Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Nusa Tenggara Barat (NTB) selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun, capaian terbaru menunjukkan bahwa daerah ini telah melangkah jauh melampaui perannya sebagai penghasil pangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang diperbarui pada Januari 2026 mencatat Prevalence of Undernourishment (PoU) atau Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan NTB sebesar 2,67 persen, terendah di Indonesia. Angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan rata-rata nasional yang berada pada level 7,89 persen.

PoU merupakan indikator yang mengukur persentase penduduk yang mengonsumsi pangan di bawah kebutuhan energi minimum untuk hidup sehat, aktif, dan produktif. Semakin rendah angka PoU, semakin kecil jumlah masyarakat yang mengalami ketidakcukupan konsumsi pangan.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, mengatakan capaian tersebut menunjukkan keberhasilan pembangunan sektor pangan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memastikan pangan dapat diakses dan dikonsumsi masyarakat secara memadai.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal banyaknya produksi, tetapi bagaimana pangan tersebut benar-benar hadir di meja makan masyarakat. Data ini menunjukkan bahwa NTB berhasil mengubah kekuatan produksinya menjadi ketercukupan konsumsi bagi warga,” ujarnya.

Baca Juga:  PC IKA PMII Sumbawa Sambangi Wabup Ansori

Capaian NTB menjadi semakin menonjol ketika dibandingkan dengan sejumlah provinsi besar lainnya. Data BPS mencatat PoU DKI Jakarta sebesar 3,22 persen, Jawa Barat 5,23 persen, Jawa Tengah 8,61 persen, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 8,41 persen.

Keberhasilan tersebut ditopang oleh kekuatan sektor pangan NTB yang terus tumbuh. Pada tahun 2025, produksi padi mencapai sekitar 1,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat lebih dari 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi jagung tercatat sekitar 1,2 juta ton, menjadikan NTB sebagai salah satu sentra jagung terbesar nasional.

Di sektor peternakan, populasi sapi telah melampaui 1,3 juta ekor, sementara sektor kelautan dan perikanan terus berkembang melalui potensi perikanan tangkap maupun budidaya yang besar. Berbagai komoditas unggulan seperti bawang merah, cabai, hortikultura, rumput laut, dan pangan lokal lainnya turut memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah.

Baca Juga:  Pelajar dan Pemuda Sumbawa Rumuskan Rekomendasi Strategis dalam Sidang Sekolah Pilar Muda

Menurut Ahsanul Khalik, kekuatan terbesar NTB bukan hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan pangan, melainkan pada keberhasilannya memastikan hasil produksi tersebut dapat diakses masyarakat secara luas.

“Tidak semua daerah penghasil pangan mampu mencapai kondisi di mana produksi yang tinggi berbanding lurus dengan ketercukupan konsumsi masyarakat. NTB berhasil membuktikan hal itu,” katanya.

Ia menjelaskan, ketahanan pangan memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketersediaan pangan yang cukup dan bergizi berkontribusi terhadap perbaikan kesehatan masyarakat, penurunan angka stunting, peningkatan produktivitas, serta penguatan kualitas pendidikan.

Dalam perspektif pembangunan daerah, ketahanan pangan menjadi investasi jangka panjang yang mendukung peningkatan kualitas kesehatan, penguatan pendidikan, percepatan penurunan stunting, dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Bagi Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri, capaian tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan daerah yang menempatkan penguatan ketahanan pangan sebagai salah satu agenda utama.

Baca Juga:  Porprov XII NTB 2026 Jadi Batu Loncatan Menuju Lima Besar PON 2028

Ke depan, tantangan yang dihadapi bukan hanya mempertahankan capaian tersebut, tetapi juga mengoptimalkan potensi pangan sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat melalui hilirisasi pertanian, modernisasi peternakan, penguatan sektor perikanan, serta pengembangan industri pengolahan pangan.

“Fondasi ketahanan pangan yang kuat harus menjadi pintu masuk bagi agenda pembangunan lainnya, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan daya saing ekonomi daerah,” ujar Ahsanul Khalik.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan sesungguhnya bukan sekadar menjadi yang terbaik dalam statistik nasional, melainkan memastikan setiap keluarga memperoleh pangan yang cukup dan bergizi, setiap anak tumbuh sehat, serta setiap petani, peternak, dan nelayan menikmati hasil pembangunan secara nyata.

“Ketahanan pangan pada akhirnya adalah tentang kualitas hidup manusia. Dan hari ini, NTB telah menunjukkan bahwa daerah ini tidak hanya menjadi lumbung pangan, tetapi juga mampu mengubah kekuatan pangan menjadi kesejahteraan rakyat,” pungkasnya. (*)