
Penulis adalah : Yahandra Muslimin (Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Sumbawa)
NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Momentum merawat dan membesarkan partai bukanlah peristiwa sesaat. Ia adalah kerja panjang yang menuntut kesadaran kader dari waktu ke waktu. Dalam konteks Golongan Karya, tanggung jawab ini berakar pada sejarah yang panjang dan berlapis.
Golkar tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pergulatan ide dan kebutuhan zaman, terutama pada masa transisi politik Indonesia di sekitar peristiwa 1965 dan awal Orde Baru yang menuntut stabilitas sekaligus penataan ulang kehidupan sosial-politik.
Melalui pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya pada 1964, berbagai unsur Masyarakat seperti buruh, nelayan, petani, cendekiawan, hingga seniman dipersatukan dalam satu gagasan: membangun kekuatan politik berbasis fungsi sosial, bukan semata ideologi.
Dalam kajian politik Indonesia, pendekatan “golongan fungsional” muncul sebagai jawaban atas tajamnya polarisasi pada masa Demokrasi Terpimpin. Ia menjadi jalan tengah yang meredam benturan ide, dengan menekankan peran nyata tiap kelompok dalam pembangunan.
Di sinilah fondasi kultural Golkar terbentuk: inklusif, adaptif, dan berorientasi pada karya. Nilai ini bukan sekadar warisan, tetapi etos yang harus terus dirawat. Namun sejarah tidak hidup dengan sendirinya. Ia bermakna ketika diingat, dipahami, dan dijalankan. Memori kolektif bukan nostalgia, melainkan energi yang menjaga arah dan identitas bersama.
Ketika kader menjauh dari akar sejarahnya, partai berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, jika sejarah dijadikan pijakan, Golkar memiliki daya tahan untuk tetap kokoh di tengah perubahan. Karena itu, Golkar harus terus dijaga sebagai rumah bersama: terbuka, luwes, dan hidup dalam semangat lintas golongan yang melahirkannya.
Menghidupkan kembali ingatan para pendiri bukan romantisme masa lalu, melainkan langkah yang relevan. Di tengah fragmentasi sosial dan kompetisi politik yang semakin cair, kekuatan partai justru terletak pada kemampuannya merajut kebersamaan dan memperbarui ingatan sejarah. Masa lalu bukan untuk diulang, tetapi untuk dipahami agar kesalahan tidak terulang dan nilai baik dapat dilanjutkan.
Dengan modal sejarah yang kuat, tantangan Golkar bukan pada pondasinya melainkan pada konsistensi kader dalam merawat dan menerjemahkannya ke dalam tindakan. Di titik ini, kerja sejarah bertemu dengan kerja kaderisasi: ingatan menjadi arah, dan arah menjadi gerak.
Sejalan dengan itu, pesan Ketua DPD Golkar Sumbawa dalam agenda silaturahmi dan pengenalan struktur periode 2025–2030 menegaskan langkah yang jelas: percepatan dan konsolidasi organisasi, penguatan dukungan politik, serta kesiapan menghadapi dinamika harus dirumuskan dalam strategi yang berakar pada kesadaran sejarah.
Masa lalu bukan sekadar kebanggaan, tetapi sumber arah. Dari sini, kader dituntut bergerak strategis dengan prinsip ATM (amati, tiru, modifikasi): membaca pengalaman sejarah dengan jernih, mengambil pelajaran terbaik, lalu mengolahnya secara kreatif agar tetap relevan dan efektif dalam menjawab tantangan kekinian. (*)













