Nampak sosok sang ibu dari relawan lalu lintas di lingkup Kota Mataram, Lalu Ratmaji. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Di tengah deru mesin kendaraan, kepulan debu jalanan, teriknya matahari, dan hujan yang terkadang turun tanpa aba-aba, seorang lelaki berdiri di persimpangan jalan.

Dengan gerakan tangan sederhana, ia berusaha mengatur arus kendaraan, membantu para pengendara, serta menuntun pejalan kaki agar dapat menyeberang dengan aman.

Tak banyak yang mengetahui cerita di balik sosok yang setiap hari berdiri di tengah padatnya lalu lintas itu. Di balik pengabdiannya yang sederhana, tersimpan kisah perjuangan hidup, kehilangan, tanggung jawab, dan cinta seorang anak kepada ibunya yang telah lanjut usia.

Lelaki itu bernama Lalu Ratmaji, yang akrab disapa Ratmaji atau dikenal dengan panggilan Bape Kutim (PM). Ia merupakan perantau asal Dusun Gubuk Kute Timuk, Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Bagi sebagian orang, pekerjaannya mungkin terlihat biasa. Namun, bagi Ratmaji, setiap hari yang ia lalui di persimpangan jalan merupakan bagian dari perjuangan panjang.

Yakni untuk bertahan hidup sekaligus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Sebab, di balik setiap langkahnya menuju tempat kerja, ada seorang ibu berusia 78 tahun yang menjadi alasan dirinya terus bertahan.

Merantau demi Bertahan Hidup, Membawa Harapan dari Kampung Halaman

Pada 2021, Ratmaji memutuskan meninggalkan kampung halamannya di Lombok Timur untuk mengadu nasib ke Kota Mataram. Keputusan itu bukan semata-mata karena ingin pergi jauh, melainkan karena sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Seperti banyak perantau lainnya, Ratmaji datang dengan harapan sederhana memperoleh pekerjaan yang halal, mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup, dan membantu keluarganya.

Di tanah rantau, ia harus menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan. Tidak mudah bagi seseorang yang jauh dari kampung halaman untuk memulai kembali kehidupan, terlebih ketika tanggung jawab keluarga tetap menanti.

Namun, Ratmaji tidak ingin menyerah pada keadaan. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk bekerja sebagai relawan pengatur lalu lintas di pertigaan Indomaret, Jalan Halmahera, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.

Dari pekerjaan sederhana itulah ia berusaha mempertahankan hidup. Bukan demi kemewahan, bukan pula untuk mengejar kehidupan bergelimang harta, melainkan agar tetap bisa mencari nafkah dan menjalankan tanggung jawabnya kepada sang ibu.

Berjalan Kaki Satu Kilometer, Menjemput Rezeki dengan Penuh Ketabahan

Setiap hari, Ratmaji harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari tempat kosnya di Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, menuju lokasi pengabdiannya di kawasan Rembiga, Kota Mataram.

Perjalanan itu mungkin terasa biasa bagi sebagian orang. Namun, ketika harus ditempuh setiap hari demi pekerjaan yang penghasilannya terbatas, setiap langkah memiliki arti tersendiri.

Sesampainya di persimpangan, ia berdiri berjam-jam di tengah lalu lintas yang padat. Panas matahari menyengat kulitnya, debu jalanan menyelimuti tubuhnya, dan hujan terkadang membasahi pakaian yang dikenakannya.

Di tengah situasi tersebut, ia tetap berusaha menjalankan tugasnya. Tangannya bergerak memberi isyarat kepada pengendara. Matanya mengawasi arus kendaraan. Perhatiannya tertuju kepada mereka yang hendak melintas, termasuk pejalan kaki yang membutuhkan bantuan untuk menyeberang.

Mungkin tak semua orang menyadari betapa lelahnya pekerjaan itu. Mungkin pula tak banyak yang bertanya bagaimana kehidupannya setelah meninggalkan persimpangan dan kembali ke tempat kosnya.

Baca Juga:  Memahami Arahan KPK Soal Anomali Pokir DPRD

Namun, bagi Ratmaji, kelelahan bukan alasan untuk berhenti. Selama masih mampu berdiri dan bekerja, ia akan terus berusaha. Sebab, baginya, menyerah bukanlah pilihan yang mudah ketika masih ada seorang ibu yang harus ia pikirkan.

Sejak Sang Ayah Tiada, Tanggung Jawab Itu Berpindah ke Pundaknya

Ada bagian dari kehidupan Ratmaji yang membuat perjuangannya terasa lebih dalam. Sekitar 8 tahun lalu, ia kehilangan sang ayah, sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya.

Sejak saat itu, Ratmaji berusaha mengambil peran untuk menopang kehidupan keluarga dan membantu memenuhi kebutuhan ibunya. Di saat sebagian orang seusianya mungkin masih dapat bersandar pada orang tua, Ratmaji justru harus belajar berdiri lebih kuat.

Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kehilangan bukan hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Ibunya kini telah berusia 78 tahun. Pada usia senja itu, sang ibu membutuhkan perhatian, perawatan, dan dukungan untuk menjalani hari-harinya.

