HEADLINE

Pembalap MotoGP Mandalika Mendekap Tradisi Budaya Sasak

MotoGP Mandalika, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia selalu mampu menghadirkan hal berbeda bahkan unik. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — MotoGP Mandalika, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia selalu mampu menghadirkan hal berbeda bahkan unik.

Selain mampu menarik minat para pembalap datang jauh harinya sebelum balapan dimulai, Mandalika juga berhasil menciptakan suasana.

Dimana mereka para pembalap dunia bisa berbaur dengan masyarakat lokal. Hal ini bisa terlihat dari berbagai unggahan sosial media yang mereka bagikan.

Misalnya seperti Maverick Vinales. Ia kerap menjadi sorotan berbagai media nasional. Ini karena unggahan sosial medianya yang lucu menggunakan Bahasa Indonesia.

Beberapa jargon yang dibuatnya bahkan menjadi trending seperti “Boleh Pinjam Seratus”, “Cukurukuk empuk Jeruk”, dan “Aku mah masih pemula, ajarin dong puh sepuh”.

Baca Juga:  Ratusan Botol Miras Dimusnahkan

Dia juga tampak ikut berjoget ketika mengikuti Coral Reef Planting di Pantai Mandalika. Tak hanya itu, bersama pembalap Moto2 Alonso Lopez dia juga belajar Tari Peresean.

Selain Maverick Vinales dan Alonso Lopez, sang bintang MotoGP yaitu Marc Marquez juga menarik perhatian netizen. Karena memamerkan foto dirinya.

Dimana rider dunia ternama bernomorkan 93 itu mengenakan kain tenun Sasak khas Pringgasela, Lombok Timur. Selain itu, hal lain yang menarik perhatian para netizen.

Yakni kegiatan para pembalap yang menggunakan motor bebek untuk berkeliling Mandalika dan membeli bensin eceran di warung-warung lokal setempat.

Tentunya ini adalah hal yang jarang terjadi dalam ajang MotoGP lainnya. Biasanya, kita hanya melihat para pembalap memposting kegiatan mereka di sirkuit saja.

Baca Juga:  Mo-Novi Terus Upayakan Peningkatan Kualitas Infrastruktur di Sumbawa

Namun, hal itu berbeda di Mandalika. Seakan-akan mereka merasa dekat dengan Bumi Mandalika. Para pembalap MotoGP ini dengan senang hati berbaur dengan masyarakat lokal.

Hebatnya lagi, mereka melakukan kegiatan layaknya warga lokal Pulau Lombok. Ini tentunya tidak lepas dari keramahtamahan yang ditunjukkan oleh warga Lombok kepada para bintang balapan dunia tersebut.

Sejalan dengan tujuan utama pemerintah provinsi yang ingin membangun citra MotoGP Mandalika dan ajang balapan lainnya tidak hanya sebagai ajang balapan kelas dunia.

Tetapi juga sebagai ajang pertukaran budaya dan promosi pariwisata daerah NTB, dan pastinya Indonesia secara umum. Proses branding yang telah dilakukan sejak perhelatan World SBK di awal tahun lalu.

Baca Juga:  Pasokan Beras Impor Masuk Sumbawa dan KSB, Johan Rosihan Khawatir Bakal "Cekik" Petani

Dan ARRC dengan menonjolkan berbagai keragaman budaya daerah kini mulai membuahkan hasil. Dilihat dari antusiasme para pembalap yang ikut serta belajar tarian adat hingga mengenakan pakaian tradisional khas suku Sasak.

Para pembalap telah merangkul tradisi dan adat istiadat di Pulau Lombok. Bahkan kenyamanan mereka bergaul dan berbaur dengan penduduk lokal.

Ini adalah bentuk penghargaan yang diberikan kepada Bumi Mandalika. MotoGP Mandalika benar-benar telah menjadi platform untuk menjembatani budaya dan merangkul perbedaan menjadi sebuah kesatuan ditengah ajang balap motor kelas dunia. (red)