
NUSRAMEDIA.COM — Museum Daerah Kabupaten Sumbawa mencatat tren positif dalam angka kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut didominasi oleh kunjungan pelajar dan mahasiswa.
Ini seiring dengan berbagai program inovatif yang digulirkan pihak museum untuk mendekatkan sejarah dan budaya lokal kepada generasi muda.
Kepala Museum Sumbawa, Ivonie Septiyanti, mengungkapkan bahwa animo masyarakat, khususnya dari institusi pendidikan, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Berdasarkan data pengunjung, jumlah kunjungan pada tahun 2024 tercatat mencapai 8.000 orang dan melonjak drastis menjadi sekitar 12.000 pengunjung pada tahun 2025.
“Berdasarkan data dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung terus meningkat. Lonjakan paling terlihat terjadi pada 2025,” ujar Ivonie saat ditemui media ini di ruang kerjanya.
Ivonie menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong tingginya minat pelajar adalah keberadaan program Sabtu Budaya, yang menjadi pintu masuk bagi siswa.
Yakni untuk mengenal lebih dekat sejarah dan budaya tanah Samawa. Selain itu, pihak museum juga aktif melakukan pendekatan langsung ke sekolah-sekolah.
“Awalnya karena ada program Sabtu Budaya. Kami juga rutin bersurat ke sekolah-sekolah serta melakukan sosialisasi melalui program Museum Goes to School,” jelasnya.
Saat ini, kunjungan museum memang masih didominasi oleh kalangan pelajar dengan jumlah yang dapat mencapai ratusan orang per hari. Meski demikian, Ivonie mengakui bahwa kunjungan dari masyarakat umum masih perlu terus ditingkatkan ke depannya.
Museum Sumbawa sendiri mengelola sebanyak 507 koleksi benda bersejarah yang mencakup berbagai kategori, seperti historika, etnografi, hingga arkeologi. Salah satu koleksi unggulan yang sering menarik perhatian pengunjung adalah mimbar asli Masjid Jami’ yang memiliki nilai sejarah tinggi, serta kapak batu peninggalan zaman prasejarah.
Namun, di balik tren positif tersebut, pihak museum masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana. Dari ratusan koleksi yang dimiliki, hanya sebagian kecil yang dapat dipamerkan kepada publik.
“Ruang pamer kami masih sangat terbatas, termasuk jumlah lemari kaca pameran,” ungkap Ivonie. Selain itu, kondisi fisik gedung museum yang merupakan bangunan lama juga mulai mengalami kerusakan, seperti kebocoran atap saat musim hujan.
Menyikapi kondisi tersebut, Ivonie berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya terkait penyediaan gedung museum yang lebih representatif, kokoh, dan luas agar seluruh koleksi dapat terjaga serta ditampilkan secara optimal.
Meski demikian, ia mengakui dukungan pemerintah daerah dari sisi penganggaran mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap. “Awal saya bertugas di sini anggarannya memang sangat terbatas, tetapi perlahan sudah ada peningkatan sedikit demi sedikit,” tutupnya. (*)













