
Penulis adalah :
Juru Bicara Pemprov sekaligus Kepala Diskominfotik Provinsi NTB-Dr. H. Ahsanul Khalik
NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Sabtu, 21 Maret 2026, menghadirkan suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan.
Ribuan jamaah muslim memadati halaman Kantor Gubernur NTB, larut dalam gema takbir yang menyatukan hati, sekaligus menandai berakhirnya Ramadhan sebagai awal dari perjalanan baru dalam kehidupan.
Namun Idul Fitri sesungguhnya bukan sekedar penutup dari satu bulan ibadah. Ia adalah titik uji, apakah Ramadhan benar-benar meninggalkan jejak dalam cara kita hidup, atau hanya singgah sebagai rutinitas yang berlalu tanpa arah.
Sebab Ramadhan tidak datang untuk dirayakan, tetapi untuk mengubah. Ia melatih manusia menahan lapar, meredam amarah, dan menundukkan keinginan.
Namun lebih dari itu, ia mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: bahwa tidak semua yang mampu dilakukan harus dilakukan, dan tidak semua yang diinginkan harus diwujudkan Dan di sanalah lahir kebijaksanaan.
Nampak indah nan syahdu, di halaman Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat itu, ribuan manusia berdiri dalam satu saf. Mereka datang dari berbagai latar belakang: suku, profesi, bahkan daerah asal yang berbeda.
Namun dalam satu barisan itu, semua perbedaan larut dalam satu arah yang sama menghadap pada Allah Sang Pemilik Kuasa, dalam kesederhanaan yang menyatukan.
Di sana, tidak ada lagi sekat identitas yang dipertentangkan. Yang tersisa hanyalah kebersamaan: bahwa di hadapan Allah, manusia berdiri sejajar, dipersatukan oleh iman dan harapan yang sama.
Pemandangan itu bukan sekedar ritual, tetapi gambaran tentang bagaimana seharusnya kehidupan dibangun.
Pada momentum itulah, Gubernur Nusa Tenggara Barat H. Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi mengandung arah yang dalam: bahwa Ramadhan adalah madrasah kehidupan, dan nilai-nilainya harus terus hidup setelah ia pergi.
Pesan ini, jika dibaca lebih jauh, bukan hanya refleksi keagamaan. Ia adalah fondasi dalam membangun cara pandang, baik sebagai individu, masyarakat, maupun sebagai sebuah daerah.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dalam arti yang lebih luas: menahan ucapan, menahan tindakan, bahkan menahan keinginan yang sebenarnya mampu dilakukan.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan kompetitif, pesan ini menjadi sangat relevan. Sebab banyak persoalan tidak lahir dari kekurangan kemampuan, tetapi dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Manusia sering kali tidak jatuh karena tidak lemah, tetapi karena tidak mampu menahan diri.
Di sinilah Ramadhan memberi arah: bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan bertindak, tetapi pada kemampuan memilih kapan harus bertindak, dan kapan harus menahan diri demi kemaslahatan yang lebih besar.
Dan nilai inilah yang tampak ingin ditanamkan dalam arah pembangunan NTB.
Bahwa membangun daerah tidak hanya soal mempercepat pembangunan, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan. Tidak hanya tentang capaian, tetapi tentang kebermanfaatan. Tidak hanya tentang kekuatan, tetapi tentang kepedulian.
Ramadhan juga mengajarkan berbagi melalui zakat, sebuah pengingat bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Bahwa di balik setiap kemampuan, ada tanggung jawab sosial. Bahwa kesejahteraan tidak hanya untuk dirasakan, tetapi untuk dibagikan.
Dari sinilah lahir kepedulian. Dan dari kepedulian, tumbuh kebersamaan. Namun kebersamaan bukanlah sesuatu yang lahir dari seruan, melainkan dari praktik.
Ia tumbuh dari hal-hal sederhana: dari kesediaan untuk saling memahami, dari kepekaan untuk melihat kebutuhan orang lain, dan dari ketulusan untuk hadir bagi sesama.
Maka ketika Gubernur Iqbal mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan solidaritas sosial, sejatinya yang sedang dibangun adalah fondasi sosial yang paling mendasar bagi masa depan NTB.
Bahwa NTB bukan hanya wilayah administratif, tetapi ruang hidup bersama. Bahwa pembangunan tidak cukup hanya ditopang oleh kebijakan, tetapi harus ditopang oleh hubungan sosial yang sehat.
Dan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari rasa, yaitu rasa aman, rasa memiliki, dan rasa saling peduli. Ramadhan telah pergi, tetapi ia meninggalkan arah. Jika ia hanya tinggal dalam ibadah, maka ia akan hilang tanpa bekas.
Namun jika ia hidup dalam kepedulian, maka ia akan menjadi jalan perubahan. Sebab Idul Fitri bukan akhir, melainkan awal langkah dalam membangun bersama, dengan hati yang sama.
Dalam konteks NTB, arah ini menjadi penting. Sebab daerah tidak hanya dibangun oleh program, tetapi oleh manusia yang menghidupkannya. Dan manusia hanya bisa bergerak bersama jika ada kepercayaan. Di sinilah kepemimpinan diuji, bukan hanya pada kemampuan merancang, tetapi pada kemampuan menumbuhkan nilai.
Pesan Idul Fitri yang disampaikan Gubernur Iqbal menunjukkan bahwa pembangunan NTB tidak semata dipahami sebagai proyek fisik, tetapi sebagai proses kemanusiaan. Sebuah upaya menghadirkan kesejahteraan yang tidak hanya terlihat, tetapi juga terasa.
Pada akhirnya, Idul Fitri bukan hanya momentum untuk kembali kepada fitrah secara pribadi, tetapi juga panggilan untuk membangun kesadaran bersama. Bahwa kita tidak bisa berjalan sendiri.
Bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
Dan bahwa jalan menuju NTB yang makmur dan mendunia hanya akan terbuka jika ia dilalui bersama, dengan hati yang saling terhubung, dengan kepedulian yang tumbuh, dan dengan ketulusan yang dijaga. Bukan hanya dengan rencana, tetapi dengan jiwa. (*)













