Alwan Hidayat, S.Pd.I., NL.P - Kepala Desa Batu Tering sekaligus Ketua FK2D Moyo Hulu. (Ist)

Penulis adalah : Alwan Hidayat, S.Pd.I., NL.P-Kepala Desa Batu Tering sekaligus Ketua FK2D Moyo Hulu

NUSRAMEDIA.COM, OPINI — 17 Agustus 1945 – 25 Agustus 2026. Dua momentum besar hadir dalam rentang waktu yang begitu dekat. Satu mengingatkan kita tentang lahirnya kemerdekaan sebuah bangsa, sementara yang lain mengajak kita mengenang kelahiran manusia agung pembawa cahaya bagi semesta.

17 Agustus 1945 adalah tonggak sejarah ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Delapan puluh satu tahun kemudian, semangat itu kembali kita rayakan melalui peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Tahun 2026.

Namun, pada bulan yang sama, umat Islam juga menyambut sebuah peristiwa agung: peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sang Baginda, teladan sepanjang zaman, sang reformis sejati yang kehadirannya membawa perubahan besar bagi peradaban manusia.

Baca Juga:  Kepala Desa Batu Tering Alwan Hidayat Ajak Warga Nyalakan Patriotisme dari Desa

Jika upacara 17 Agustus menjadi momentum untuk meneguhkan semangat kebangsaan, maka Maulid Nabi menjadi ruang untuk memperdalam refleksi keummatan. Keduanya seakan menyapa hati kita dengan pesan yang sama: Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kemajuan fisik, tetapi juga oleh kemuliaan nilai.

Kemerdekaan tidak akan bermakna tanpa keadilan, dan keagamaan tidak akan sempurna tanpa menghadirkan kasih sayang bagi sesama. Dari semangat kemerdekaan, kita belajar tentang keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Dari Rasulullah Muhammad SAW, kita belajar tentang kejujuran, keadilan, persaudaraan, kasih sayang, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Sebab misi besar Sang Baginda adalah menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh alam.

Baca Juga:  Tunda Pulang dari NTT, Gubernur Miq Iqbal Pilih Lanjutkan Solidaritas untuk Korban Gempa Manggarai Timur

Semoga pertemuan momentum kebangsaan dan keummatan pada bulan yang penuh makna ini bukan sekadar menjadi rangkaian seremonial dan perayaan. Semoga ia menjadi api kecil yang menyala dalam hati, menguatkan kembali persatuan, meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan, memperkokoh semangat gotong royong, serta mengingatkan kita bahwa Indonesia akan menjadi kuat apabila nilai kebangsaan dan nilai keagamaan berjalan beriringan.

Merdeka dalam jiwa. Berakhlak dalam kehidupan. Bersatu dalam perbedaan.
Dan saling menguatkan dalam cita-cita.
Semoga dari semangat 17 Agustus dan cahaya Maulid Nabi Muhammad SAW, lahir energi baru untuk membangun Indonesia yang semakin adil, makmur, damai, dan sejahtera.

Baca Juga:  Legislator Udayana Salman Alfarizi : Kemerdekaan Bukan Sekedar Seremoni, Pembangunan NTB Harus Merata

Indonesia bukan hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang berkarakter. Bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga pemimpin yang berakhlak. Bukan hanya bangsa yang besar, tetapi bangsa yang mampu menghadirkan rahmat bagi seluruh rakyatnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga kemerdekaan menjadi jalan menuju keadilan, dan keteladanan Rasulullah menjadi cahaya dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia yang bermartabat dan penuh keberkahan. (*)