
Oleh : H. Wirawan (Peserta PKN II Angkatan 13)
NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Pagi ini saya menyaksikan pertandingan final yang luar biasa antara Argentina dan Inggris. Sebuah pertandingan yang penuh drama, adu taktik, dan perubahan strategi. Selesai pertandingan, saya tidak langsung berpikir tentang gol-gol yang tercipta. Yang justru memenuhi pikiran saya adalah cara Lionel Messi memimpin timnya keluar dari tekanan.
Kebetulan, saat ini saya sedang mengikuti Diklat PKN II dengan tema Kepemimpinan Adaptif untuk Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Resilien. Entah kebetulan atau tidak, pertandingan pagi ini seperti memberikan ilustrasi yang sangat hidup tentang bagaimana kepemimpinan adaptif bekerja di lapangan. Bukan dalam bentuk teori, melainkan dalam keputusan-keputusan kecil yang akhirnya mengubah jalannya pertandingan.
Sejak peluit awal dibunyikan hingga sekitar sepuluh menit babak kedua berjalan, Argentina benar-benar berada dalam tekanan. Inggris memainkan high pressing dengan disiplin yang luar biasa. Jalur umpan menuju Messi diputus. Ruang geraknya dipersempit. Setiap kali Argentina mencoba membangun serangan dari bawah, bola nyaris selalu terputus sebelum mencapai area berbahaya.
Akibatnya, babak pertama berjalan sangat sulit bagi Argentina. Mereka bahkan gagal mencatatkan satu pun shot on target. Umpan-umpan progresif menuju jantung pertahanan lawan selalu kandas. Situasi semakin berat ketika pada menit ke-54 Inggris mencetak gol melalui skema serangan balik yang rapi dan mematikan.
Namun justru pada titik itulah kepemimpinan Messi mulai terlihat.
Ia tidak memaksa permainan tetap berjalan seperti rencana semula. Ia tidak terus-menerus meminta bola di ruang yang sudah ditutup rapat oleh lawan. Messi membaca situasi dengan jernih. Ia menyadari bahwa jika tetap bermain dengan cara yang sama, hasilnya kemungkinan juga akan tetap sama.
Maka ia mengubah dirinya.
Messi meninggalkan area 14, wilayah yang selama ini menjadi tempat favoritnya menerima bola. Ia bergerak lebih melebar ke sisi kanan, turun lebih dalam, dan mulai membangun serangan dari sisi lapangan. Perannya pun berubah. Dari seorang finisher menjadi kreator. Dari pencetak gol menjadi penyedia peluang.
Perubahan itu ternyata mengubah segalanya.
Serangan Argentina yang semula mudah dipatahkan tiba-tiba menjadi hidup. Ruang yang sebelumnya tertutup mulai terbuka. Messi berkali-kali mengirim umpan diagonal yang memecah pertahanan Inggris. Sedikitnya lima peluang emas lahir dari kakinya. Dua mengarah kepada Mac Allister, satu kepada González, dan dua lainnya berbuah gol yang membalikkan keadaan. Argentina bangkit, membalikkan ketertinggalan, lalu melaju ke final.
Di situlah saya melihat makna kepemimpinan adaptif.
Dalam literatur kepemimpinan adaptif, Ronald Heifetz menjelaskan bahwa tantangan baru tidak selalu dapat diselesaikan dengan cara-cara lama. Seorang pemimpin dituntut mampu membaca perubahan lingkungan, meninggalkan zona nyaman, lalu menyesuaikan pendekatan tanpa kehilangan tujuan akhirnya.
Persis seperti yang dilakukan Messi.
Tujuannya tidak berubah: Argentina harus menang. Yang berubah hanyalah caranya.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mempertahankan peran. Merasa harus selalu menjadi tokoh utama, pengambil keputusan, atau penyelesai masalah. Padahal seorang pemimpin yang matang justru tahu kapan harus mengubah perannya demi kepentingan tim.
Messi pagi ini mengajarkan bahwa seorang kapten tidak harus selalu mencetak gol agar layak disebut pemimpin. Ada saatnya kepemimpinan justru tampak ketika ia membuat orang lain mampu mencetak gol.
Saya rasa pelajaran ini sangat relevan bagi birokrasi.
Lingkungan strategis berubah begitu cepat. Teknologi berkembang. Ekspektasi masyarakat meningkat. Persoalan publik semakin kompleks. Jika kita menghadapi tantangan baru dengan prosedur, pola pikir, dan cara kerja yang sama seperti bertahun-tahun lalu, jangan heran jika hasilnya juga tidak banyak berubah.
Membangun birokrasi yang resilient bukan berarti mempertahankan cara lama sekuat mungkin. Justru sebaliknya. Resilien lahir dari kemampuan untuk beradaptasi, belajar, dan mengubah pendekatan ketika situasi memang menuntut perubahan.
Pagi ini, pelajaran tentang kepemimpinan adaptif tidak saya temukan di ruang kelas Diklat PKN II. Saya menemukannya di lapangan hijau, dari seorang kapten bernama Lionel Messi. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal mempertahankan peran, melainkan keberanian mengubah peran demi memenangkan tim. (*)













