
NUSRAMEDIA.COM — Tidak ada manusia yang benar-benar tinggal selamanya di atas bumi. Cepat atau lambat, bumi akan mengambil kembali setiap langkah yang pernah berjalan di atasnya. Hari ini manusia melangkah dengan dada penuh kebanggaan.
Sebagian merasa tinggi karena jabatan. Sebagian merasa mulia karena kekayaan. Sebagian merasa dirinya penting karena pujian manusia. Padahal tanah yang diinjaknya hari ini diam-diam sedang menunggu hari kepulangannya.
Mungkin karena itulah Allah membiarkan rumput tumbuh dengan tenang di bawah kaki manusia, agar manusia belajar bahwa sesuatu yang hari ini diinjak, suatu hari nanti dapat tumbuh perlahan di atas dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman : “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan mu, kepadanyalah Kami akan mengembalikan mu, dan darinya pula Kami akan membangkitkan mu pada waktu yang lain.” (QS. Thaha: 55)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang asal penciptaan manusia, tetapi juga tentang runtuhnya seluruh kesombongan manusia. Sebab setinggi apa pun seseorang berdiri hari ini, pada akhirnya ia akan dibaringkan di bawah tanah dalam kesunyian yang tidak lagi mengenal pangkat, kekayaan, maupun nama besar.
Begitulah kehidupan. Dimana yang muda perlahan menua, yang kuat perlahan melemah. Yang dipuji perlahan dilupakan. Dan yang hidup perlahan berjalan menuju liang kuburnya sendiri.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula bagian dari dirimu.” Betapa dalam kalimat ini.
Manusia sering merayakan pertambahan usia, padahal sesungguhnya umur sedang berkurang sedikit demi sedikit menuju kematian. Hari ini manusia sibuk memperindah rumahnya, tetapi lupa bahwa rumah terakhirnya hanyalah tanah yang sempit dan gelap.
Ia takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan kesempatan bertaubat. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan:“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar hatinya kembali jernih. Orang yang sering mengingat kematian tidak akan mudah sombong.
Ia tahu bahwa wajah yang hari ini dipuji akan berubah menjadi tanah. Dan nama yang hari ini diagungkan, suatu hari mungkin hanya tinggal tulisan samar di batu nisan yang mulai dilupakan. Betapa banyak manusia yang dahulu berjalan dengan penghormatan dan kemegahan.
Ketika datang, orang-orang berdiri menyambutnya. Suaranya didengar. Kehadirannya diperebutkan. Namun waktu berjalan tanpa pernah peduli kepada siapa pun. Hari ini kursinya telah diisi orang lain. Rumahnya mulai sepi. Dan rumput liar perlahan tumbuh di atas tanah tempat tubuhnya dibaringkan.
Allah SWT berfirman : “Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27) Ayat ini seperti mengetuk kesadaran manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi selain Allah SWT.
Harta akan ditinggalkan. Kedudukan akan berpindah. Dan tubuh yang dahulu dibanggakan akan kembali menjadi tanah. Kuburan tidak pernah terburu-buru, tetapi ia selalu berhasil menunggu setiap manusia.
Karena itu Imam Al-Ghazali berkata: “Dunia adalah tempat singgah, bukan tempat tinggal.” Namun manusia sering memperlakukan dunia seolah ia akan hidup selamanya di dalamnya. Mereka sibuk meninggikan bangunan, tetapi lupa meninggikan amal.
Mereka sibuk mempercantik wajah di hadapan manusia, tetapi lalai membersihkan hati di hadapan Allah. Padahal ketika kematian datang, yang ikut mengantar ke liang kubur hanyalah: _beberapa lembar kain kafan, doa orang-orang yang mencintainya, dan amal yang pernah ia kerjakan._ Tidak ada manusia yang terlalu tinggi untuk tanah.
Sebab tanah tidak pernah gagal merendahkan seluruh kesombongan manusia. Karena itu orang yang bijak bukanlah yang paling tinggi kedudukannya di dunia, tetapi yang paling sadar bahwa hidupnya hanya sementara. Ia tidak terlalu sombong ketika berada di atas. Tidak terlalu putus asa ketika berada di bawah.
Karena ia tahu bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat antara tanah dan tanah. Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.
Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)_ Maka jangan terlalu bangga terhadap sesuatu yang suatu hari akan kita tinggalkan.
Sebab pada akhirnya, rumput yang hari ini kita injak dengan langkah penuh kebanggaan… akan tumbuh perlahan di atas kita, dalam sunyi yang tidak lagi mengenal jabatan, kekayaan, maupun nama besar.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menjaga kita dari kesombongan dunia, dan menjadikan hidup kita penuh amal sebelum bumi benar-benar menjadi tempat peristirahatan terakhir kita.
Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamin.
DR. 4KA













