
NUSRAMEDIA.COM — Desa Pulau Bungin, Kabupaten Sumbawa, menjadi salah satu sasaran Program Desa Berdaya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem. Melalui program tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Pulau Bungin mulai menggenjot sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Kepala Desa Pulau Bungin, Jaelani, mengatakan desa yang dikenal sebagai pulau terpadat di dunia itu memiliki potensi wisata yang besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, kunjungan wisatawan tergolong tinggi, tetapi belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi warga.
“Kunjungan ke Pulau Bungin ini luar biasa. Tantangannya sekarang bagaimana wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga membelanjakan uangnya di sini,” ujar Jaelani saat ditemui wartawan di Sumbawa.
Sebagai langkah awal, Pemdes Pulau Bungin menyiapkan sejumlah paket wisata berbasis alam dan aktivitas masyarakat pesisir. Saat air laut pasang, wisatawan akan ditawarkan paket berenang, sementara saat air surut tersedia paket Bekelili atau mencari kerang. Seluruh aktivitas tersebut dilengkapi dengan fasilitas keselamatan seperti pelampung, life jacket, dan sepatu boot.
Jaelani mengakui, kendala utama pengembangan pariwisata di Pulau Bungin saat ini adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Karena itu, melalui Program Desa Berdaya, pihaknya berharap mendapat pendampingan dari Pemerintah Provinsi NTB hingga masyarakat benar-benar mandiri dalam mengelola potensi wisata.
“Harapannya tentu masyarakat bisa lebih sejahtera. Selain dari profesi nelayan dengan kekayaan laut yang kita miliki, sektor pariwisata juga bisa menjadi sumber pemasukan. Dari program desa berdaya ini kami berharap ada pendampingan dari provinsi,” tuturnya.
Selain pengembangan paket wisata, Pulau Bungin juga akan menggelar sejumlah event wisata untuk menarik kunjungan. Salah satunya Bungin Cross, lomba renang sejauh tiga kilometer dari Labuhan Alas menuju Dermaga Pulau Bungin yang dijadwalkan mulai digelar pada Januari. Event ini biasanya diikuti hingga 200 peserta.
Tak hanya itu, lomba dayung perahu tradisional juga akan digelar bersamaan dengan promosi paket wisata dan sentra kuliner. Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan, Dinas Pariwisata, serta DPRD Kabupaten Sumbawa untuk menyukseskan agenda tersebut.
“Persiapan sudah kami lakukan, termasuk pencetakan spanduk. Rencananya launching Bungin Cross akan dirangkaikan dengan sepeda santai dari kantor camat dan finis di Pulau Bungin. Koordinasi dengan kecamatan, Dinas Pariwisata, dan beberapa anggota dewan juga sudah dilakukan,” jelasnya.
Seiring pembangunan dermaga baru, Pemdes Pulau Bungin juga merencanakan pengembangan lapak kuliner. Wisata kuliner menjadi salah satu daya tarik utama Pulau Bungin, termasuk keberadaan restoran terapung yang menyajikan aneka seafood dan ikan bakar yang selalu ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat musim liburan.
“Pulau Bungin ini juga kuat di wisata kuliner. Restoran terapung dengan menu seafood dan ikan bakar itu selalu ramai, apalagi saat libur,” tukasnya. Selain wisata alam dan kuliner, Pulau Bungin juga memiliki daya tarik sejarah, salah satunya kisah Panglima Mayu, panglima perang laut yang menerima bendera kehormatan dari Kesultanan Sumbawa. Situs bersejarah ini kerap dikunjungi wisatawan maupun pejabat daerah.
“Secara sejarah, di sini ada Panglima Mayu yang mendapat bendera kesultanan sebagai panglima perang laut. Itu sering dikunjungi wisatawan, bahkan Penjabat Gubernur NTB Lalu Gita juga sudah dua kali berkunjung ke sana,” tandasnya.
Sebagai informasi, Pulau Bungin dikenal sebagai pulau terpadat di dunia. Dengan luas sekitar 16 hektare, pulau ini dihuni oleh sekitar 3.600 jiwa atau 1.035 kepala keluarga, mayoritas berasal dari Suku Bajo yang menggantungkan hidup dari laut. (*)













