
NUSRAMEDIA.COM — Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan mendorong pemerintah memastikan percepatan penyaluran jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) benar-benar memberikan manfaat bagi peternak rakyat.
Dengan selisih harga yang mencapai Rp3.000 per kilogram, program ini dinilai menjadi ruang intervensi penting untuk meringankan biaya produksi peternakan.
Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, harga jagung di pasar yang mencapai sekitar Rp8.000 per kilogram, dibandingkan dengan jagung SPHP sebesar Rp5.000 per kilogram, memberikan peluang penghematan signifikan bagi peternak.
Namun, manfaat tersebut harus benar-benar dirasakan peternak, bukan justru berhenti di mata rantai distribusi. “Selisih Rp3.000 per kilogram itu sangat besar bagi peternak rakyat,” kata Johan Rosihan, Sabtu 10 Oktober 2026.
“Kalau seorang peternak membutuhkan satu ton jagung, ada potensi penghematan hingga Rp3 juta. Bayangkan manfaatnya jika jagung SPHP tersedia secara merata dan tepat sasaran. Karena itu, saya ingin memastikan selisih harga tersebut benar-benar dinikmati peternak, bukan justru berhenti di mata rantai distribusi,” sambungnya.
Tambahan 150 Ribu Ton Harus Diikuti Distribusi Tepat Sasaran
Johan mengapresiasi langkah pemerintah mempercepat distribusi jagung SPHP sekaligus menyiapkan tambahan alokasi sebanyak 150 ribu ton. Berdasarkan perkembangan penyaluran yang dilaporkan pada 9 Oktober, realisasi jagung SPHP telah mencapai sekitar 186.461 ton atau 78 persen dari alokasi yang ditugaskan.
Legislator Senayan asal Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa itu berharap, penyelesaian administrasi tambahan alokasi segera diikuti distribusi yang terencana, transparan, dan menjangkau sentra peternakan rakyat.
Menurut legislator dari daerah pemilihan NTB I, Pulau Sumbawa, tersebut, persoalan harga jagung perlu dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan sistem pangan nasional. Jagung merupakan sumber pendapatan bagi petani sekaligus komponen penting biaya pakan bagi peternak ayam petelur dan pedaging. Karena itu, kebijakan stabilisasi harus mampu menjaga keseimbangan kepentingan keduanya.
Harga Jagung Harus Menguntungkan Petani dan Meringankan Peternak
Dia menegaskan, upaya meringankan beban peternak tidak boleh mengorbankan kepentingan petani jagung. Kedua kelompok tersebut memiliki peran penting dalam rantai pangan nasional sehingga kebijakan pemerintah harus mampu memastikan keduanya tumbuh bersama.
“Petani jagung harus memperoleh harga yang menguntungkan, sementara peternak membutuhkan bahan baku pakan dengan harga terjangkau. Kita ingin keduanya tumbuh bersama. Jangan sampai persoalan peternak diselesaikan dengan menciptakan persoalan baru bagi petani jagung. Negara harus hadir menjaga keseimbangan itu,” tegas Johan Rosihan.
Johan Minta Penyaluran Jagung SPHP Diawasi Secara Terukur
Politisi PKS yang dikenal cukup vocal itu menilai, tambahan jagung SPHP perlu disertai pengawasan yang lebih terukur. Ia meminta pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Perum Bulog, membuka informasi mengenai sebaran penerima, volume penyaluran, harga yang dibayar peternak, serta dampaknya terhadap biaya produksi telur dan daging ayam.
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup dinilai dari jumlah jagung yang telah disalurkan. Pemerintah juga perlu memastikan sejauh mana program tersebut mampu menekan biaya produksi dan membantu peternak kecil mempertahankan keberlanjutan usahanya.
“Keberhasilan SPHP jangan hanya dihitung dari berapa ribu ton jagung keluar dari gudang Bulog. Kita perlu mengetahui berapa peternak kecil yang menerima manfaat, berapa rupiah biaya pakan mereka berkurang, dan apakah usaha mereka kembali memperoleh keuntungan yang layak. Tonase adalah ukuran penyaluran, sedangkan kesejahteraan peternak adalah ukuran keberhasilan kebijakan,” jelas Johan.
Pembenahan Tata Niaga Pakan Jadi Kunci Ketahanan Peternak
Selain mendorong percepatan penyaluran jagung SPHP, Johan mengingatkan pentingnya membenahi tata niaga bahan baku pakan secara lebih menyeluruh, termasuk jagung dan bungkil kedelai. Menurutnya, kepastian pasokan, efisiensi distribusi, dan transparansi harga merupakan fondasi penting agar peternak rakyat memiliki daya tahan menghadapi fluktuasi pasar.
Johan berharap momentum percepatan SPHP jagung menjadi bagian dari penguatan ekosistem peternakan nasional, terutama dalam menjaga keberlanjutan usaha peternak kecil serta ketersediaan telur dan daging ayam sebagai sumber protein masyarakat.
Ketahanan Pangan Harus Menghadirkan Kesejahteraan hingga Meja Makan
Johan Rosihan menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan pangan pada akhirnya harus tercermin dalam manfaat nyata yang dirasakan seluruh mata rantai pangan, mulai dari petani jagung, peternak, hingga masyarakat sebagai konsumen. “Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kebijakan pangan itu sederhana,” katanya.
“Petani jagung tersenyum karena hasil panennya dihargai dengan layak, peternak lebih ringan menanggung biaya produksi, dan masyarakat bisa membeli telur serta daging ayam dengan harga wajar. Itulah ketahanan pangan yang benar-benar menghadirkan kesejahteraan dari ladang sampai meja makan rakyat,” demikian Johan Rosihan menambahkan. (*)













