
Penulis adalah :
H. Sambirang Ahmadi, M.Si-Ketua Komisi III DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat
NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Idul Fitri sering dipahami sebagai momentum kemenangan—selesainya satu bulan penuh perjuangan menahan diri. Namun dalam perspektif yang lebih dalam, Idul Fitri bukan sekadar akhir dari Ramadhan, melainkan awal dari kesadaran baru: kesadaran untuk kembali kepada fitrah.
Fitrah, dalam makna terdalamnya, bukan hanya kondisi “bersih dari dosa”. Ia adalah keadaan asli manusia yang selaras dengan Yang Ilahi—keadaan ketika manusia mengenal dirinya, mengetahui asal-usulnya, dan memahami tujuan hidupnya.
Inilah wilayah yang disebut Seyyed Hossein Nasr sebagai scientia sacra: pengetahuan suci yang tidak hanya diketahui, tetapi juga dihayati. Ramadhan sesungguhnya adalah proses penyucian. Ia membersihkan lapisan-lapisan yang menutupi hati: kesibukan, ambisi, ego, dan keterikatan berlebihan pada dunia.
Puasa menahan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga menahan dominasi diri yang sering membuat manusia lupa siapa dirinya. Ketika Idul Fitri tiba, yang dirayakan bukan semata keberhasilan menahan diri, tetapi terbukanya kembali jalan menuju pengetahuan yang suci.
Manusia kembali pada kondisi di mana ia lebih jernih dalam melihat, lebih halus dalam merasakan, dan lebih dekat dalam menyadari kehadiran Tuhan. Dalam perspektif scientia sacra, pengetahuan sejati bukan sekadar informasi atau logika.
Ia adalah cahaya yang menerangi eksistensi. Ia membuat manusia tidak hanya “tahu”, tetapi juga “menjadi”. Maka Idul Fitri adalah momentum ketika pengetahuan semacam ini kembali hidup dalam diri manusia—meski seringkali hanya sekejap.
Namun, hikmah Idul Fitri tidak berhenti pada relasi manusia dengan Tuhan. Ia juga menyentuh relasi manusia dengan sesama dan dengan alam. Tradisi saling memaafkan mengajarkan bahwa manusia tidak bisa kembali kepada Tuhan tanpa terlebih dahulu memperbaiki hubungan dengan manusia lain.
Dendam, iri, dan luka batin adalah penghalang spiritual yang sama beratnya dengan dosa-dosa lahiriah. Maka Idul Fitri adalah rekonsiliasi: dengan sesama, dengan diri sendiri, dan dengan masa lalu.
Lebih jauh lagi, Idul Fitri juga dapat dibaca sebagai momentum kembali kepada harmoni dengan alam. Selama Ramadhan, manusia dilatih untuk hidup sederhana, mengurangi konsumsi, dan menahan eksploitasi diri.
Dalam bahasa yang lebih luas, ini adalah latihan untuk keluar dari pola hidup yang eksploitatif terhadap alam. Dalam konsepsi scientia sacra, alam bukan sekadar objek yang bisa dimanfaatkan tanpa batas.
Ia adalah bagian dari tatanan kosmik yang memantulkan tanda-tanda Ilahi. Ketika manusia kembali kepada fitrah, ia tidak hanya berdamai dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga dengan alam—menghormati keseimbangannya, menjaga ritmenya, dan tidak melampaui batas.
Namun di sinilah tantangan terbesar muncul. Dalam kehidupan modern, Idul Fitri sering direduksi menjadi perayaan seremonial: pakaian baru, hidangan berlimpah, dan perjalanan panjang yang melelahkan.
Nilai spiritualnya kerap tertutup oleh rutinitas dan konsumsi. Padahal, dalam makna terdalamnya, Idul Fitri adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita benar-benar telah kembali?
Kembali bukan hanya secara ritual, tetapi secara eksistensial. Kembali bukan hanya ke tradisi, tetapi ke kesadaran. Kembali bukan hanya ke rumah, tetapi ke pusat diri—tempat di mana manusia terhubung dengan Yang Suci.
Dalam perspektif scientia sacra, seluruh perjalanan ini adalah proses “mengingat kembali”. Mengingat bahwa manusia berasal dari Yang Mutlak dan akan kembali kepada-Nya. Mengingat bahwa hidup bukan sekadar rangkaian aktivitas, tetapi perjalanan menuju makna.
Maka, hikmah Idul Fitri bukan terletak pada kemeriahan perayaannya, tetapi pada kedalaman kesadarannya. Sejauh mana manusia mampu membawa kembali cahaya Ramadhan ke dalam kehidupannya setelah hari raya berlalu.
Jika kesadaran itu tetap terjaga, maka Idul Fitri tidak berhenti pada satu hari. Ia menjadi awal dari kehidupan yang lebih selaras—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.
Dan di situlah scientia sacra menemukan maknanya: sebagai pengetahuan yang tidak hanya menerangi pikiran, tetapi juga membebaskan dan menuntun manusia kembali kepada asalnya. (*)













