Anggota DPR RI Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa yang juga Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, H. Johan Rosihan, S.T., M.H., CPM. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Pelajar dan pemuda dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumbawa mengikuti kegiatan Sekolah Pilar Muda Hari Kedua yang digelar di Aula H.A. Mudji Taslim pada Kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama MPR RI bersama MY Institute tersebut menghadirkan penyampaian materi bertema kepemimpinan dengan narasumber H. Johan Rosihan, S.T., M.H., CPM.

Kegiatan dimulai pada pukul 20.01 WITA dan dibuka oleh Moderator Supriady, S.M. Forum berlangsung dengan suasana interaktif yang melibatkan pelajar dan pemuda se-Kabupaten Sumbawa dalam diskusi mengenai kepemimpinan, tantangan generasi muda, persoalan kebangsaan, hingga tantangan masa depan yang dihadapi Indonesia.

Dalam penyampaian materinya, Haji Johan Rosihan menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan bangsa. Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya dipahami sebagai posisi atau jabatan, tetapi lebih dari itu merupakan bentuk tanggung jawab dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang memiliki keberanian bertanggung jawab, integritas, kemampuan menghadapi tekanan, serta kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar. Hal tersebut dinilai penting di tengah perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.

Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa generasi muda saat ini hidup di tengah kondisi yang dipenuhi banjir informasi, polarisasi sosial, serta perkembangan teknologi yang semakin kompleks. Karena itu, pemimpin masa depan dituntut memiliki kemampuan belajar yang cepat dan mental yang kuat.

Selain kemampuan intelektual, empati sosial juga disebut menjadi kualitas penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Kepemimpinan dinilai bukan sekadar kemampuan memimpin organisasi atau memperoleh kekuasaan, tetapi kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pemimpin bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang tanggung jawab, manfaat, dan pengabdian kepada masyarakat dan bangsa,” menjadi salah satu penekanan utama dalam materi yang disampaikan kepada peserta Sekolah Pilar Muda. Dalam pemaparannya, H. Johan Rosihan juga menceritakan perjalanan kepemimpinannya sejak aktif di organisasi hingga menjadi anggota parlemen.

Ia menjelaskan bahwa proses kepemimpinan dibentuk melalui perjalanan panjang dalam aktivitas organisasi dan kegiatan sosial di masyarakat. Menurutnya, organisasi merupakan tempat belajar yang penting bagi anak muda. Dari organisasi, seseorang dapat belajar disiplin, komunikasi, kerja sama, serta keberanian tampil di depan publik. Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting dalam membangun kemampuan kepemimpinan.

Baca Juga:  Sekolah Pilar Muda Hari Pertama Bahas Resolusi Konflik dan Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan

Setelah melalui proses aktivisme dan organisasi, perjalanan pengabdiannya berlanjut sebagai anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat pada periode 2004 hingga 2019. Dalam periode tersebut, fokus utama yang dihadapi adalah memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.

Berbagai persoalan pembangunan seperti jalan, irigasi, sekolah, kesehatan, pertanian, hingga kebutuhan nelayan menjadi bagian dari tugas dan perhatian selama menjalankan amanah di tingkat daerah. Dalam materi yang disampaikan kepada peserta, H. Johan Rosihan menjelaskan bahwa pengalaman turun langsung ke masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun perspektif kepemimpinan yang memahami kebutuhan rakyat.

Perjalanan pengabdian kemudian berlanjut sejak tahun 2019 hingga sekarang sebagai anggota DPR RI Komisi IV. Komisi tersebut membidangi sektor pertanian, kehutanan, kelautan, dan perikanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Dalam menjalankan tugas di DPR RI, berbagai persoalan nasional disebut menjadi tantangan besar yang dihadapi. Persoalan tersebut antara lain mafia pangan, kerusakan hutan, konflik lahan, kesejahteraan petani dan nelayan, hingga ketahanan pangan nasional.

Selain itu, perubahan iklim dan krisis pangan dunia juga disebut menjadi tantangan serius yang harus dihadapi Indonesia pada masa mendatang. Karena itu, sektor pertanian dan ketahanan pangan dinilai menjadi bidang yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Dalam penjelasannya, H. Johan Rosihan menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan beras atau bahan pangan semata, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan bangsa menjaga kemandirian dan keberlangsungan hidup masyarakat. Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai tugas DPR RI, khususnya Komisi IV. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa DPR memiliki tiga fungsi utama, yakni legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Baca Juga:  Di Forum MPU 2026, Wagub NTB Tegaskan Bali–Nusra Jadi Kekuatan Strategis Nasional

Fungsi legislasi berkaitan dengan pembentukan undang-undang. Fungsi anggaran berkaitan dengan pembahasan dan penetapan APBN, sedangkan fungsi pengawasan dilakukan untuk memastikan jalannya pemerintahan berjalan sesuai aturan dan kepentingan masyarakat.

