
NUSRAMEDIA.COM — Gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan dibangun dengan konsep lima lantai yang memadukan arsitektur modern dan kearifan lokal sebagai representasi identitas budaya daerah. Desain bangunan gedung Udayana tersebut mengangkat filosofi tiga suku besar di NTB, yakni Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) NTB Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dades Prinandes, mengatakan saat ini proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada September hingga Oktober mendatang.
“DED sedang dikerjakan dan kami targetkan selesai pada September atau Oktober. Setelah itu, proses lelang pembangunan direncanakan dapat dilakukan pada 2026,” ujarnya di Mataram belum lama ini.
Ia menjelaskan, setelah tahapan lelang selesai, kontrak pekerjaan ditargetkan dimulai pada awal 2027 dengan durasi pembangunan sekitar 11 bulan. Gedung baru DPRD NTB nantinya berdiri setinggi lima lantai dan dibangun sekitar 20 meter mundur dari posisi gedung yang ada saat ini.
Desainnya mengusung konsep modern tanpa meninggalkan identitas lokal, salah satunya melalui ornamen berbentuk lumbung padi yang menjadi simbol budaya masyarakat Sasak di Pulau Lombok.
Selain bangunan utama, kompleks DPRD NTB juga akan dilengkapi dengan gedung aspirasi yang difungsikan sebagai ruang pertemuan dan dialog antara anggota legislatif dengan masyarakat, mahasiswa, maupun kelompok lainnya.
Menurut Dades, keberadaan gedung aspirasi diharapkan dapat menjadi wadah resmi bagi masyarakat dalam menyampaikan berbagai aspirasi kepada wakil rakyat secara lebih tertib dan konstruktif.
“Ke depan, masyarakat memiliki ruang khusus untuk berdialog dan menyampaikan aspirasi langsung kepada anggota dewan,” katanya.
Pembangunan gedung baru DPRD NTB diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp200 miliar. Meski demikian, nilai tersebut masih berupa estimasi awal dan akan disesuaikan dengan hasil pembahasan antara pemerintah dan DPR.
Sementara itu, Sekretaris DPRD NTB Hendra Saputra mengungkapkan terdapat tiga alternatif desain yang diajukan dalam proses perencanaan. Dari ketiga pilihan tersebut, desain kedua dipilih karena dinilai paling mampu memadukan konsep arsitektur modern dengan kekayaan budaya lokal.
“Muatan budaya NTB tetap menjadi bagian penting dalam desain gedung ini sebagai identitas daerah,” ujarnya. Ia menjelaskan, kompleks gedung DPRD nantinya terdiri atas beberapa bangunan utama.
Gedung ruang rapat paripurna akan berdiri terpisah di sisi selatan dengan ornamen lumbung sebagai ikon utama, sedangkan bangunan lima lantai di bagian tengah akan digunakan untuk ruang komisi, fraksi, perkantoran, serta fasilitas pendukung lainnya.
Dengan konsep tersebut, gedung baru DPRD NTB diharapkan tidak hanya menjadi pusat aktivitas legislatif, tetapi juga menjadi ikon arsitektur pemerintahan yang merepresentasikan kemajuan daerah tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya lokal. (*)