Ratmaji menyadari bahwa sebagai seorang anak, ia memiliki tanggung jawab untuk membantu menafkahi dan merawat perempuan yang telah melahirkannya itu. Di sinilah letak perjuangan yang sesungguhnya.

Ketika tubuhnya lelah setelah berjam-jam berdiri di jalan, pikirannya masih tertuju kepada kebutuhan sang ibu. Ketika ia harus menghadapi kerasnya kehidupan di tanah rantau, ada tanggung jawab keluarga yang membuatnya harus terus melangkah.

Ia mungkin tidak memiliki banyak hal untuk diberikan. Namun, selama masih mampu berusaha, ia ingin memastikan bahwa dirinya tidak berpaling dari tanggung jawab kepada ibunya.

Bagi Ratmaji, berjuang mencari nafkah bukan sekadar tentang bertahan hidup. Itu adalah caranya membalas kasih sayang seorang ibu, meski ia sendiri harus menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Di Persimpangan Rembiga, Ia Membantu Banyak Orang, Meski Hidupnya Sendiri Tak Mudah

Di kawasan pertigaan Indomaret, Jalan Halmahera, Rembiga, kehadiran Ratmaji menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari para pengguna jalan. Ia membantu mengatur kendaraan, berupaya mengurai kepadatan, dan memberi perhatian kepada pejalan kaki yang hendak menyeberang.

Di tengah lalu lintas yang ramai, kehadirannya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang melintasi jalur tersebut. Ia menjalankan pengabdian dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimilikinya. Ada ironi yang menyentuh dari kehidupan seperti ini.

Di saat ia berusaha membantu orang lain agar perjalanan mereka lebih aman dan lancar, ia sendiri harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, menghadapi panas dan hujan, serta memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang ibu.

Ia hadir di tengah masyarakat, tetapi perjuangan pribadinya mungkin tidak selalu terlihat. Ia membantu orang lain melewati persimpangan jalan, sementara dirinya sendiri sedang berjuang melewati persimpangan kehidupan.

Tidak ada yang mengetahui seluruh beban yang dibawanya setiap kali ia berdiri di sana. Yang terlihat hanyalah seorang lelaki yang menjalankan tugasnya. Padahal, di balik gerak tangannya, tersimpan harapan agar esok hari ia masih bisa bekerja, memperoleh penghasilan, dan terus membantu ibunya.

Bukan Meminta Kemewahan, Hanya Berharap Bisa Hidup Lebih Layak

Kisah Ratmaji bukan semata-mata tentang seorang relawan pengatur lalu lintas. Ini juga tentang perjuangan seorang perantau yang mencoba bertahan dengan pekerjaan sederhana, seorang anak yang kehilangan ayahnya, dan seorang putra yang tetap berusaha menjalankan tanggung jawab terhadap ibunya yang telah lanjut usia.

Baca Juga:  Memahami Arahan KPK Soal Anomali Pokir DPRD

Ia tidak harus menjadi orang kaya untuk disebut berhasil. Ia tidak perlu memiliki pekerjaan bergengsi untuk membuktikan bahwa dirinya sedang berjuang.

Terkadang, keberanian terbesar justru terlihat dari seseorang yang bangun setiap pagi, berjalan menuju tempat kerja, menghadapi segala kesulitan, lalu kembali menjalani hari berikutnya tanpa tahu apakah kehidupannya akan menjadi lebih mudah.

Bagi Ratmaji, kesempatan bekerja adalah sesuatu yang patut disyukuri. Namun, seperti masyarakat lainnya, ia juga membutuhkan kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih layak, aman, dan manusiawi.

Perjuangan yang ia jalani mengingatkan kita bahwa di balik pekerjaan sederhana, ada manusia dengan kebutuhan, keluarga, dan harapan yang sama berharganya. Karena itu, kepedulian terhadap Ratmaji bukan hanya soal memberikan bantuan kepada satu orang.

Lebih dari itu, kisahnya dapat menjadi pengingat bahwa para pekerja relawan di jalanan juga layak mendapatkan perhatian, penghargaan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Harapan untuk Masyarakat dan Pemerintah : Jangan Biarkan Perjuangan Ini Berjalan Sendirian

Kisah Lalu Ratmaji layak menjadi perhatian bersama, bukan untuk mengasihani dirinya, melainkan untuk melihat keteguhan seseorang yang terus berusaha di tengah keterbatasan.

Masyarakat dapat menunjukkan kepedulian melalui perhatian, dukungan moral, dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Kepedulian kecil yang diberikan dengan tulus dapat menjadi penguat bagi seseorang yang sedang berjuang menjalani hidup.

Di sisi lain, pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat melihat kisah seperti ini sebagai bagian dari persoalan sosial yang perlu diperhatikan secara nyata.

Jika memenuhi persyaratan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Ratmaji kiranya dapat dipertimbangkan untuk memperoleh akses terhadap program bantuan sosial, perlindungan pekerja, layanan bagi keluarga dengan anggota lanjut usia, atau peluang pekerjaan yang lebih layak dan berkelanjutan.

