
NUSRAMEDIA.COM — Saat ini, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah melaksanakan reses untuk menyerap aspirasi masyarakat di daerah pemilihan (dapil) masing-masing.
Kegiatan ini berlangsung selama beberapa hari dan memberikan kesempatan bagi warga untuk menyampaikan keluhan serta harapan mereka kepada wakil rakyat.
Dalam agenda reses yang berlangsung di Desa Sebasang, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, salah satu keluhan menarik datang dari seorang ibu rumah tangga (IRT) bernama Lisa.
Ia curhat kepada Ketua Komisi III DPRD Provinsi NTB, H. Sambirang Ahmadi, S.Ag., M.Si., mengenai kelangkaan gas elpiji 3 kg yang semakin membebani kehidupan sehari-hari.
KELUHAN WARGA (IRT)
Lisa, yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga, mengungkapkan betapa sulitnya mendapatkan gas melon (elpiji 3 kg) belakangan ini. Selain kelangkaan, harga gas yang melonjak tinggi juga semakin membuatnya tertekan.
“Sebagai ibu rumah tangga, kami sangat kesulitan. Gas belakangan ini sangat langka, bahkan harganya juga mahal. Banyak pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa terselesaikan,” keluh Lisa.
Keluhan ini ternyata tidak hanya dialami Lisa, tetapi juga dirasakan oleh banyak ibu rumah tangga lainnya di Desa Sebasang. Mereka pun secara kompak meminta Legislator Udayana itu untuk segera memperhatikan persoalan ini.
TANGGAPAN DPRD NTB
Mendengar keluhan tersebut, H. Sambirang Ahmadi langsung menanggapi dengan serius. Politisi PKS dari Dapil Sumbawa-Sumbawa Barat itu mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan terkait masalah kelangkaan gas melon yang meresahkan masyarakat.
Menurutnya, persoalan ini tidak boleh berlarut-larut, dan pemerintah harus hadir untuk memberikan solusi nyata. “Bila perlu, segera bentuk Satgas, lakukan sidak (inspeksi mendadak) atau menggelar operasi pasar. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dewan NTB Sambirang Ahmadi juga menekankan pentingnya penyelesaian masalah ini sebelum memasuki bulan Ramadan, yang diperkirakan akan memperburuk permintaan gas. “Kita harus tahu apa sebenarnya yang menjadi persoalan di lapangan, sehingga bisa dicari solusi yang tepat,” tambahnya.
Maka dari itu, ia mengusulkan, untuk memastikan distribusi gas tepat sasaran dan harga bisa distabilkan, langkah pembentukan Satgas dan pelaksanaan sidak serta operasi pasar dinilainya efektif dan akan sangat membantu.
REAKSI PEMDES SEBASANG
Pemerintah Desa Sebasang juga angkat bicara terkait masalah kelangkaan gas elpiji ini. Kepala Desa Sebasang, Mulyadin, mengaku bahwa pihaknya sudah berupaya untuk menyikapi keluhan warga dengan mengadakan rapat dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah.
Mulyadin menjelaskan bahwa salah satu penyebab kelangkaan gas melon adalah berkurangnya kuota distribusi gas ke wilayah Sumbawa. “Kami sudah melakukan rapat dengan distributor dan pihak terkait, dan memang ada pengurangan kuota gas di Sumbawa,” ungkapnya.
Sebagai solusi sementara, kata Mulyadin, pihaknya menyarankan agar masyarakat beralih menggunakan gas non-subsidi. Namun, ia juga mengakui bahwa Pemdes tidak bisa berbuat banyak.
Ini dikarenakan keterbatasan anggaran Dana Desa (DD), yang tahun ini mengalami pemotongan signifikan. “Anggaran kami tahun ini terpaksa dikurangi. Dari Rp770 juta, kini hanya tersisa Rp293 juta. Kami tidak bisa berbuat banyak,” katanya.
Meski demikian, Mulyadin menegaskan bahwa Pemdes Sebasang tidak menutup mata terhadap permasalahan ini dan akan terus berusaha mencari solusi terbaik untuk kesejahteraan warga. (*)













