
NUSRAMEDIA.COM — Malam itu, rembulan purnama menggantung di langit Dampek. Udara dingin menyelimuti Pos Pengungsian Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB di halaman SMPN 1 Lamba Leda Utara, Desa Satar Padut, Manggarai Timur.
Namun, suasana yang selama hampir dua pekan dipenuhi aktivitas dapur umum, pelayanan kesehatan dan distribusi bantuan, malam itu berubah menjadi haru.
Satu per satu relawan Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB bersalaman dengan para pengungsi. Pelukan terjadi. Senyum berusaha dipertahankan. Namun mata yang berkaca-kaca sulit menyembunyikan perasaan.
Sebagian pengungsi bahkan tak kuasa menahan isak tangis ketika para relawan menyampaikan bahwa mereka harus kembali ke NTB. “Kami pamit, bukan berarti kami pergi. Hati dan doa kami tetap tinggal di Dampek ini.”
Kalimat sederhana itu menjadi penanda berakhirnya masa tugas lapangan Tim Solidaritas Kemanusiaan NTB di tengah masyarakat terdampak gempa bumi berkekuatan M7,7 di NTT.
Sejak diberangkatkan pada 16 Agustus 2026 oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB, para relawan hadir di sejumlah titik pengungsian untuk memberikan pelayanan kesehatan, dukungan logistik hingga memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak tetap terpenuhi.
Kini, pada 29 Agustus 2026, mereka harus kembali ke NTB. Namun kepulangan itu bukan sekadar perjalanan meninggalkan lokasi bencana. Hampir dua pekan berada di tengah masyarakat telah membangun ikatan yang jauh lebih dalam: sebuah persaudaraan yang lahir dari kepedulian dan ketulusan.
Menyaksikan Langsung Luka Akibat Bencana
Selama berada di lapangan, para relawan menyaksikan dari dekat bagaimana gempa mengubah kehidupan masyarakat. Ada korban dengan patah tulang yang membutuhkan penanganan. Ada warga yang harus mendapatkan perawatan. Ada pula seorang ibu yang harus dirujuk ke Ruteng untuk menjalani operasi caesar.
Di tengah kondisi tersebut, pelayanan kesehatan menjadi salah satu tugas utama tim. Sebanyak 89 relawan kesehatan diterjunkan dalam dua tahap. Tahap pertama berjumlah 53 relawan, sedangkan tahap kedua sebanyak 36 relawan.
Mereka terdiri atas 32 perawat, 28 dokter, enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis serta tenaga pendukung lainnya.
Lebih dari 4.000 pengungsi telah mendapatkan pelayanan dan penanganan kesehatan selama misi kemanusiaan berlangsung. Tetapi kerja kemanusiaan di Dampek tidak berhenti pada pelayanan medis. Di sisi lain posko, dapur umum terus mengepul.
Setiap hari, dapur umum lapangan memasak kebutuhan makanan bagi sekitar 3.000 orang untuk tiga kali makan. Sementara itu, tim penyisir logistik bergerak dari satu titik pengungsian mandiri ke titik lainnya untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.
Di tengah keterbatasan, pekerjaan dilakukan dengan satu keyakinan: tidak boleh ada masyarakat yang merasa sendirian menghadapi bencana.
Pulang, tetapi Pelayanan Tetap Berjalan
Kepulangan para relawan tidak berarti pelayanan kemanusiaan berhenti. Sebelum meninggalkan Dampek, Tim Dapur Umum Lapangan telah menyiapkan dapur umum mandiri yang akan dikelola masyarakat di tiga lokasi.
Masing-masing berada di Kampung Maki, Desa Satar Kampas; Kampung Nanga Lira, Desa Satar Padut; dan Kampung Wae Tua, Desa Golo Mangung.
Dapur umum yang sejak awal berdiri di halaman SMPN 1 Lamba Deda Utara sebagai pos utama pengungsian juga telah dipersiapkan untuk dilanjutkan oleh kelompok masyarakat setempat.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari strategi tim: memastikan bantuan tidak berakhir ketika relawan meninggalkan lokasi.
Mereka datang untuk membantu masyarakat bertahan. Dan sebelum pulang, mereka memastikan masyarakat memiliki ruang dan kemampuan untuk melanjutkan pelayanan secara mandiri.
Pesan dari Lombok untuk NTT
Sejak awal, pesan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menjadi penyulut semangat para relawan: hadir bukan sekadar sebagai petugas, tetapi sebagai saudara. Pesan itu memiliki akar pengalaman yang kuat.
NTB pernah merasakan getirnya bencana dalam skala besar ketika gempa Lombok 2018 mengguncang kehidupan masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa penderitaan masyarakat NTT terasa begitu dekat.
Bagi para relawan, kehadiran di Dampek bukan semata menjalankan tugas. Mereka datang membawa pengalaman, kepedulian dan semangat untuk mengatakan kepada para korban bahwa mereka tidak sendiri. Pesan itu kemudian menemukan maknanya di tengah kehidupan pengungsian.
Dipimpin Chandra Aprinova dan Miftah sebagai koordinator lapangan tim teknis serta Lalu Madahan sebagai koordinator tim kesehatan, para relawan menjalankan tugas dalam suasana yang tidak selalu mudah. Kini, saat harus pulang, perasaan mereka bercampur.
Ada kelegaan melihat masyarakat mulai bangkit. Ada kerinduan kepada keluarga yang menunggu di NTB. Tetapi ada pula kesedihan karena harus meninggalkan orang-orang yang selama hampir dua pekan telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Yang Tertinggal Bukan Hanya Bantuan
Malam kepulangan itu akhirnya tiba. Kendaraan bersiap membawa para relawan meninggalkan Dampek. Tetapi sejatinya, mereka tidak benar-benar pergi. Yang tertinggal di Dampek bukan hanya dapur umum, pelayanan kesehatan dan bantuan logistik.
Ada kenangan. Ada pelukan. Ada air mata. Dan ada persaudaraan yang tumbuh dari ketulusan. Doa-doa pun dipanjatkan dari kejauhan agar masyarakat NTT segera bangkit, anak-anak dapat kembali ke sekolah, roda ekonomi kembali bergerak dan kehidupan perlahan pulih.
NTB hadir di NTT bukan karena diminta, melainkan karena merasa terpanggil. Dari ketulusan pemerintah, para relawan, tenaga kesehatan hingga seluruh tim yang bekerja di lapangan, misi tersebut menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah.
Ketika saudara sedang berduka, jarak bukan alasan untuk tidak hadir. Bagi Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN NTB, gempa M7,7 NTT bukanlah akhir sebuah misi. Justru dari sanalah lahir sebuah persaudaraan baru—persaudaraan anak bangsa yang tidak mengenal sekat suku, agama maupun wilayah.
Duka NTT adalah duka NTB dan Bali. Ketika satu saudara terluka, yang lain datang untuk menguatkan. Mereka pulang membawa langkah, tetapi meninggalkan hati. Sebab di Dampek, air mata telah menjelma menjadi persaudaraan. Dan doa menjadi jembatan yang tak mengenal jarak. (*)













