Sebagai inisiatif untuk mengembangkan potensi desa dan mendorong pembangunan berkelanjutan, Dinas Perindustrian NTB menggelar Pelatihan yang disebut "Desanomic." (Ist)
Sebagai inisiatif untuk mengembangkan potensi desa dan mendorong pembangunan berkelanjutan, Dinas Perindustrian NTB menggelar Pelatihan yang disebut “Desanomic.” (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Sebagai inisiatif untuk mengembangkan potensi desa dan mendorong pembangunan berkelanjutan, Dinas Perindustrian NTB menggelar Pelatihan yang disebut “Desanomic.”

Ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat desa dalam mengelola potensi ekonomi lokal mereka.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti menyampaikan beberapa langkah terkait bagaiamana mengembangkan potensi desa sebagai desa industry ataupun desanomic.

“Langkah yang dapat diimplementasikan untuk pengembangan potensi desa antara lain identifikasi potensi lokal, perencanaan program pelatihan, kolaborasi dengan pihak terkait,” ujarnya.

“Pelaksanaan pelatihan, monitoring dan evaluasi, pemberdayaan masyarakat, pemasaran dan promosi, dan yang terakhir pengembangan infrastruktur pendukung,” sambung Nuryanti, Sabtu (9/12/2023).

Dalam pelatihan tersebut ada beberapa narasumber dari berbagai kalangan seperti pengusaha, akademisi, perwakilan kades hingga pemangku kebijakan.

Baca Juga:  50 Pelaku UMKM Sumbawa Digembleng AI, Strategi Baru Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Pertama, Muhir Ali selaku Direktur CV Rempah Organic Lombok beliau bicara tentang “Menjadi Businessman dan Exportir Berbasis Potensi Desa”.

Menurut dia, ada beberapa kiat-kiat dalam membangun bisnis yang berkemajuan. Yakni mendengar dan mencari informasi, sumber informasi peluang usaha, jalin pertemanan dengan orang yang bisa memberikan informasi tentang dunia usaha.

“Kemudian membuka forum diskusi dengan kerabat terdekat. Ajak mereka menggali potensi, media sosial berselancar di media yang terkait, bermimpi, berpikir, analisa, pertimbangkan, putuskan, dan yang terakhir brainstroming kawan diskusi,” kata Muhir.

Selanjutnya, Zulkarnaen selaku Kepala Desa Semoyang. Ia bicara tentang desa industry dalam perspektif pemerintah desa. “Desa Semoyang ialah salah satu desa penghasil tembakau, melon, pertanian hingga peternakan lainnya,” katanya.

“Berangkat dari desa agraris menuju desa industry itu semua berkat bimbingan dan arahan dari Disperin NTB. Sehingga kami memaknai desa industry adalah desa yang berkemajauan dan pembaharauan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Bank NTB Syariah Gandeng Maybank Indonesia, Perkuat Pembiayaan dan Remitansi PMI NTB

“Tentu itu semua membutuhkan kerja keras yang cukup matang agar bisa terwujud. Melalui Disperin NTB kita optimis bisa membangun desanomic hingga desa industry,” kata Zul lagi.

Sementara itu, Ketua ASASI NTB Teti Zubaidah mempertegas soal peran akademisi dalam pembangunan desa industry. “Peran akademisi dalam pembangunan desa industri sangat penting,” katanya.

“Karena mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung perkembangan ekonomi, sosial, dan lingkungan di tingkat lokal,” lanjutnya.

Sebagai langkah konkret antara lain, ungkap dia, seperti mendampingi para IKM atau kelompok usaha, penelitian dan inovasi, pendidikan dan penelitian hingga pengabdian terhadap masyarakat.

Baca Juga:  Atasi Persoalan Elpiji 3Kg, Sumbawa Kembali Usulkan 46 Ribu Ton Kuota Untuk 2027

“Itu adalah bentuk nyata yang sudah dilakukan oleh ASASI NTB di Sembalun Lombok Timur,” kata Doktor Teti. Pelatihan yang berlangsung pada Sabtu, 9 Desember 2023 di Plaza Hotel Mataram berjalan sesuai yang diharapkan.

Adapun yang turut hadir dalam pelatihan tersebut Kepala Desa Darmaji, Kepala Desa Sembalun Bumbung, Kepala Desa Kekait, Kepala Desa Mamben Baru, Kepala Desa Kalijaga Timur, Kepala Desa Batu Tulis, Kepala Desa Jerowaru, Kepala Desa Semoyang, Tokoh tokoh pemuda, dan Pengusaha.

Sebagai penutup, Kepala Disperin NTB Nuryanti menyampaikan melalui program pelatihan Desanomic diharapkan dapat memberikan kontribusi positif.

Terutama dalam mengembangkan potensi desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menciptakan pembangunan yang berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. (red)