
NUSRAMEDIA.COM — Produk-produk lokal Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. Pemerintah pusat pun mendorong perluasan akses ekspor bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penguatan jaringan perdagangan luar negeri, peningkatan kualitas produk, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Dorongan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendag RI) Budi Santoso usai melakukan kunjungan kerja ke Pasar Kebon Roek dan meninjau Pasar Murah yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB di halaman Bale Kita Islamic Center, Mataram, Kamis (5/11/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Mendag berdialog langsung dengan sejumlah pelaku UMKM sekaligus melihat berbagai produk lokal NTB yang dipamerkan di Bale Kita. Dari hasil peninjauan itu, produk-produk daerah dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas jangkauan pemasaran hingga ke pasar ekspor.
Ia mengungkapkan, sejumlah UMKM NTB telah mengikuti berbagai program Kementerian Perdagangan, termasuk Trade Expo Indonesia (TEI) dan program penjajakan pasar. Bahkan, beberapa produk telah berhasil mendapatkan buyer dari sejumlah negara.
“Banyak UMKM di NTB ini yang berorientasi ekspor. Tadi kami ketemu juga yang sudah ikut di program-program Kementerian Perdagangan. Kemarin di acara itu ada yang dapat buyer ke beberapa negara,” ujarnya.
Perkuat Jaringan Perdagangan, Buka Akses Pasar di 33 Negara
Untuk memperluas akses pasar internasional, Kementerian Perdagangan akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui dukungan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara dengan total 46 perwakilan, termasuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).
Menurut Mendag, tantangan yang dihadapi UMKM bukan semata-mata kemampuan memproduksi barang, melainkan juga keterbatasan akses pemasaran. Karena itu, pemerintah akan membantu mempertemukan produk-produk lokal dengan calon pembeli di luar negeri.
“Tugas utama kita adalah bagaimana meningkatkan ekspor, khususnya untuk produk-produk lokal dan produk-produk UMKM. Kita bantu UMKM ini yang bisa memproduksi tapi kebanyakan tidak bisa jualan. Kita carikan market-nya di luar negeri melalui perwakilan kita,” jelasnya.
Selain membuka akses pasar, pemerintah juga akan memperkuat pembinaan melalui pelatihan ekspor, klinik desain, serta peningkatan kualitas kemasan agar produk UMKM mampu memenuhi standar internasional.
Sementara terkait kendala logistik dan fasilitas pelabuhan ekspor di NTB, pemerintah pusat akan melakukan koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.
“Potensi yang ada dulu kita kembangkan, jadi yang bisa jalan kita jalankan. Sambil tentu dibenahi logistiknya karena saya pikir problem logistik kita juga besar, sehingga kita harus bisa menyelesaikan bersama-sama,” pungkasnya.
Pemprov NTB Apresiasi Dukungan Pemerintah Pusat
Sementara itu, Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan UMKM daerah. Menurutnya, kunjungan Mendag menjadi kesempatan penting bagi para pelaku usaha untuk menyampaikan secara langsung berbagai kebutuhan dan kendala yang dihadapi dalam memperluas pasar.
“Yang utama, beliau juga berdialog langsung dengan sejumlah UMKM kita. Melalui beberapa kegiatan yang digelar kementerian, produk-produk lokal kita diberikan peluang untuk menembus pasar dan memiliki buyer sendiri,” ungkap Wagub.
Ia menjelaskan, UMKM yang tengah mengembangkan usaha maupun yang telah memiliki akses pasar akan mendapatkan pendampingan lanjutan melalui pelatihan dan coaching clinic. Materi pendampingan mencakup peningkatan kualitas kemasan, pemenuhan standar produk, hingga upaya memperpanjang masa simpan.
Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari pemantauan terhadap UMKM yang telah melakukan ekspor, baik melalui kerja sama dengan eksportir maupun secara mandiri dari NTB.
“Jadi, kehadiran beliau tidak hanya memastikan kesiapan UMKM yang belum melakukan ekspor, tetapi juga memantau teman-teman UMKM yang sudah memiliki pasar, baik yang masih bergabung dengan eksportir lain maupun yang langsung dari NTB,” jelasnya.
Wagub menyebutkan, sejumlah produk potensial NTB yang memiliki peluang untuk dikembangkan di pasar lebih luas di antaranya bawang putih, kacang mete, produk olahan, dan suvenir. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas serta perluasan jaringan pemasaran agar semakin kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
Dekranasda Siapkan Pendampingan, Kualitas Produk Jadi Perhatian
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB, Hj. Sinta Agathia Iqbal, menyatakan bahwa kunjungan Mendag memberikan banyak masukan sekaligus solusi terhadap berbagai kendala yang selama ini dihadapi pelaku UMKM.
Dekranasda bersama Disperindag NTB berkomitmen menindaklanjuti program pelatihan dan pendampingan yang ditawarkan Kementerian Perdagangan.
“Programnya bagus sekali dan sudah dibukakan. Tadi kami sudah terkontak dengan orang-orang yang punya kuasa di situ. Insyaallah segera kita tindak lanjuti pendekatan dari sekarang, tahun depan semua bisa kita lakukan,” ujarnya.
Menurut Sinta, persoalan utama yang perlu mendapat perhatian adalah kualitas dan kuantitas produksi. Sejumlah produk masih menghadapi kendala masa kedaluwarsa yang belum mencapai satu tahun, keterbatasan kapasitas produksi, serta konsistensi kualitas.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Dekranasda menyambut baik rencana kerja sama dengan perguruan tinggi di NTB guna mendukung riset dan pengembangan produk. Selain itu, pelatihan daring yang disediakan kementerian juga akan ditindaklanjuti agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku UMKM.
“Tadi Pak Sekjen juga menyatakan akan mencoba bekerja sama dengan universitas yang ada di sini supaya tidak jauh-jauh. Kemudian dibukakan juga pelatihan-pelatihan online dari kementerian, itu yang akan kami follow-up insyaallah ke depan,” tambahnya.
Sinta menegaskan, selain cita rasa dan tampilan produk, kemampuan menjaga kesinambungan pasokan serta konsistensi kualitas merupakan faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan buyer.
“Itu yang kami tekankan kepada teman-teman UMKM untuk bisa mempertahankan kualitasnya. Supaya jangan sampai kalau trust itu sudah cacat, susah lagi kita dapat kepercayaan,” pungkasnya. (*)













