
NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Ada masa dalam hidup ketika dunia terasa begitu ramai, tetapi hati memilih diam untuk menahan lelahnya sendiri. Langkah tetap berjalan, senyum tetap diberikan, sementara di dalam dada ada kegelisahan yang tidak seluruhnya mampu diceritakan kepada manusia.
Kadang kita dipertemukan dengan kehilangan yang tidak pernah disangka.Kadang harapan yang sudah lama dirangkai justru runtuh sebelum sampai. Dan tidak jarang, hidup membawa kita berjalan melewati lorong-lorong ujian yang membuat jiwa belajar tentang sabar, ikhlas, dan menerima.
Di titik itulah seorang hamba mulai memahami bahwa hidup di dunia bukanlah tempat menetap, melainkan perjalanan panjang menuju akhirat yang kekal abadi. Dunia hanyalah persinggahan yang sementara.
Segala yang kita kejar akan tertinggal.Harta akan terpisah, jabatan akan berakhir, pujian manusia akan hilang bersama waktu. Yang tinggal hanyalah amal, do’a, dan jejak kebaikan yang pernah dilakukan karena Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini bukan melarang kita mencintai kehidupan, tetapi mengingatkan agar hati tidak tertipu olehnya. Sebab dunia sering membuat manusia sibuk mempercantik kehidupan yang sementara, namun lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal selamanya.
Betapa banyak manusia yang terlihat kuat di hadapan dunia, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan dirinya sendiri. Mereka memiliki segalanya, tetapi hatinya kosong. Mereka dikelilingi manusia, tetapi jiwanya sepi. Karena sesungguhnya ketenangan tidak lahir dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari dekatnya hati kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan itu hadir ketika seseorang mulai belajar menerima takdir dengan lapang. Belajar memahami bahwa tidak semua yang hilang adalah musibah, dan tidak semua yang tertunda adalah penolakan dari Allah. Ada do’a yang dijawab dengan waktu terbaik. Ada luka yang sengaja Allah hadirkan agar manusia kembali dekat kepada-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya.” (HR. Muslim)
Seorang mukmin memahami bahwa hidup bukan tentang selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tentang bagaimana tetap bersujud meski hati sedang diuji.
Imam Ibnul Qayyim rakhimahullah pernah berkata:
“Di dunia ini ada surga. Barang siapa belum memasukinya, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.”
Ketika ditanya tentang surga dunia itu, beliau menjelaskan: kedekatan hati dengan Allah, ketenangan dalam mengingat-Nya, dan nikmatnya iman di dalam dada. Karena itu, jangan biarkan dunia mengambil seluruh isi hati kita.
Jangan sampai umur habis untuk mengejar yang fana, sementara bekal menuju akhirat begitu sedikit. Sebab pada akhirnya, kita semua akan pulang.Bukan kepada rumah yang megah, bukan kepada harta yang dikumpulkan, tetapi kepada Allah SWT. Dan pada hari itu, tidak ada lagi yang bernilai selain amal saleh dan hati yang bersih.
Allah SWT berfirman:
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Maka jangan terlalu bersedih jika dunia tidak selalu berpihak kepada kita. Selama Allah masih menjaga iman di dalam dada, sesungguhnya kita belum kehilangan apa-apa.
Belajarlah menerima lelah tanpa kehilangan syukur. Belajarlah menangis tanpa kehilangan harapan. Dan belajarlah berjalan di tengah kerasnya dunia tanpa melepaskan tujuan terbesar hidup ini: menggapai ridha Allah SWT.
Karena ridha Allah bukan hanya menenangkan hidup di dunia, tetapi juga menjadi cahaya yang mengantarkan seorang hamba menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Dunia adalah ladang akhirat. Barang siapa menanam kebaikan di dunia, ia akan memanen kebahagiaan di akhirat.”
Mari kita kembali menata hati.Tidak terlalu terpikat oleh dunia yang sementara, dan tidak terlalu larut dalam kesedihan yang fana. Sebab hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki, tetapi siapa yang paling siap ketika kembali menghadap Allah SWT.
Semoga Allah SWT menjadikan hati kita lembut dalam menerima takdir, kuat dalam menjalani ujian, dan istiqamah melangkah menuju ridha-Nya. Semoga setiap lelah menjadi penggugur dosa, setiap air mata menjadi jalan penghapus luka, dan setiap amal kecil menjadi cahaya yang menerangi perjalanan kita menuju akhirat yang kekal abadi. (*)
Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin
Penulis adalah : Dr. H. Ahsanul Khalik atau kerap disapa Doktor Aka (DR. 4K4)












