
NUSRAMEDIA.COM — Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kembali digelar di Kabupaten Sumbawa dengan melibatkan ratusan pelajar dan pemuda. Sarasehan bertema “Peran Pelajar dan Mahasiswa sebagai Penjaga Nalar Kritis dalam Demokrasi Konstitusional dan Pembangunan Daerah” ini berlangsung di SMKN 1 Plampang, Senin (22/12/2025).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dan MY Institute, sebagai bagian dari upaya penguatan nilai kebangsaan di kalangan generasi muda. Acara dibuka secara khidmat dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, sebagai simbol peneguhan semangat nasionalisme dan cinta tanah air.
Dalam sambutan pembuka, Kepala SMKN 1 Plampang menegaskan bahwa sekolah bukan hanya ruang pembelajaran akademik, tetapi juga wahana pembentukan karakter, etika publik, serta kesadaran konstitusional bagi generasi muda. Menurutnya, pelajar harus dibekali kemampuan berpikir kritis agar mampu menghadapi tantangan demokrasi di era modern.
Sesi utama diisi oleh H. Johan Rosihan, ST, Wakil Ketua Badan Anggaran MPR RI. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar konsep normatif yang dihafalkan, melainkan nilai hidup yang harus diinternalisasi dan diamalkan.
Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) MPR RI tersebut juga mengajak pelajar dan mahasiswa untuk berperan aktif sebagai penggerak perubahan sosial di daerah, sekaligus penjaga nalar kritis dalam kehidupan demokrasi yang berlandaskan konstitusi.
Pemateri kedua, Miftahul Arzak, Direktur MY Institute, mengangkat isu kepemimpinan kritis generasi muda di era digital. Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi anak muda saat ini, seperti banjir informasi, polarisasi opini, serta potensi konflik di media sosial. Menurutnya, nalar kritis dan etika digital menjadi kunci agar pemuda Sumbawa mampu berkontribusi positif bagi pembangunan daerah.
Sementara itu, pemateri ketiga, Supriady dari komunitas sosial dan peduli ekologi Lingkara, mengaitkan nilai kebangsaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap persoalan sampah dan kerusakan alam merupakan wujud nyata pengamalan nilai Pancasila, khususnya dalam mewujudkan keadilan sosial dan keberlanjutan hidup masyarakat Sumbawa.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar batas kebebasan berekspresi dalam koridor konstitusi, langkah konkret pemuda mendorong perubahan sosial, hingga cara bijak menggunakan media sosial agar tidak memicu konflik horizontal. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya minat pelajar dalam memahami isu kebangsaan secara kontekstual.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar para peserta tidak hanya memahami Empat Pilar MPR RI secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui forum ini, pelajar dan pemuda diharapkan tumbuh sebagai generasi yang kritis, berkarakter, serta siap menjadi agen pembangunan dan penjaga demokrasi konstitusional di Kabupaten Sumbawa. (*)













