Berita Resmi Statistik yang dirilis di Aula Tambora, Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Ist)

NUSRAMEDIA.COM — Kinerja ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan penguatan signifikan. Hal ini tercermin dari nilai ekspor yang melonjak 244,23 persen sepanjang Januari–September 2026.

Di tengah capaian tersebut, daya beli petani turut menguat, sementara produksi padi dan jagung diperkirakan meningkat. Perkembangan ini mempertegas kontribusi sektor perdagangan dan pertanian terhadap ketahanan ekonomi daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., mengungkapkan bahwa nilai ekspor NTB selama Januari–September 2026 mencapai US$382,77 juta atau tumbuh 119,36 persen secara tahunan. Data tersebut disampaikan dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis di Aula Tambora, Kantor BPS Provinsi NTB, Senin (2/11/2026).

Ekspor NTB Menguat, Perhiasan dan Permata Mendominasi

Pada September 2026, ekspor NTB didominasi komoditas perhiasan dan permata dengan nilai US$154,59 juta atau berkontribusi sebesar 40,39 persen. Selebihnya berasal dari komoditas buah-buahan, ikan dan udang, serta kendaraan dan bagiannya.

Dari sisi negara tujuan, Swiss menjadi pasar utama ekspor NTB dengan kontribusi 26,68 persen. Posisi berikutnya ditempati Uni Emirat Arab sebesar 18,84 persen, Thailand 12,67 persen, Hong Kong 11,72 persen, dan Tiongkok 11,12 persen.

Komposisi tersebut memperlihatkan peran sejumlah pasar internasional dalam menopang perdagangan luar negeri NTB.

Berbeda dengan ekspor, nilai impor NTB sepanjang Januari–September 2026 tercatat sebesar US$8,90 juta, dengan komoditas utama berupa karet dan barang dari karet, mesin dan peralatan mekanis, serta sejumlah produk industri lainnya.

Baca Juga:  Bapenda NTB Rekonsiliasi Opsen PKB dan BBNKB Kota Mataram, Bahas Pendanaan Sinergitas

Nilai Tukar Petani Tembus 130,66, Seluruh Subsektor di Atas 100

Penguatan ekonomi NTB juga terlihat dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Oktober 2026 mencapai 130,66 atau meningkat 1,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang meningkat 1,45 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,12 persen.

Seluruh subsektor pertanian mencatat NTP di atas 100. Subsektor hortikultura mencatat indeks tertinggi sebesar 182,32, diikuti tanaman pangan 129,29, peternakan 117,50, perikanan 112,20, dan perkebunan rakyat 112,63. Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) mencapai 134,41 atau meningkat 1,28 persen.

NTP merupakan indikator yang menggambarkan perbandingan daya tukar antara produk yang dihasilkan petani dan barang maupun jasa yang dikonsumsi serta digunakan dalam kegiatan produksinya. Peningkatan NTP menunjukkan perbaikan posisi tukar petani secara relatif, meskipun belum serta-merta menggambarkan tingkat kesejahteraan seluruh petani secara merata.

Produksi Padi dan Jagung Diproyeksikan Meningkat

Perkembangan positif juga terlihat pada produksi pangan. Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 326,67 ribu hektare, meningkat 1,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Perkuat Tenun Khas Sumbawa, Dekranasda Konsultasikan Pewarna Alam dan Inovasi Kulit Jagung ke BRIDA NTB

Produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) diproyeksikan mencapai 1,73 juta ton, tumbuh 1,08 persen atau bertambah sekitar 18,52 ribu ton. Sementara produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan mencapai 983,69 ribu ton.

Untuk komoditas jagung, luas panen diperkirakan mencapai 180,76 ribu hektare atau meningkat 4,43 persen. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diproyeksikan sebesar 1,25 juta ton, naik 6,26 persen atau sekitar 73,61 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, BPS mengingatkan bahwa perkembangan produksi pada periode berikutnya tetap perlu dicermati, terutama dengan adanya potensi dampak fenomena El Niño terhadap kondisi pertanian.

Karena itu, peningkatan produksi pada periode awal tahun perlu diikuti upaya menjaga produktivitas dan stabilitas produksi pada periode selanjutnya.

Deflasi Oktober 2026 Tercatat 0,56 Persen

Sementara itu, perkembangan harga pada Oktober 2026 menunjukkan deflasi sebesar 0,56 persen secara bulanan. Meski demikian, inflasi tahunan NTB tercatat sebesar 3,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,63. Secara tahun kalender, inflasi mencapai 2,15 persen.

Deflasi bulanan terutama dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, antara lain ikan layang, ikan tongkol, cumi-cumi, udang basah, dan daging ayam ras.

Penurunan harga juga terjadi pada bawang merah, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan. Sebaliknya, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, seperti cabai merah, kubis, tomat, air minum kemasan, dan sepeda motor.

Baca Juga:  Dekatkan Pelayanan Kesamsatan, Bapenda NTB Kaji Pengembangan Samsat Pembantu Sepapan

Kunjungan Wisatawan dan Tingkat Hunian Hotel Mengalami Penurunan

Pada sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada September 2026 tercatat sebesar 44,86 persen, turun 6,93 poin dibandingkan Agustus. TPK hotel nonbintang juga mengalami penurunan menjadi 31,17 persen atau turun 0,87 poin secara bulanan.

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid tercatat sebanyak 7.657 orang, turun 18,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.294.580 perjalanan. Angka tersebut turun 4,53 persen secara bulanan, tetapi masih tumbuh 1,99 persen dibandingkan September 2025.

Penurunan sejumlah indikator pariwisata dan transportasi pada September perlu dibaca dalam konteks dinamika mobilitas masyarakat serta pergerakan kunjungan setelah periode puncak perjalanan pada bulan sebelumnya.

Penguatan Perdagangan dan Pertanian Jadi Modal Ketahanan Ekonomi NTB

Secara keseluruhan, perkembangan indikator BPS Oktober 2026 memperlihatkan penguatan pada sektor perdagangan dan pertanian, disertai dinamika pada harga, pariwisata, dan mobilitas masyarakat.

Capaian ini menjadi pijakan penting bagi NTB untuk menjaga momentum pertumbuhan, memperkuat daya beli masyarakat, serta meningkatkan ketahanan ekonomi dan pangan secara berkelanjutan. (*)