Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Sumbawa, Sutan Syahril. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Sebuah langkah gebrakan, satuan pendidikan di Kabupaten Sumbawa kini didorong menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian budaya dan tradisi daerah.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sumbawa menggagas gerakan kembali ke akar budaya dengan memprioritaskan tiga pilar utama, yakni seni tari, tradisi lisan, dan permainan rakyat.

Kepala Dinas Dikbud Sumbawa, Budi Sastrawan, melalui Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Sumbawa, Sutan Syahril, mengatakan langkah tersebut merupakan strategi edukasi.

Terutama, sambung dia, yakni untuk menjaga kearifan lokal agar tetap hidup di tengah pesatnya arus digitalisasi. Oleh karenanya, upaya ini dinilai menjadi salah satu langkah rill.

Baca Juga:  Salman Alfarizi Serap Beragam Aspirasi

“Langkah ini diambil sebagai strategi edukasi untuk memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah gempuran tren digital,” ujar Sutan Syahril saat ditemui wartawan.

Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran akademik, tetapi juga berperan penting sebagai pusat pelestarian identitas dan karakter daerah.

“Satuan pendidikan kami harapkan mampu mengemas ketiga elemen budaya tersebut secara kreatif, misalnya melalui festival budaya sekolah atau perlombaan antar-kelas,” katanya.

“Dengan menjadikan budaya daerah sebagai bagian dari keseruan di sekolah, siswa akan merasa memiliki dan bangga terhadap kekayaan daerahnya sendiri,” sambungnya.

Baca Juga:  Hadiri Rakornas 2026, Ketua DPRD Sumbawa : Sinergi Pusat dan Daerah Kunci Sukses Pembangunan

Sebagai langkah awal, Dikbud Sumbawa memberikan pembekalan kepada para guru melalui pendampingan langsung oleh praktisi seni dan budayawan.

Materi pembekalan meliputi teknik dasar tari daerah, teknik bercerita dalam tradisi lisan, hingga aturan dan nilai dalam permainan rakyat.

“Dengan pembekalan ini, guru diharapkan mampu menerapkan materi budaya daerah baik dalam mata pelajaran seni budaya, muatan lokal, maupun sebagai bagian dari proyek penguatan profil pelajar,” terangnya.

Ia menambahkan, setelah guru menguasai materi budaya lokal, semangat pelestarian tersebut akan menular secara alami kepada para siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, meskipun tidak seluruhnya tercantum secara eksplisit dalam kurikulum nasional.

Baca Juga:  Fokus Percepatan Implementasi Kebijakan, Bupati Jarot Tegaskan Pembangunan Daerah Sesuai Arah Kebijakan Nasional

“Program ini direncanakan mulai diterapkan pada tahun 2026. Saat ini kami sedang menyiapkan modul pembelajaran agar selaras dengan materi muatan lokal dan seni budaya yang telah direncanakan dalam kurikulum,” katanya.

Melalui implementasi program ini, Dikbud Sumbawa berharap seluruh satuan pendidikan mampu menampilkan kebudayaan lokal pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mendatang.

“Dengan dimulainya program ini, satuan pendidikan diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan identitas daerah,” tutupnya. (*)