
NUSRAMEDIA.COM — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Sumbawa diwarnai langkah progresif dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud).
Kepala Dinas Dikbud Sumbawa, Budi Sastrawan, S.IP., M.Si, resmi meluncurkan gerakan bertajuk “Bersama Ayah/Ibu Kami Terlindungi”, sebagai upaya nyata menekan kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Kebijakan ini bukan tanpa dasar. Hasil uji sosiometri di sejumlah SMP menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk penanganan bullying yang lebih mendalam.
Tidak lagi sekedar administratif, pendekatan yang diusung kini menyentuh berbagai sisi, seperti halnya emosional dan hubungan batin antara anak, orang tua, dan sekolah.
■ Dari Data Menuju Sentuhan Hati
Budi Sastrawan menegaskan bahwa pendekatan lama dinilai belum cukup efektif menghadapi kompleksitas persoalan remaja saat ini. Karena itu, gerakan ini diarahkan untuk membangun kembali koneksi emosional dalam keluarga.
“Anak-anak tidak hanya butuh aturan, tapi juga kehadiran dan pemahaman dari orang tua,” ujar Kadis Dikbud Sumbawa yang dikenal santun dan ramah tersebut kepada wartawan.
Melalui program ini, pemerintah daerah ingin menghadirkan ruang aman bagi anak, sekaligus memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama perlindungan.
■ Festival Permainan Rakyat, Mencairkan Sekat
Rangkaian kegiatan akan dimulai pada 29 April 2026 dengan Festival Permainan Rakyat. Dalam kegiatan ini, orang tua dan anak diwajibkan berkolaborasi dalam permainan tradisional seperti Balogo dan Main Hadang.
Kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan strategi untuk membangun kembali komunikasi yang selama ini mulai renggang. Melalui permainan, kehangatan dan kepercayaan diharapkan tumbuh secara alami.
Lebih lanjut, Budi Sastrawan juga menekankan bahwa, kearifan lokal memiliki kekuatan besar dalam menciptakan interaksi sosial yang sehat dan menyenangkan.
■ “Satu Jam Bersama Ayah/Ibu”: Ruang Jujur Tanpa Sekat
Memasuki 30 April, suasana akan berubah lebih emosional melalui program “Satu Jam Bersama Ayah/Ibu di Sekolah”. Dalam sesi ini, ruang kelas disulap menjadi ruang privat.
Dimana nantinya anak-anak bakal diberikan kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan orang tua mereka, tanpa intervensi guru maupun pihak sekolah.
Momen ini diyakini menjadi titik krusial dalam membangun kepercayaan. Orang tua didorong untuk hadir sebagai pendengar aktif, bukan penghakim, sehingga anak merasa didengar dan dihargai.
■ Malam Seribu Cahaya, Simbol Komitmen Bersama
Lebih jauh disampaikan bahwa, pada malam harinya, akan digelar prosesi “Malam Seribu Cahaya” sebagai puncak refleksi. Lampu dipadamkan serentak selama lima menit.
Dalam suasana hening yang hanya diterangi cahaya senter ponsel, orang tua, guru, dan tokoh masyarakat akan membacakan ikrar bersama untuk melindungi anak-anak dari bullying dan pengaruh negatif lainnya.
“Prosesi ini menjadi simbol kuat bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif yang tidak bisa ditunda,” tegas Kadis Dikbud Sumbawa tersebut.
■ Menuju Sekolah yang Memanusiakan Manusia
Menurut Budi Sastrawan, seluruh rangkaian kegiatan akan ditutup dengan upacara bendera serentak pada 2 Mei 2026 di seluruh SD dan SMP se-Kabupaten Sumbawa.
Ia berharap Hardiknas tahun ini menjadi titik balik dunia pendidikan di daerahnya. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pencapaian akademik dan kesehatan psikologis siswa.
“Pendidikan harus memanusiakan manusia. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh empati bagi setiap anak,” demikian tegas Kadis Dikbud Sumbawa itu.
Dengan memadukan pendekatan berbasis data dan sentuhan kemanusiaan, Sumbawa menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari bullying dan lebih berpihak pada tumbuh kembang anak secara utuh. (*)













