
NUSRAMEDIA.COM — Wacana Pemerintah Daerah (Pemda) Sumbawa membangun pusat perbelanjaan modern atau mall di lokasi Pasar Seketeng terus menuai tanggapan dari berbagai elemen.
Setelah sejumlah pihak, kini giliran H. Salman Alfarizi, S.H., angkat suara, Jum’at (11/09/2026). Anggota DPRD NTB asal Dapil V Sumbawa-KSB itu nampak menyambut baik ‘nawaitu’ Pemda Sumbawa.
Namun, di sisi lain, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini memberikan beberapa pandangan sebagai saran, masukan, maupun pertimbangan bagi Pemda Sumbawa dalam mengambil langkah terkait rencana tersebut.
Pasar Seketeng Punya Nilai Sejarah
Menurut Haji Salman demikian ia kerap disapa, Pasar Seketeng bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, namun juga merupakan bagian dari sejarah sekaligus ikon pasar tradisional masyarakat Samawa.
“Jangan merubah ikon pasar tradisional Sumbawa yang punya cerita lama tau samawa (orang Sumbawa). Kalau ritel tradisional dirubah jadi ritel pasar modern, menghapus sejarah,” ujarnya, Jum’at (11/09/2026).
Oleh karenanya, Anggota Komisi II DPRD Provinsi NTB itu menyarankan agar pembangunan mall alangkah baiknya bisa dilakukan di wilayah pinggiran Sumbawa.
Dengan harapan, agar terjadinya sebaran yang positif. Baik itu dari sisi menggeliatnya ekonomi maupun keramaian dan lain sebagainya.
Belajar dari UNSA dan UTS
Contoh, kata dia, seperti pembangunan pusat pendidikan Universitas Samawa (UNSA) dan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
Menurut Haji Salman, keberadaan UNSA dan UTS dinilai mampu menghidupkan pendidikan maupun perekonomian di daerah pinggiran Sumbawa.
“Buat di pinggiran Sumbawa biar sebaran keramaian tersebar. Seperti pusat pendidikan UNSA dan UTS. Jadi hidup ekonomi daerah pinggiran,” sarannya.
Pertanyakan Anggaran Pembangunan Mall
Tak hanya itu, mantan Anggota DPRD Sumbawa tersebut lantas mempertanyakan anggaran yang akan digunakan Pemda untuk membangun Mall Sumbawa.
Hal ini harus difikirkan, lantaran dinilai menjadi bagian penting untuk diperhatikan secara bersama, sehingga benar-benar menuai kejelasan.
Karena berkaitan dengan pengadaan tanah hingga soal pembangunan dan lain sebagainya. Hal ini ditegaskan Haji Salman, Sumbawa diharapkan dapat belajar dari Kota Mataram.
“Jangan sampai seperti aset Pemkot (Pemerintah Kota) Mataram, yakni Mataram Mall, mati suri dan rugi. Karena salah satu tujuan kita adalah memperkuat ekonomi UMKM,” ujarnya.
Samota Bisa Jadi Opsi
Haji Salman pun lantas menanggapi soal mencuatnya wilayah Samota. Dimana masyarakat justru mendorong pembangunan Mall Sumbawa bisa dilaksanakan di wilayah Samota saja. Menurut dia, wilayah Samota cukup bagus.
Selain luas, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan memberikan dampak yang luar biasa sebagai wilayah pengembangan. Baik itu dari sisi ekonomi hingga pembangunan. “Bagus juga di Samota masuk kawasan baru,” kata Haji Salman.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penentuan lokasi mall tidak boleh hanya didasarkan pada pertimbangan ketersediaan lahan atau keinginan membangun pusat perbelanjaan modern.
Pemda Sumbawa perlu melihatnya dalam perspektif yang lebih luas, terutama dengan mengacu pada RTRW, master plan pembangunan daerah, serta arah pengembangan Sumbawa untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Dengan perencanaan yang matang, kata Haji Salman, pembangunan pusat perbelanjaan diharapkan benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat perekonomian daerah, membuka ruang bagi UMKM, sekaligus menciptakan pemerataan pertumbuhan antarwilayah.
“Yang paling penting, jangan sampai pembangunan hari ini justru mengorbankan sejarah dan kebutuhan pembangunan Sumbawa di masa depan,” demikian Dewan Haji Salman Alfarizi menambahkan. (*)












