangkan melalui inovasi sehingga wastra dan kriya NTB dapat semakin dikenal dan memiliki nilai tambah bagi para perajin.

Baca Juga:  Fraksi NasDem DPRD Sumbawa Apresiasi Kenaikan Pendapatan Daerah dan Berikan Catatan

Wastra Bukan Sekadar Kain, tetapi Cerita dan Identitas

“Wastra bukan hanya tentang kain, tetapi juga tentang cerita, tradisi, keterampilan, dan identitas masyarakat yang ada di dalamnya. Karena itu, kita ingin kekayaan ini terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi para perajin serta masyarakat,” lanjutnya.

Penampilan tersebut juga dilengkapi tas ketak khas Lombok Tengah, yang dibuat secara handmade dari serat tanaman ketak. Kriya tersebut menjadi bagian dari kekayaan kerajinan NTB yang dikerjakan dengan keterampilan dan ketelitian para pengrajin secara turun-temurun.

Baca Juga:  Tuna NTB Tembus Pasar Amerika, Industri Pengolahan Lombok Timur Unjuk Daya Saing

Sebagai pelengkap, digunakan pula perhiasan mutiara khas NTB bernuansa emas. Kilau mutiara memberikan sentuhan elegan sekaligus merepresentasikan salah satu kekayaan alam dan produk kerajinan unggulan NTB.

Dari Lombok Barat hingga Bima, Satu Identitas NTB

Keikutsertaan Ketua Dekranasda NTB dalam Fashion Show Parade Wastra Indonesia menjadi momentum untuk memperkenalkan keberagaman wastra dan kriya NTB di panggung nasional.

Dari tenun Lombok Barat, tenun Bima, kriya ketak Lombok Tengah, hingga mutiara Lombok, setiap elemen membawa cerita dan karakter tersendiri. Seluruhnya kemudian dipadukan menjadi satu tampilan yang merepresentasikan kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat. (*)