Safari Ramadhan Wakil Gubernur NTB di SMK 3 Kota Bima. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, melakukan kunjungan Safari Ramadan di SMK Negeri 3 Kota Bima. Kunjungan tersebut diisi dengan dialog interaktif bersama.

Dialog itu mulai dari guru hingga siswa, sekaligus penegasan komitmen penguatan karakter, kewirausahaan, serta pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.

Dalam sambutannya, Wagub yang akrab disapa Dinda itu menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan inovasi para siswa. Ia mengaku bangga melihat langsung potensi yang dimiliki generasi muda Bima.

“Saya merasa bangga melihat langsung berbagai kreativitas anak-anak kita. Potensi mereka luar biasa dan ini harus dibaca sebagai peluang ekonomi,” ujarnya.

SMK Harus Jadi Pusat Kewirausahaan

Wagub Dinda menyoroti peluang produksi suvenir pernikahan sebagai pasar potensial di Pulau Sumbawa, khususnya Bima, mengingat tingginya kebutuhan dalam setiap hajatan.

Menurutnya, sekolah kejuruan dapat mengembangkan unit produksi berbasis karya siswa sekaligus melatih jiwa kewirausahaan sejak dini.

“SMK harus berani menjadi pusat produksi dan inovasi. Dari sekolah, lahir produk yang punya nilai jual,” pesannya.

Ia juga mendorong para kepala sekolah dan guru untuk lebih fokus pada capaian prestasi siswa, terutama melalui jalur prestasi dan undangan, agar semakin banyak lulusan Bima dan Pulau Sumbawa diterima di perguruan tinggi negeri bergengsi.

“Jangan jadikan jarak geografis sebagai alasan. Anak-anak kita harus berani menunjukkan prestasi dan menjemput peluang,” tegasnya.

Selain itu, peningkatan kemampuan bahasa Inggris juga menjadi perhatian. Wagub menilai penguasaan bahasa asing merupakan nilai tambah penting untuk meningkatkan daya saing lulusan SMK di dunia kerja.

“Penguatan bahasa Inggris itu penting sebagai nilai tambah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan,” tambahnya.

Sekolah Harus Aman dan Bebas Kekerasan

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Dinda juga menitipkan pesan agar lingkungan sekolah menjadi ruang yang aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk praktik bullying.

“Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan. Rasa aman dan nyaman harus kita jaga bersama agar bullying tidak terulang kembali,” pesannya.

Pesan tersebut disambut komitmen para siswa. Ketua OSIS SMKN 3 Kota Bima, Nafisah, menyampaikan bahwa pihaknya akan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi pencegahan kekerasan.

“Kami mungkin tidak bisa mencegah semua bentuk kekerasan, tetapi kami harus punya tindakan. Media sosial bisa menjadi ruang edukasi agar siswa lebih sadar dan saling menghormati,” ujarnya.

Ia menegaskan sikap tegas menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta mengajak generasi muda berani bersuara menjadi pelopor perubahan.

Ketua OSIS periode sebelumnya, Gifar, menambahkan bahwa pada masa kepemimpinannya, OSIS memberdayakan ekstrakurikuler PIKR (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) sebagai garda terdepan kampanye anti-bullying.

“PIKR menjadi tombak utama kami dalam sosialisasi anti-bully. Mereka membuat edukasi langsung ke siswa dan juga konten di media sosial,” jelasnya.

Beberapa anggota PIKR bahkan tergabung dalam Forum Anak dan Forum GenRe tingkat kota hingga provinsi, sehingga memiliki kapasitas dalam menyampaikan edukasi sebaya.

Pendekatan teman sebaya dinilai lebih efektif karena mudah diterima oleh siswa.

Ruang Tumbuh bagi Mimpi

Kisah para siswa SMKN 3 Kota Bima menjadi bukti bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuh bagi mimpi dan harapan. Dari hobi sederhana seperti menggambar, lahir keterampilan profesional yang membuka peluang organisasi, prestasi, hingga masa depan karier.

Dengan dukungan sekolah yang inklusif dan perhatian terhadap kondisi ekonomi siswa, SMKN 3 Kota Bima terus menjadi wadah yang memberi kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang, berdaya, dan percaya diri menatap masa depan.

Safari Ramadan ini pun menjadi pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari sekolah — dari ruang kelas, dari dialog, dan dari keberanian bermimpi. (*)