Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat di Masjid Jami' Praya. Kepala Dinas Kominfotik NTB, Ahsanul Khalik. (Ist)

Penulis adalah : Dr. H. Ahsanul Khalik – Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB

NUSRAMEDIA.COM — Peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Jumat malam (6/3/2026) di Masjid Jami’ Praya bukan sekadar seremoni keagamaan. Momentum ini menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat menuntun kehidupan sosial sekaligus arah pembangunan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal—yang akrab disapa Miq Iqbal—menyampaikan pesan penting tentang masa depan Nusa Tenggara Barat. Ia mengajak masyarakat untuk menjaga tradisi toleransi yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat Lombok, sekaligus memaparkan berbagai ikhtiar pembangunan yang tengah dan akan dilakukan pemerintah daerah.

Nuzulul Qur’an selalu menghadirkan ruang perenungan mendalam bagi umat Islam. Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekadar catatan sejarah spiritual, tetapi pengingat bahwa Al-Qur’an hadir untuk membimbing manusia membangun kehidupan yang berkeadaban—kehidupan yang dipenuhi kedamaian, keadilan, dan tanggung jawab terhadap masa depan.

Pesan itulah yang kembali bergema di Masjid Jami’ Praya malam itu.

Di hadapan jamaah, Miq Iqbal mengajak masyarakat membaca kembali kekuatan sosial yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Lombok: toleransi dan kebersamaan. Masjid Jami’ Praya berdiri dalam ruang sosial yang unik. Di belakangnya terdapat kawasan Peken Laek, yang sejak lama menjadi tempat tinggal masyarakat Tionghoa.

Kedekatan ruang antara masjid dan kawasan pecinan tersebut bukan sekadar fakta geografis, melainkan simbol harmoni sosial yang telah tumbuh lama dalam kehidupan masyarakat Lombok. Di ruang sosial seperti itulah masyarakat Lombok belajar bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kenyataan yang harus dirawat dengan saling menghormati.

Baca Juga:  Pemkab Sumbawa Berikan Tenggat LPJ Dana Desa

Refleksi ini menjadi semakin bermakna ketika Miq Iqbal mengenang peristiwa kerusuhan sosial tahun 1998 yang sempat mengguncang banyak daerah di Indonesia. Dalam situasi nasional yang penuh ketegangan saat itu, masyarakat Lombok justru menunjukkan sikap yang berbeda. Tidak ada luka mendalam yang ditinggalkan oleh kebencian. Masyarakat memilih menjaga satu sama lain.

Sikap tersebut sejatinya sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang menempatkan persaudaraan sebagai fondasi kehidupan sosial. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10). Dalam perspektif Islam, iman tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kemampuan menjaga kedamaian dan merawat persatuan di tengah perbedaan.

Nilai-nilai semacam ini bukan hal baru bagi masyarakat NTB. Tradisi Islam Sasak sejak lama dikenal sebagai tradisi yang memadukan religiusitas yang kuat dengan sikap sosial yang terbuka. Para ulama Lombok sejak masa lalu mengajarkan bahwa keberagamaan tidak boleh melahirkan permusuhan, melainkan harus menjadi sumber kedamaian dan kebijaksanaan dalam kehidupan bersama.

Namun pesan Nuzulul Qur’an tidak berhenti pada hubungan sosial semata. Al-Qur’an juga mengajarkan manusia untuk berpikir, bekerja, dan mengelola bumi dengan penuh amanah. Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an mendorong manusia untuk membangun kehidupan yang lebih baik melalui ikhtiar dan kerja keras.

Baca Juga:  Masuki Hari ke-17 Ramadhan, Ketua DPRD Sumbawa Ajak Warga Perbanyak Ibadah dan Kegiatan Positif

Dalam konteks itulah Lombok Tengah hari ini membaca masa depannya sebagai salah satu simpul penting pembangunan Nusa Tenggara Barat. Keberadaan Bandara Internasional Lombok dan kawasan Mandalika membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemerintah daerah mendorong pengembangan Bandara Lombok menjadi hub internasional yang dapat menghubungkan berbagai wilayah di kawasan timur Indonesia hingga negara-negara di sekitar Australia. Bagi Miq Iqbal, konektivitas bukan sekadar persoalan transportasi, melainkan tentang membuka jalan rezeki dan kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam tradisi pemikiran para ulama, pembangunan yang menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat merupakan bagian dari konsep maslahah—yakni upaya menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

Gagasan lain yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan bandara multimoda yang terintegrasi dengan transportasi air melalui pesawat seaplane. Sistem ini diharapkan mampu menghubungkan bandara dengan berbagai kawasan wisata dan pulau-pulau di sekitarnya.

Selain itu, kawasan Mandalika juga diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan pusat data (data center) yang akan memperkuat posisi NTB dalam peta ekonomi digital di kawasan timur Indonesia.

Pada saat yang sama, pemerintah daerah juga tengah mendorong pembangunan jalur strategis yang menghubungkan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat dengan Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Jalur ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh transportasi logistik sekaligus menurunkan biaya distribusi berbagai komoditas masyarakat.

Baca Juga:  Safari Ramadan di Beriri Jarak, Gubernur NTB Ajak Jaga Keseimbangan Sosial dan Lingkungan

Namun pesan penting yang ingin ditegaskan Miq Iqbal bukan semata tentang proyek pembangunan itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak pernah menjadi pekerjaan pemerintah semata. Pembangunan selalu merupakan kerja bersama antara negara dan masyarakat.

Al-Qur’an memberikan pengingat yang sangat jelas mengenai hal ini: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menegaskan bahwa perubahan selalu lahir dari ikhtiar kolektif sebuah masyarakat.

Karena itu, pesan yang lahir dari malam Nuzulul Qur’an di Masjid Jami’ Praya sesungguhnya bukan hanya pesan keagamaan, tetapi juga pesan kebangsaan. Bahwa toleransi sosial yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat NTB harus terus dijaga, dan bahwa pembangunan hanya akan berhasil jika seluruh elemen masyarakat berjalan bersama.

Bandara, jalan, kawasan pariwisata, dan berbagai proyek pembangunan memang penting. Namun yang jauh lebih penting adalah modal sosial masyarakat: kepercayaan, kebersamaan, dan semangat menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Di situlah masa depan Nusa Tenggara Barat sesungguhnya bertumpu. Dari Masjid Jami’ Praya, melalui momentum Nuzulul Qur’an, Miq Iqbal mengingatkan kita bahwa iman harus melahirkan toleransi, toleransi melahirkan persatuan, dan dari persatuan itulah sebuah daerah dapat melangkah menuju masa depan yang lebih maju, damai, dan diridai Allah SWT. (*)