Dalam ruang lingkup kerja Komisi IV, berbagai sektor strategis menjadi perhatian utama, mulai dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, hingga ketahanan pangan nasional. Selain menjalankan tugas di DPR RI, H. Johan Rosihan juga menjalankan tugas di MPR RI melalui kegiatan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan.

Di materi tersebut dijelaskan bahwa 4 Pilar Kebangsaan memiliki peran penting dalam menjaga arah kebangsaan dan persatuan Indonesia. Pilar pertama yang dibahas adalah Pancasila. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa Pancasila bukan hanya sekadar hafalan, tetapi harus dipahami sebagai nilai hidup yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan kemanusiaan disebut sebagai bagian penting dari implementasi Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Pilar kedua adalah Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi aturan tertinggi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. UUD 1945 disebut memiliki fungsi memastikan negara berjalan sesuai konstitusi dan aturan hukum yang berlaku.

Selanjutnya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam pembahasan tersebut dijelaskan pentingnya menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman suku, budaya, dan daerah dari Sabang sampai Merauke. Pilar terakhir adalah Bhinneka Tunggal Ika yang mengajarkan bahwa perbedaan bukan menjadi alasan untuk bermusuhan, melainkan menjadi kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama.

Pada sesi pembahasan mengenai kepemimpinan masa depan, H. Johan Rosihan menjelaskan bahwa tantangan generasi muda ke depan akan jauh lebih kompleks dibandingkan masa sekarang. Perkembangan Artificial Intelligence (AI), krisis lingkungan dan iklim, geopolitik global, perang informasi dan hoaks, hingga perubahan dunia kerja disebut menjadi tantangan yang akan dihadapi pemimpin masa depan.

Karena itu, generasi muda dituntut untuk memiliki kemampuan adaptif, kreatif, dan cepat belajar dalam menghadapi perubahan zaman. Namun demikian, kemampuan tersebut harus tetap dibarengi dengan integritas dan nilai moral yang kuat. Menurutnya, pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki empati, kemampuan komunikasi, kemampuan berkolaborasi, serta daya tahan mental dalam menghadapi tekanan.

Baca Juga:  Sumbawa Hijau Lestari Dilirik Nasional, Bupati Jarot Dukung Penuh Satgas Hutan

Di bagian akhir materi, H. Johan Rosihan menyampaikan pesan khusus kepada pelajar dan pemuda yang mengikuti kegiatan Sekolah Pilar Muda. Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut bermimpi besar meskipun berasal dari daerah. Menurutnya, daerah bukan penghalang untuk menjadi pemimpin nasional. Kesempatan untuk berkembang tetap terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan belajar, bekerja keras, dan terus bergerak.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan seorang pemimpin sejak dini, seperti tepat waktu, gemar membaca, mau mendengar, rajin menulis, disiplin, dan menjaga ucapan. Selain itu, pemimpin disebut harus menjadi penyelesai masalah yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar mencari popularitas. Kegiatan penyampaian materi berlangsung interaktif melalui sesi diskusi bersama peserta.

Dalam sesi tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan generasi muda dan kepemimpinan. Beberapa topik yang dibahas antara lain mengenai krisis terbesar anak muda saat ini, pengaruh media sosial terhadap kepemimpinan, prioritas pembangunan apabila menjadi Bupati Sumbawa, perbedaan antara orang terkenal dan pemimpin, hingga pandangan mengenai politik.

Diskusi berlangsung aktif dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Para peserta terlihat aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan terkait materi yang disampaikan selama kegiatan berlangsung. Secara keseluruhan, materi yang disampaikan dalam Sekolah Pilar Muda menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya dibangun oleh orang-orang hebat di pusat pemerintahan, tetapi juga oleh anak-anak muda daerah yang memiliki semangat belajar, bekerja, bergerak, dan mengabdi bagi bangsa.

Melalui kegiatan tersebut, pelajar dan pemuda Kabupaten Sumbawa diharapkan mampu meningkatkan wawasan kepemimpinan, memperkuat nilai kebangsaan, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan dengan tetap mengedepankan integritas dan kepedulian sosial. Kegiatan Sekolah Pilar Muda Hari Kedua kemudian resmi ditutup pada pukul 21.32 WITA. (*)