HEADLINE

Survei LSI Denny JA, Zulkieflimansyah Posisi Teratas

Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfarabi mengungkapkan hasil survei tahap pertama untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan 8 Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Barat. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfarabi mengungkapkan hasil survei tahap pertama untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan 8 Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Barat.

“Untuk Kota Bima dan Lombok Utara surveinya sedang berjalan. Sementara untuk tingkat Provinsi dan 8 Kabupaten/Kota sudah selesai dilakukan,” ujarnya, Rabu (12/06/2024) di Mataram.

“Dari sisi kontestasi Pilkada untuk tingkat Provinsi dan 8 Kabupaten/Kota itu, kita lihat yang sudah cukup konklusif itu adalah Kota Mataram,” imbuh Adjie Alfarabi saat gelaran Konferensi Pers di Hotel Santika.

Menurut dia, konklusifitas itu terlihat dari tingginya hasil survei Ketua DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Barat yang juga saat ini masih menjabat sebagai Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana.

“Istilahnya di Kota Mataram itu, H Mohan ini seperti matahari tunggal. Hasil surveinya begitu powerfull baik pada tingkat kepuasan pemilih maupun pada tingkat elektabilitas,” bebernya.

Baca Juga:  Ruas SJP Lito Dikerjakan Pekan Depan

“Bahkan kalau kita melihat simulasi elektabilitas ketika namanya diperkecil, angkanya justru semakin tinggi,” sambung Direktur LSI Denny JA tersebut dihadapan awak media.

Satu-satunya calon yang bisa mendekati dan bisa melawan Mohan Roliskana, yakni adalah Wakil Walikota Mataram. Meski demikian, gap-nya masih jauh dan merupakan paket yang sama.

Sementara untuk provinsi, berdasarkan hasil survei LSI Denny JA, situasinya masih dinamis. “Dari hasil survei, Calon Gubernur petahana yakni Pak Zulkieflimansyah (Eks Gubernur NTB) posisinya masih diatas,” ungkapnya.

Meski begitu, ungkap Adjie, hasil tersebut bukanlah kabar yang menggembirakan. Khususnya bagi seorang petahana. “Namun hasilnya ini bukanlah hasil yang menggembirakan untuk seorang petahana,” ujarnya.

Biasanya, kata dia, survei yang dilakukan untuk petahana berada diangka tertentu, dan seharusnya secara elektabilitas mungkin seharusnya mirip dengan Kota Mataram kalau untuk petahana sudah diangka yang powerfull.

Baca Juga:  Amar-Hanipah Segera Gelar Deklarasi

“Tapi kalau untuk NTB, walaupun Pak Zul angkanya berada diatas, tapi angkanya bukan angka ideal bagi seorang petahana jadi masih terbuka pertarungan untuk NTB. Termasuk dari Partai Golkar,” katanya.

“Apalagi sebagai pemenang pemilu, Golkar sebenarnya punya potensi Calon Gubernur seperti di Kota Mataram ada Pak Mohan, kemudian ada Ibu Dinda di Bima (Hj Indah Dhamayanti Putri) dan ada Pak Suhaili FT., mantan Bupati Lombok Tengah, maupun mungkin tokoh-tokoh lain yang masuk ke Partai Golkar,” sambungnya.

Yang bisa dianggap petahana dalam Pilkada itu, lanjutnya, adalah Petahana Gubernur atau Petahana Walikota atau Bupati. “Wakil Gubernur ketika ada petahana Gubernur, posisinya biasanya tidak setangguh petahana Gubernur atau Petahana Walikota,” bebernya.

“Tapi hasil survey itu menunjukan petahana Gubernur tidak kokoh sebagai seorang petahana,” timpalnya lagi. Petahana yang ideal itu menurutnya secara elektabilitas angkanya diatas 50 persen.

Baca Juga:  Ini Prioritas TGF Jika Pimpin Lombok Timur

Atau minimal pada simulasi pertanyaan tertutup dengan banyak nama minimal selisih dengan calon lain itu dia sudah diatas 30 persen. “Kalau ini kita lihat selisihnya belum ideal, sehingga kita melihat petahana itu bukan petahana yang kokoh secara elektabilitas,” tuturnya.

“Sementara secara internal Golkar, ada empat nama yang diberikan surat tugas itu punya potensi yang sama dari sisi elektabilitas,” lanjutnya lagi. Untuk Kabupaten/Kota yang lain, meski dinamikanya ditiap daerah berbeda, tapi pertarungannya masih sangat terbuka.

“Dan kita lihat nanti di survei kedua maupun survei ketiga. Karena ini waktunya juga masih panjang. Biasanya mungkin nanti setelah pendaftaran bisa kita lihat perkembangan dan dinamika elektabilitasnya,” tutupnya. (red)