
NUSRAMEDIA.COM — Anggota Komisi IV DPR RI H. Johan Rosihan menyerahkan bantuan usaha ekonomi produktif kepada tiga kelompok binaan Taman Nasional Tambora, yakni DC Offroad, Sanggar Offroad, dan Dharmapala, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Penyerahan bantuan yang berlangsung di Kantor Balai Taman Nasional Tambora tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan warga di sekitar kawasan konservasi.
Selain bantuan usaha ekonomi produktif, Legislator PKS Senayan asal Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa itu juga menyerahkan bantuan peningkatan sarana dan prasarana penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada stakeholder Taman Nasional Gunung Tambora dan Manggala Agni.
Bantuan tersebut terdiri atas 10 unit trail offroad, tujuh paket pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), tujuh paket blower, tiga set drone termal, serta satu unit mobil operasional.
Perkuat Ekonomi Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi
Dia menegaskan, kelestarian hutan membutuhkan dukungan masyarakat yang sejahtera. Karena itu, pengelolaan kawasan konservasi harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
“Hutan yang lestari membutuhkan masyarakat yang sejahtera. Dan masyarakat yang sejahtera akan menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian hutan,” kata Johan Rosihan.
Menurutnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga kawasan, melindungi keanekaragaman hayati, dan mencegah kebakaran hutan, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan taman nasional memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan konservasi juga harus dapat dirasakan melalui meningkatnya pendapatan keluarga, terbukanya kesempatan berusaha, dan tumbuhnya kemandirian ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Bantuan Produktif Diharapkan Lahirkan Usaha Mandiri
Johan Rosihan berharap bantuan usaha ekonomi produktif yang diterima kelompok DC Offroad, Sanggar Offroad, dan Dharmapala dapat dikelola secara tertib, transparan, dan berkelanjutan.
Bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dukungan awal, tetapi berkembang menjadi usaha yang mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok dan membuka peluang ekonomi baru.
Ia juga meminta Balai Taman Nasional Tambora terus memberikan pendampingan kepada kelompok penerima bantuan, terutama dalam penguatan keterampilan, manajemen usaha, peningkatan kualitas produk, dan akses pasar.
“Kelompok binaan jangan berhenti sebagai penerima bantuan, tetapi harus tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri dan memiliki daya saing,” katanya.
Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Karhutla
Terkait bantuan sarana dan prasarana penanganan karhutla, Johan menilai dukungan tersebut penting untuk memperkuat kesiapsiagaan stakeholder dalam menghadapi ancaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Gunung Tambora.
Peralatan berupa trail offroad, blower, drone termal, paket P3K, dan mobil operasional diharapkan dapat mendukung mobilitas, pemantauan, serta respons cepat dalam penanganan karhutla.
“Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman kebakaran hutan yang terus kita hadapi, keterlibatan masyarakat dan stakeholder menjadi semakin penting,” ujar Johan.
Masyarakat sebagai Mitra Utama Pelestarian Hutan
Johan menambahkan, masyarakat sekitar kawasan konservasi harus ditempatkan sebagai mitra utama dalam menjaga hutan. Menurutnya, masyarakat yang merasakan manfaat dari kelestarian alam akan memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab yang lebih kuat terhadap kawasan.
“Investasi untuk pemberdayaan masyarakat sesungguhnya juga merupakan investasi untuk masa depan konservasi,” katanya.
Johan berharap bantuan yang diserahkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan usaha kelompok sekaligus memperkuat upaya perlindungan Taman Nasional Gunung Tambora.
“Tambora harus kita jaga sebagai warisan alam, sekaligus kita kembangkan sebagai sumber kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)













