Foto : Istimewa. (Ist)

Penulis : Dr. H. Ahsanul Khalik – Kepala Dinas Kominfotik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB

NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Di hadapan Gunung Rinjani, manusia sesungguhnya sedang belajar tentang batas dirinya sendiri. Kabut tipis yang turun di jalur pendakian, dingin yang menggigit menjelang subuh, langkah kaki yang perlahan melemah di tanjakan panjang.

Bahkan hingga sunyi Segara Anak yang memantulkan langit, semuanya seperti mengajarkan satu hal: bahwa tidak semua keindahan lahir dari kemudahan. Karena itu, Rinjani tidak pernah benar-benar hanya tentang puncak.

Ia adalah perjalanan batin

Maka ketika Pemerintah Provinsi NTB, sebagaimana ditegaskan Gubernur Miq Iqbal dalam peresmian Pusat Informasi Geopark Rinjani Terintegrasi, menolak investasi pembangunan kereta gantung senilai Rp6,7 triliun di kawasan Rinjani, keputusan itu layak dipahami lebih dari sekadar kebijakan administratif.

Ia adalah pilihan tentang cara memandang alam: apakah gunung akan dijaga sebagai ruang kehidupan dan warisan ekologis, atau perlahan diubah menjadi komoditas wisata massal yang kehilangan kesunyian dan keasliannya”

Dan dalam konteks itulah, keputusan tersebut patut diapresiasi.

Di tengah arus pembangunan yang sering mengukur kemajuan hanya dari besarnya nilai investasi, keberanian mengatakan “tidak” justru menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh semata-mata tunduk pada logika ekonomi jangka pendek. Ada nilai ekologis, budaya, spiritual, dan keberlanjutan masa depan yang jauh lebih penting untuk dijaga.

Baca Juga:  Tumbuh 13,64 Persen Tapi Dibilang Rapuh: Salah Baca atau Salah Narasi?

Bagi masyarakat Sasak, Rinjani bukan sekedar gunung yang menjulang di utara Pulau Lombok. Ia adalah ruang hidup. Mata air yang mengalir dari lereng-lerengnya menjadi sumber kehidupan masyarakat. Hutan-hutannya menjaga keseimbangan alam pulau kecil ini. Dan di dalam kesadaran budaya masyarakat Sasak, alam tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan dihormati.

Karena itu, mendaki Rinjani sejak lama bukan sekedar aktivitas wisata.

Ada adab yang diwariskan turun-temurun: menjaga ucapan, menghormati alam, tidak berlaku sembarangan, tidak merusak, dan tidak meninggalkan sampah. Gunung dipahami sebagai ruang yang memiliki nilai sakralitas, tempat manusia belajar rendah hati di hadapan kebesaran ciptaan Allah Pemilik Semesta.

Pandangan seperti ini lahir dari cara masyarakat Sasak menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Alam bukan milik manusia sepenuhnya. Manusia hanyalah bagian kecil dari keseimbangan itu sendiri.

Di sinilah persoalan pembangunan kereta gantung menjadi penting untuk dibaca secara lebih dalam.

Pendukung proyek mungkin melihatnya sebagai simbol kemajuan, percepatan akses wisata, dan peluang ekonomi besar. Namun pertanyaannya sederhana: apakah semua bentuk kemajuan harus dibayar dengan hilangnya keaslian?

Pembangunan kereta gantung di kawasan pegunungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembukaan akses, pembangunan tiang penyangga, fasilitas penunjang, jaringan utilitas, hingga mobilitas manusia dalam skala besar. Semua itu berarti intervensi besar terhadap ruang ekologis yang sensitif.

Baca Juga:  Dalam Lima Tahun : Ketimpangan Gender NTB Turun Konsisten, Peran Perempuan Kian Menguat

Pengalaman di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika wisata alam mulai terlalu mudah diakses secara massal, yang pertama kali hilang justru ruh dari tempat itu sendiri. Kesunyian berubah menjadi keramaian. Alam berubah menjadi konsumsi visual. Dan sakralitas perlahan tergeser oleh komersialisasi.

Padahal daya tarik utama Rinjani selama ini justru terletak pada keasliannya. Orang datang bukan hanya untuk melihat pemandangan, tetapi untuk merasakan perjuangan menuju puncak itu.

Tidak ada jalan instan menuju Rinjani

Setiap pendaki harus melewati tanjakan panjang, rasa lelah, keterbatasan tubuh, bahkan keraguan terhadap dirinya sendiri. Dan justru di situlah makna Rinjani bekerja.

Gunung ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun oleh kemudahan yang serba cepat, tetapi oleh proses, kesabaran, dan kemampuan bertahan ketika langkah terasa berat.

Ketika seseorang akhirnya berdiri di puncak Rinjani, yang ia temukan bukan sekedar panorama. Ia menemukan kesadaran bahwa manusia, sebesar apa pun merasa dirinya, tetap kecil di hadapan alam.

Begitu pula Segara Anak

Danau yang tenang di pelukan gunung itu bukan sekedar objek wisata, melainkan ruang perenungan. Banyak orang datang ke sana membawa kelelahan hidup, lalu pulang dengan cara pandang yang berbeda. Sebab Rinjani sejatinya bukan pengalaman konsumsi, melainkan pengalaman transformasi.

Baca Juga:  Dua Kader "Nyebrang" ke PSI, Demokrat NTB Tanggapi Santai : Biasa, Ini Dinamika Politik

Lalu apa yang tersisa jika seluruh proses itu dipersingkat oleh teknologi instan?

Penolakan terhadap proyek kereta gantung bukan berarti anti-investasi atau anti-kemajuan. Justru di situlah letak kedewasaan sebuah kepemimpinan: mampu membedakan antara pembangunan yang berkelanjutan dan pembangunan yang mengorbankan masa depan.

Rinjani adalah kawasan konservasi, bagian dari UNESCO Global Geopark, sekaligus benteng ekologis Pulau Lombok. Jika kawasan seperti ini mulai dibuka dengan pendekatan wisata massal, maka risiko kerusakan ekologis bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal menunggu waktu.

Karena itu, arah pembangunan pariwisata seharusnya bertumpu pada prinsip keberlanjutan: memperkuat eco-tourism, memberdayakan masyarakat lokal, memperbaiki tata kelola pendakian, menjaga kebersihan kawasan, dan memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat sekitar tanpa merusak alamnya.

Pada akhirnya, persoalan Rinjani bukan hanya soal investasi. Ia adalah soal cara manusia memandang kehidupan.

Apakah alam hanya dipahami sebagai sumber keuntungan?

Ataukah sebagai ruang yang harus dihormati dengan adab?

Mungkin di tengah zaman yang semakin tergoda oleh kemudahan dan percepatan, pertanyaan itu menjadi semakin penting.

Sebab ketika gunung kehilangan kesakralannya, ketika alam kehilangan penghormatannya, dan ketika manusia hanya melihat nilai ekonomi dari setiap jengkal ruang hidup, maka yang hilang bukan hanya keaslian Rinjani  tetapi juga kebijaksanaan manusia dalam memahami batas dirinya sendiri. (*)