
NUSRAMEDIA.COM — Istana Dalam Loka yang megah menjadi saksi langkah monumental pelestarian budaya Samawa. Pemerintah Kabupaten Sumbawa resmi menggelar sebuah kegiatan.
Yakni bertajuk “Desiminasi Motif dan Corak Kre Alang sebagai Ekspresi Budaya Samawa Menuju Perlindungan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK)”, Senin (2/3/2026).
Kegiatan ini merupakan puncak riset mendalam selama tiga bulan oleh tim peneliti dari Universitas Samawa (UNSA), dengan dukungan penuh dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara serta Kesultanan Sumbawa.
■ Jejak Riset 90 Hari, Membongkar Ingatan Kolektif
Koordinator kegiatan, Muhammad Yamin, SE., M.Si., mengungkapkan bahwa riset ini bukan sekadar pengumpulan data, melainkan perjalanan membongkar kembali ingatan kolektif masyarakat Samawa.
Selama hampir 90 hari, tim menyisir 24 kecamatan di Kabupaten Sumbawa untuk menelusuri motif-motif Kere Alang yang nyaris terputus sejarahnya. Tantangan terbesar adalah semakin sedikitnya sumber lisan yang memahami makna asli setiap motif.
Tim akhirnya menemukan satu-satunya penenun senior, Ibu Habibah (70 tahun), yang pernah belajar langsung di lingkungan Dalam Loka.
“Kami menyadari adanya keterputusan sejarah. Orang-orang yang mengetahui cerita asli di balik motif ini semakin sedikit. Namun berkat keuletan tim, kami berhasil menemukan mata rantai yang tersisa,” ujar Yamin.
■ Pesan Bupati : Budaya Adalah Identitas
Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, membuka acara dengan pantun sarat makna sebagai simbol komitmen menjaga budaya agar tidak diklaim pihak lain.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Kere Alang bukan sekadar kain, melainkan identitas diri dan marwah masyarakat Sumbawa. Ia juga menyisipkan humor cerdas mengenai penamaan motif dan kuliner seperti “Janda Berenang”, untuk menegaskan bahwa setiap nama dalam budaya Samawa memiliki filosofi mendalam.
“Kita tidak ingin motif Sumbawa diklaim daerah lain. Desiminasi ini adalah ikhtiar agar 50 motif yang telah ditemukan mendapatkan perlindungan hukum sebagai Kekayaan Intelektual Komunal. Saya juga menantang anak muda, desainer grafis, dan arsitek untuk belajar dari leluhur,” tegasnya.
■ 50 Motif dan Makna Spiritualnya
Ketua Tim Penelitian, Dr. Ike Wulan Ayu, menjelaskan bahwa riset menggunakan pendekatan etnografi dan observasi mendalam untuk memastikan validitas setiap motif.
Beberapa motif yang berhasil diidentifikasi antara lain:
• Lasuji Kemang Langit – Pesan religi untuk menunaikan ibadah dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.
• Kemang Kenanga – Simbol persiapan bekal amal sebelum kembali kepada Sang Pencipta.
• Bintang Salapat – Melambangkan jalan lurus dan petunjuk dalam meraih rida Tuhan.
• Lasuji Aneng Bulaeng (Motif Lebah) – Filosofi kemanfaatan bagi sesama tanpa merusak alam.
• Hujan Emas & Bintang Kasewir – Pesan syukur atas limpahan rahmat Ilahi.
• Intan Kasenar – Lambang kepribadian terpuji yang berkilau seperti permata.
• Jit Tahan Uji – Sulaman kuno langka abad ke-7, simbol ketangguhan dan status sosial tinggi.
Riset ini juga menghadapi tantangan perbedaan persepsi antarbudayawan, namun berhasil menyatukan narasi ilmiah berbasis bukti lapangan.
■ Strategi Ke Depan : Masuk Kurikulum Muatan Lokal
Salah satu hasil strategis kegiatan ini adalah rencana pemerintah menjadikan motif Kere Alang sebagai bagian dari Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai keterputusan sejarah serta menanamkan kebanggaan budaya sejak dini.
“Rian maras tu batompok, tu ape manfaat tawa budaya Tana Samawa. Tana Samawa ta intane, senap semu nyaman nyawe, tu tokal nyaman ate,” pungkas Bupati dalam bahasa daerah, mengajak seluruh masyarakat menjaga dan merawat warisan leluhur.
Dengan desiminasi ini, Sumbawa tidak hanya merawat masa lalu, tetapi juga mengunci marwah budayanya untuk masa depan — memastikan Kere Alang tetap hidup sebagai identitas dan kebanggaan Tana Samawa. (*)













