
NUSRAMEDIA, OPINI — Tidak semua manusia berubah karena kebencian. Kadang seseorang berubah hanya karena terlalu lama hidup di tengah lingkungan yang salah. Hati yang awalnya lembut bisa perlahan mengeras.
Lisan yang dahulu terjaga dapat berubah tajam. Dan jiwa yang mulanya mencintai kebaikan, perlahan kehilangan cahayanya tanpa benar-benar menyadarinya. Beginilah manusia.
Ia bukan hanya dibentuk oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh suara-suara yang setiap hari mengelilinginya, oleh pergaulan, percakapan, kebiasaan, lingkungan tempat ia tumbuh, dan waktu yang diam-diam membentuk dirinya.
Sebab hati manusia tidak selalu retak karena luka besar. Kadang ia pecah perlahan oleh hal-hal kecil yang terus diulang. Oleh pertemanan yang membiasakan keburukan.
Oleh lingkungan yang menertawakan dosa.Oleh percakapan yang dipenuhi iri, fitnah, dan kebencian. Atau oleh dunia yang perlahan membuat manusia kehilangan rasa malu terhadap maksiat.
Hari ini kita menyaksikan banyak manusia berubah bukan karena mereka tidak mengenal kebaikan, tetapi karena terlalu lama berada di tengah kebiasaan yang salah.
Yang dahulu santun menjadi kasar.Yang awalnya jujur mulai terbiasa berdusta.Yang dulu menjaga lisan akhirnya ikut mencaci agar diterima dalam lingkungannya sendiri.
Dan yang paling menyedihkan, sering kali seseorang tidak sadar bahwa hatinya sedang berubah. Ia merasa masih menjadi dirinya yang dulu, padahal cahaya dalam jiwanya perlahan mulai meredup.
Rasulullah SAW telah mengingatkan:
“Seseorang itu mengikuti agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia bersahabat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini bukan sekedar nasihat memilih teman, tetapi peringatan bahwa manusia dapat mengambil warna dari lingkungan yang ia cintai.
Sebab jiwa memiliki sifat menyerap.Apa yang sering didengar akan memengaruhi pikiran.Apa yang terus dilihat akan memengaruhi hati. Dan apa yang dibiarkan berulang akhirnya terasa biasa.
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Pergaulan yang buruk lebih cepat merusak hati daripada racun merusak tubuh.”
Betapa banyak manusia baik yang akhirnya kehilangan dirinya sendiri bukan karena tidak tahu jalan pulang, tetapi karena terlalu lama berjalan bersama orang-orang yang salah arah.
Inilah fitnah kehidupan zaman ini.
Ketika keburukan dipertontonkan setiap hari, manusia perlahan kehilangan kepekaan. Fitnah dianggap hiburanKebencian dianggap keberanian.Sindiran dianggap kecerdasan.
Dan dosa yang terus diulang akhirnya tidak lagi terasa menakutkan. Yang paling berbahaya bukan ketika tubuh berada di lingkungan yang buruk, tetapi ketika hati mulai nyaman tinggal di dalamnya.
Karena pada saat itu, manusia tidak lagi merasa sedang menjauh dari cahaya. Ia mulai menganggap gelap sebagai sesuatu yang biasa.
Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap ridha-Nya…” (QS. Al-Kahfi: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa bertahan di tengah lingkungan baik adalah penjaga bagi iman. Sebab manusia membutuhkan lingkaran yang menjaga hatinya tetap hidup.
Tidak semua tempat baik untuk jiwa.Tidak semua kedekatan membawa ketenangan. Ada manusia yang hadir mendekat, tetapi perlahan menjauhkan kita dari Allah.
Mungkin karena itulah para ulama terdahulu sangat berhati-hati menjaga lingkungan hati mereka.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Hati itu lemah, sedangkan pengaruh datang secara halus.”
Lalu bagaimana menjaga diri di tengah keadaan seperti ini?
Pertama, dekatkan hati kepada Allah SWT.
Karena hati yang jauh dari Allah akan mudah dipenuhi suara manusia. Sedangkan hati yang dekat kepada-Nya akan lebih peka membedakan cahaya dan kegelapan.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Kedua, pilih lingkungan yang menjaga iman.Tidak semua pertemanan harus dipertahankan.Tidak semua keramaian layak diikuti.
Rasulullah SAW bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Teman yang baik mungkin tidak selalu banyak berbicara tentang agama, tetapi kehadirannya membuat hati lebih tenang, lisan lebih terjaga, dan langkah lebih dekat kepada Allah.
Ketiga, belajarlah menjaga jarak dari hal-hal yang perlahan merusak jiwa.
Karena tidak semua yang membuat kita nyaman akan membawa keselamatan.Dan tidak semua yang ramai layak dijadikan tempat menetap hati.
Kadang menjaga diri adalah bentuk ibadah yang paling sunyi.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan hati yang bersih di zaman yang penuh pengaruh adalah perjuangan yang tidak ringan.
Sebab sering kali manusia tidak jatuh karena tidak mengenal kebenaran, tetapi karena terlalu lama hidup di tengah kebiasaan yang menyesatkan. Maka jagalah hati itu sebelum ia benar-benar kehilangan cahayanya.
Karena pada akhirnya, yang akan kembali menghadap Allah bukan wajah kita, bukan kedudukan kita, melainkan jiwa yang selama hidup kita rawat dan jaga.
Sebab tidak semua hati yang rusak hancur seketika.Ada yang perlahan gelap, hanya karena terlalu lama jauh dari cahaya.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita tetap hidup di tengah kerasnya dunia, menjaga langkah kita dari bisikan jiwa-jiwa yang gelap, serta mempertemukan kita dengan manusia-manusia yang menumbuhkan iman, ketenangan, dan jalan menuju Ridha-Nya.
Sebab dunia hanyalah perjalanan yang singkat, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal abadi.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
DR. 4K4













