

NUSRAMEDIA.COM — Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia tinggal menghitung bulan pada 2024 mendatang. Namun, hingga saat ini kepastian bakal calon Presiden dan Wakil Presiden belum mendapatkan titik temu. Berbagai perubahan koalisi partai di bulan-bulan terakhir kian mengerucut.
Dari berbagai media nasional, tiga nama sudah mendapatkan partai pengusung dan pendukung yang cukup untuk mendorongnya mereka merebut kursi Indonesia 1. Tetapi untuk kursi Indonesia 2 masih misterius hingga saat ini. Saling tarik ulur kepentingan dan hitung-hitungan elektabilitas masih diukur.
Namun bagaimana dengan penilaian Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyikapi nama-nama bakal calon presiden dari tokoh-tokoh nasional, dan 3 nama Bakal Calon Presiden Indonesia yang saat ini sudah mulai dibicarakan hampir di seluruh media?.
Sabtu (17/6/2023), Lembaga Survei Olat Maras Institute (OMI) melalui Direktur Eksekutifnya, Miftahul Arzak menyampaikan bahwa beberapa hari ini mereka melakukan survei terkait keterpilihan Presiden Republik Indonesia berdasarkan pilihan masyarakat NTB.
Miftah menjelaskan bahwa survei yang dilakukan sejak tanggal 1-16 Juni 2023. Survei menggunakan Multistage Random Sampling, dengan Margin of Error +/- 2.89%, dengan tingkat kepercayaan 95% sehingga mendapatkan responden sejumlah 1200 orang. Responden tersebar di seluruh Kabupaten di Provinsi NTB.
“Dalam survei kali ini kami memberikan dua pertanyaan kepada responden,” tegas Miftah. Pertama, kata dia, pertanyaan terbuka untuk masyarakat NTB terkait Presiden pilihan mereka, dari pertanyaan tersebut Anies Baswedan atau mantan Gubernur DKI Jakarta diinginkan menjadi Presiden Indonesia periode 2024-2029 mendatang 57% pemilih.
Menteri Pertahanan Indonesia saat ini, Prabowo Subianto dipilih oleh 18,3% pemilih, sedangkan Ganjar Pranowo yang didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan yang merupakan salah satu partai terbesar di Indonesia 13,2% pemilih, ada juga yang masih menginginkan Jokowi untuk tetap menjadi Presiden 3 Periode 0,1%, Mahfud MD 0,3% dan Puan Maharani 0,2%.
“Sisanya belum menentukan sikap sejumlah 10,9%,” kata Miftah. Sedangkan pertanyaan kedua, jelas Miftah, pihaknya memberikan pertanyaan tertutup yang hanya memunculkan 3 nama Bakal calon Presiden saja. Nama-nama tersebut berdasarkan peta politik nasional hingga saat ini yang sering dikonsumsi oleh masyarakat seluruh Indonesia yang disebarkan oleh berbagai media.
Nama-nama tersebut adalah Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. “Dari pertanyaan tersebut mendapat hasil yang menginginkan Anies Baswedan menjadi Presiden Indonesia adalah 59.8%, Prabowo Subianto 18,4% dan Ganjar Pranowo 12,7%. Sisanya belum menentukan sikap 9%, dan rahasia 0,1%,” ungkap Miftah.
Hasil survei ini menarik, karena pada Periode sebelumnya yang memilih Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 lalu lebih dari 50% pemilih di NTB, namun kini menurun hingga menjadi 18an%. Diwawancara lebih dalam kepada responden bahwa perubahan pemilih banyak yang berpindah ke Anies Baswedan.
Beberapa penilaiannya karena menganggap Prabowo pernah mencalonkan diri menjadi Presiden bahkan wakil Presiden di periode-periode sebelumnya. Selain itu, pemilih Prabowo juga menginginkan figur baru. Ditanya kembali mengapa tidak berpindah ke Ganjar, jawaban responden menjawab karena memang pemilih Prabowo di 2019 lalu tidak ingin memilih sosok Jokowi.
Sedangkan Ganjar dianalogikan dengan sosok Jokowi, sehingga pilihan terbaik saat ini adalah pindah ke Anies Baswedan. Disisi lain memunculkan pertanyaan, Pemilih Jokowi di NTB pada 2019 lalu mencapai 30an%, namun Ganjar yang disebut-sebut merupakan penerus Jokowi hanya dapat meraup 12an% saja, sehingga memunculkan pertanyaan pada pemilih Jokowi yang berubah haluan.
Responden menjawab karena belum ada yang dapat menggantikan sosok Jokowi dari segala sisi. Maka, mereka mencari sosok yang dianggap cerdas dan mampu membawa Indonesia lebih baik kedepan, responden lebih condong ke Anies Baswedan. Walaupun mereka mengakui bahwa Anies juga tidak 100% akan dapat menjadi sosok seperti Jokowi.
Peta perpolitikan di Provinsi NTB ini tentunya tidak banyak menggangu grafik perubahan suara secara nasional. Namun, untuk perpetaan politik pada Pemilihan Legislatif 2024 mendatang di NTB sedikit banyak berpengaruh. Pada 2019 lalu, mayoritas Pemilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia adalah Prabowo-Sandi hingga menyentuh angka di atas 50% pemilih.
Angka tersebut berbanding lurus dengan keterpilihan anggota legislatif 2019. Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mewakili 2 dapil untuk DPR RI di Provinsi NTB, Selain itu, beberapa kepala daerah dan pimpinan Legislatif dari partai tersebut juga banyak yang naik daun, walaupun tidak dinafikkan bahwa mesin partai dan figur anggota legislatif maupun kepala daerah juga memiliki andil besar dalam membesarkan partai.
Akankah fenomena percaturan pileg di NTB akan kembali berjalan lurus dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia atau akan berbeda?. “Tentu, cukup dini untuk kita simpulkan, selain karena peta koalisi yang belum fix, nama-nama wakil presiden juga belum mendapatkan titik temu hingga sekarang,” pungkasnya. (red)













