Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal di acara Silahturahim Majelis Ulama dan Umara. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Majelis Silaturahmi Ulama dan Umara yang digelar di halaman tengah Pendopo Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (24/1/2026), berlangsung khidmat dan sarat makna.

Majelis ini menghadirkan semangat persatuan yang kuat antara para masyaikh, tuan guru, dan jajaran pemerintah sebagai fondasi membangun NTB yang makmur dan berdaya saing global.

Rombongan ulama dari Pondok Pesantren Daarul Lugah Wa Dakwah (Dalwa), Jawa Timur, hadir langsung dipimpin Pengasuh Ponpes Dalwa, Abuya Al-Habib Ali Zainal Abidin Baharun.

Dimana didampingi sejumlah pengasuh pesantren, di antaranya Habib Ali Ridho Baharun, serta Direktur Pascasarjana Universitas Islam Internasional Dalwa, Prof. Dr. Ali Zainal Abidin bil Faqih.

Mewakili ulama dan tuan guru NTB, Prof. Masnun Tahir, Rektor UIN Mataram sekaligus Ketua PWNU NTB, menyampaikan sambutan hangat dengan menyebut NTB sebagai “sejengkal tanah surga di bumi.”

Ia menegaskan bahwa silaturahmi antara ulama dan umara bukan sekadar seremoni, melainkan kekuatan moral dan sosial yang mampu menegakkan keadilan serta memperkokoh persatuan umat.

Baca Juga:  Dewan Pendidikan Sumbawa Minta Kebijakan Berkeadilan untuk 1.569 GTT dan PTT

“Ulama dan umara harus terus memperkuat silaturahmi sebagai fondasi dalam mewujudkan kedaulatan, keadilan, dan kemaslahatan bersama,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda NTB memperkenalkan diri di hadapan majelis dan menegaskan komitmen institusinya untuk terus menjaga kedekatan dengan ulama dan masyarakat.

Dia menyinggung arah pembaruan hukum nasional yang kini mengedepankan pendekatan restorative justice, agar penegakan hukum tidak semata bersifat represif, melainkan menghadirkan rasa keadilan dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan rasa hormat dan syukur karena NTB dipercaya menjadi tuan rumah majelis penuh keberkahan tersebut.

Menurut orang nomor satu di Nusa Tenggara Barat tersebut bahwa, pertemuan ini merupakan ruang penting untuk memperkuat ikatan batin antara pemerintah dan para ulama.

“Ini kehormatan besar bagi NTB. Semoga pertemuan ini membawa keberkahan bagi daerah dan masyarakat,” ujar mantan Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Turki tersebut.

Baca Juga:  Tak Sekadar Investasi, DPRD Sumbawa Minta Kejelasan Skema Program Unggas Terintegrasi

Miq Iqbal akrab Gubernur NTB itu disapa juga mengungkapkan kekagumannya terhadap pemikiran Hasan Bangil, yang menurutnya turut memberi pengaruh besar dalam perjalanan intelektual bangsa.

“Saya membaca perdebatan Hasan Bangil dengan Soekarno sejak SMA. Alhamdulillah, hari ini saya bisa bertemu dengan dzurriyat beliau,” ungkap Gubernur NTB yang juga merupakan mantan Juru Bicara (Jubir) Kemenlu ini.

Dalam sambutannya, Miq Iqbal menegaskan NTB sebagai negeri yang diberkahi. Pulau Lombok, katanya, dikenal sebagai “negeri seribu wali” dengan jejak sejarah dakwah dan makam para wali yang tersebar di berbagai wilayah.

Ia kemudian memaparkan tiga agenda besar Pemerintah Provinsi NTB, yakni pengentasan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata kelas dunia.

“NTB masih memiliki 106 desa dengan kategori kemiskinan ekstrem. Kefakiran cenderung membawa pada kekafiran, dan banyak penyakit sosial berawal dari kemiskinan,” katanya

Baca Juga:  Gubernur NTB Dorong Kemandirian Ekonomi Masjid

“Karena itu, pengentasan kemiskinan menjadi ikhtiar utama yang harus kita lakukan bersama,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya peran tuan guru dan masyaikh dalam menggerakkan kesadaran serta partisipasi masyarakat.

Menutup rangkaian sambutan, Abuya Al-Habib Ali Zainal Abidin Baharun menekankan bahwa pertemuan ulama dan umara merupakan kekuatan utama dalam membangun peradaban.

Ia memperkenalkan Ponpes Dalwa sebagai rumah bahasa dan dakwah, seraya menegaskan bahwa bahasa dan ilmu pengetahuan adalah jembatan pemersatu umat.

Majelis Silaturahmi Ulama dan Umara ini menjadi pesan kuat bahwa ketika ulama dan umara berjalan seiring, yang lahir bukan sekadar wacana, melainkan kekuatan nyata untuk mempercepat terwujudnya NTB Makmur Mendunia.

Yakni melalui penguatan sumber daya manusia, penjagaan nilai-nilai keagamaan, perawatan persatuan, serta hadirnya kesejahteraan yang lebih dirasakan masyarakat. (*)