Perhatian juga dapat diarahkan pada kondisi kerja relawan pengatur lalu lintas di jalan raya, termasuk keselamatan saat bertugas, kejelasan status pengabdian, serta kemungkinan dukungan atau pembinaan dari pihak yang berwenang.

Tentu, bantuan dan program tersebut perlu disesuaikan dengan hasil pendataan serta ketentuan yang berlaku. Namun, setidaknya, kisah ini patut menjadi pintu untuk membuka perhatian dan mencari jalan keluar yang nyata.

Sebab, tidak seharusnya seseorang yang berusaha mencari nafkah secara halal dan menjalankan tanggung jawab keluarga merasa harus menghadapi seluruh kesulitannya seorang diri.

Masyarakat dapat menumbuhkan kepedulian, sementara pemerintah dapat menghadirkan kebijakan dan kesempatan. Ketika keduanya berjalan bersama, harapan untuk hidup lebih layak tidak lagi sekadar menjadi impian.

Di Balik Tangan yang Mengatur Lalu Lintas, Ada Hati Seorang Anak yang Ingin Membahagiakan Ibunya

Bayangkan seorang ibu yang telah berusia 78 tahun. Di usianya yang senja, mungkin harapan terbesarnya bukanlah rumah mewah atau harta berlimpah, melainkan kesehatan, ketenangan, dan kesempatan untuk melihat anaknya menjalani kehidupan dengan baik.

Sementara itu, jauh dari kampung halaman, anaknya berdiri di sebuah persimpangan jalan di Kota Mataram. Ia mengarahkan kendaraan, membantu orang menyeberang, dan bertahan di tengah panas serta hujan. Ia mungkin pulang dengan tubuh lelah, tetapi esok hari ia harus kembali berusaha.

Baca Juga:  Memahami Arahan KPK Soal Anomali Pokir DPRD

Di antara deru kendaraan dan hiruk-pikuk kota, ada harapan sederhana yang terus ia bawa : semoga pekerjaannya hari ini cukup untuk menyambung hidup, semoga ia tetap mampu membantu ibunya, dan semoga suatu hari nanti kehidupannya menjadi lebih baik.

Tidak semua perjuangan terdengar melalui tangisan. Tidak semua kesedihan terlihat dari wajah yang murung. Ada kesedihan yang disimpan dalam diam, ada kelelahan yang tidak diceritakan, dan ada tanggung jawab yang terus dipikul meski tubuh ingin beristirahat.

Mungkin itulah yang membuat kisah Ratmaji begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Ia bukan tokoh besar yang namanya dikenal di mana-mana. Ia hanyalah seorang perantau yang berusaha menjalani hidup sebaik mungkin, dengan pekerjaan sederhana dan tanggung jawab keluarga yang nyata.

Namun, justru dari kehidupan yang sederhana itu, kita dapat belajar tentang ketabahan, pengorbanan, dan arti kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya. Jangan menilai kecilnya perjuangan seseorang hanya dari sederhananya pekerjaan yang ia lakukan. Sebab, di balik pekerjaan yang tampak biasa, bisa tersimpan pengorbanan luar biasa yang tidak pernah kita ketahui.

Sebuah Ajakan untuk Peduli : Semoga Ada Jalan yang Lebih Baik bagi Lalu Ratmaji

Kisah Lalu Ratmaji, semoga tidak berhenti sebagai cerita yang dibaca, membuat hati terenyuh, lalu terlupakan. Semoga kisah ini sampai kepada masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan yang ingin membantu, komunitas sosial, serta pemerintah dan instansi terkait yang memiliki kewenangan untuk membuka kesempatan hidup yang lebih baik.

Bukan untuk menjadikan Ratmaji sebagai objek belas kasihan, melainkan untuk menghargai perjuangannya dan membantu membuka jalan agar ia dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak.

Semoga ada tangan-tangan baik yang tergerak untuk memberikan dukungan. Semoga ada perhatian yang berujung pada solusi nyata. Dan semoga, di tengah kerasnya kehidupan yang harus ia hadapi, Ratmaji tidak kehilangan keyakinan bahwa masih ada orang-orang baik yang peduli.

Sebab, seorang anak yang berusaha menafkahi ibunya di usia senja sedang menjalankan tanggung jawab yang sangat berarti. Perjuangannya pantas dihargai, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan kepedulian nyata.

Dari sebuah persimpangan di Rembiga, semoga lahir kesadaran bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang berjuang dalam diam. Mereka tidak selalu meminta pertolongan, tetapi bukan berarti mereka tidak membutuhkannya.

Dan untuk Lalu Ratmaji, semoga setiap langkah kaki yang ditempuhnya dari tempat kos menuju tempat kerja menjadi langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga setiap peluh yang jatuh menjadi saksi ketabahannya.

Semoga setiap hari yang ia lalui membawa harapan baru. Dan semoga ia diberi kesehatan, kekuatan, serta kesempatan untuk terus merawat dan membahagiakan ibunya. Karena di balik seorang anak yang berjuang tanpa banyak bicara, sering kali ada seorang ibu yang menjadi alasan terbesarnya untuk tidak menyerah.

*** (Penulis : Bobby Maramis) ***