
NUSRAMEDIA.COM — Kebakaran yang melanda kawasan permukiman adat Sade di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8) malam, mendapat perhatian DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Komisi II DPRD NTB Bidang Perekonomian, Lalu Pelita Putra, mendorong pemerintah segera melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak sekaligus menyiapkan langkah revitalisasi rumah adat Sade yang terbakar.
Pelita menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat di salah satu kawasan adat dan destinasi budaya paling dikenal di NTB tersebut.
“Pertama, kita belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah kebakaran yang menimpa saudara-saudara kita di Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut. Kami prihatin dan turut merasakan duka yang dialami oleh warga, terutama pemilik rumah adat yang terdampak,” ujarnya, Senin (24/08/2026).
Menurut Miq Pelita kerap ia disapa, Desa Adat Sade memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kawasan permukiman. Rumah-rumah tradisional yang berdiri di kawasan tersebut merupakan bagian dari sejarah, identitas dan warisan budaya masyarakat Sasak.
“Desa Sade adalah jiwa masyarakat Sasak. Setiap tiang, setiap alang-alang adalah warisan leluhur. Musibah ini adalah ujian dari Sang Khalik,” kata politisi yang akrab disapa Miq Pelita tersebut.
Penanganan Warga Harus Jadi Prioritas
Miq Pelita yang merupakan anggota DPRD NTB dari daerah pemilihan (Dapil) 8 Lombok Tengah Selatan meminta pemerintah tidak hanya fokus pada kerusakan bangunan, tetapi juga memastikan kebutuhan warga yang terdampak segera ditangani.
Menurutnya, langkah penanganan sementara harus menjadi prioritas sebelum pemerintah masuk pada tahap pemulihan dan pembangunan kembali rumah adat. “Kita pikirkan dulu penanganan sementara pasca kebakaran untuk saudara-saudara kita yang terdampak,” ujarnya.
Ia menilai kondisi warga yang kehilangan atau terdampak tempat tinggal harus segera mendapatkan perhatian pemerintah. Bantuan dan penanganan awal diperlukan agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas setelah musibah tersebut.
Dorong Revitalisasi Rumah Adat
Setelah kebutuhan mendesak warga ditangani, Pelita mendorong adanya langkah bersama untuk membangun kembali rumah adat yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.
Ia mengajak Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Pemerintah Provinsi NTB, serta seluruh pihak terkait bergotong royong melakukan revitalisasi kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya tersebut.
“Setelah itu perlu dipikirkan bagaimana langkah-langkah selanjutnya untuk membangun kembali rumah adat. Harus ada langkah-langkah untuk dilakukan revitalisasi. Semua pihak harus bekerja bergotong-royong sesuai kapasitas masing-masing, baik itu Pemkab, Pemprov dan pihak terkait lainnya,” tegasnya.
Pelita menilai revitalisasi tidak semata-mata bertujuan mengembalikan bentuk fisik bangunan, tetapi juga menjaga keberlangsungan warisan budaya Sasak yang telah menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Lombok.
Karena itu, proses pemulihan diharapkan dilakukan dengan tetap memperhatikan karakter arsitektur tradisional serta nilai-nilai budaya yang melekat pada Desa Adat Sade.
Api Cepat Merambat
Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman cagar budaya Desa Adat Sade pada Sabtu (22/8) malam. Kepala Desa Rembitan, Lalu Winakse, menyampaikan kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 WITA.
Kondisi bangunan rumah adat Suku Sasak yang sebagian besar menggunakan material mudah terbakar membuat api dengan cepat membesar dan merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Atap rumah yang menggunakan jerami kering serta dinding berbahan anyaman bambu membuat kobaran api sulit dikendalikan ketika kebakaran terjadi.
Musibah tersebut menjadi perhatian serius karena Desa Adat Sade bukan hanya merupakan kawasan permukiman tradisional, tetapi juga salah satu simbol keberadaan dan kelestarian budaya Sasak di Lombok.
DPRD NTB berharap penanganan pascakebakaran dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. Pemerintah daerah bersama masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat bergotong royong memulihkan kawasan tersebut sekaligus memastikan warisan budaya Sade tetap terjaga untuk generasi mendatang. (*)













